Khazanah
Al Fina

Semakin Menegangkan, Semakin Dicari? Ini yang Membuat Film Horor Punya Banyak Penggemar

Semakin Menegangkan, Semakin Dicari? Ini yang Membuat Film Horor Punya Banyak Penggemar

06 November 2026 | 22:45

KebonCinta.com Film horor seolah tidak pernah kehilangan tempat di hati penonton Indonesia. Cerita tentang pocong, kuntilanak, makhluk gaib, hingga rumah kosong yang menyimpan kisah misterius terus hadir dalam berbagai produksi layar lebar.

Menariknya, ketertarikan masyarakat terhadap genre ini bukan sekadar karena ingin merasakan sensasi takut. Ada hubungan yang lebih panjang antara popularitas film horor dan kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia.

Guru Besar sekaligus Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agus Suwignyo, menjelaskan bahwa kegemaran masyarakat terhadap cerita mistis telah terbentuk sejak lama. Kisah tentang makhluk gaib bahkan menjadi bagian dari pengetahuan dan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.

Baca Juga: Cara Cek Bantuan Papan Interaktif Digital 2026 untuk PAUD dan SD, Begini Panduan Melihat Status Sekolah 

Kedekatan budaya inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan cerita mistis mudah diterima ketika diangkat ke layar lebar.

1. Cerita Mistis Sudah Dekat dengan Kehidupan Masyarakat

Bagi masyarakat Indonesia, kisah tentang makhluk gaib bukan sesuatu yang sepenuhnya asing. Cerita mengenai pohon angker, mata air yang dijaga makhluk halus, hingga tempat-tempat yang dianggap keramat telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurut Agus, kepercayaan semacam itu memiliki fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat tradisional. Cerita mistis dapat membentuk batasan perilaku, termasuk dalam menjaga lingkungan dan menghormati tempat tertentu.

Misalnya, masyarakat tidak berani menebang pohon yang dipercaya menjadi tempat tinggal makhluk gaib. Begitu pula dengan mata air yang dianggap memiliki penjaga spiritual.

Kedekatan cerita tersebut dengan kehidupan sehari-hari membuat kisah mistis memiliki ruang tersendiri dalam imajinasi masyarakat. Ketika diadaptasi menjadi film, penonton pun lebih mudah mengenali latar, tokoh, dan suasana yang dihadirkan.

2. Sensasi Takut Justru Menjadi Daya Tarik Hiburan

Selain faktor budaya, popularitas film horor juga berkaitan dengan aspek psikologis manusia.

Rasa takut yang muncul ketika menonton adegan menyeramkan justru dapat memberikan pengalaman hiburan tersendiri. Penonton diajak merasakan ketegangan melalui suara, suasana gelap, kemunculan sosok misterius, hingga kejutan yang tidak terduga.

Menariknya, pengalaman tersebut berlangsung dalam situasi yang relatif aman karena penonton mengetahui bahwa peristiwa yang disaksikan merupakan bagian dari cerita fiksi.

Agus menilai masyarakat memang memiliki ketertarikan terhadap hiburan yang menghadirkan ketegangan. Hal ini kemudian menjadi peluang bagi industri perfilman untuk mengembangkan cerita horor.

"Industri itu memotret potensi pasar. Artinya, ada realitas sosial. Masyarakat memang menyukai adanya ketegangan dalam suatu hiburan dan mereka lekat dengan cerita-cerita tersebut," paparnya.

Dengan demikian, film horor tidak hanya memanfaatkan cerita menyeramkan, tetapi juga mengolah kebutuhan penonton terhadap pengalaman emosional yang berbeda dari hiburan lainnya.

3. Wajah Film Horor Indonesia Terus Berubah Mengikuti Zaman

Meski sama-sama mengangkat tema mistis, film horor Indonesia mengalami perubahan karakter dari masa ke masa.

Pada era 1970-an hingga 1980-an, film horor kerap menampilkan unsur sensualitas melalui penggambaran sosok hantu perempuan. Unsur tersebut menjadi salah satu ciri yang menonjol dalam sejumlah produksi horor pada periode tersebut.

Memasuki era 1990-an, cerita horor mulai mengalami pergeseran. Latar perkotaan dan kehidupan modern semakin banyak digunakan sebagai bagian dari pengembangan cerita.

Dalam perkembangannya, unsur religius juga mulai mendapat tempat. Kehadiran tokoh agamawan dan persoalan spiritual menjadi bagian dari narasi yang diangkat dalam sejumlah film horor.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa industri perfilman tidak berdiri sendiri. Cerita yang ditampilkan ikut menyesuaikan perkembangan masyarakat, selera penonton, dan peluang pasar.

4.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
film horor

Komentar Pengguna