KEBONCINTA.COM – Persoalan gizi peserta didik kembali mendapat perhatian setelah penelitian terbaru mengungkap adanya kesenjangan asupan berbagai zat gizi mikro pada anak usia sekolah di Indonesia.
Studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition atau SEAMEO RECFON menemukan kesenjangan asupan folat pada murid berusia 7 hingga 18 tahun mencapai 100 persen.
Selain folat, kesenjangan asupan kalsium tercatat mencapai 78 persen dan vitamin A sebesar 25 persen.
Penelitian juga menemukan adanya kekurangan asupan vitamin C dan zinc pada peserta didik.
Temuan tersebut diperoleh melalui penelitian terhadap 4.219 murid yang tersebar di 12 kabupaten dan kota pada 12 provinsi di Indonesia.
Peneliti menggunakan perangkat analisis WHO Optifood untuk menyusun gambaran kebutuhan serta kecukupan zat gizi peserta.
Hasil penelitian kemudian disampaikan melalui tiga lembar kebijakan atau policy brief dalam Pertemuan Dewan Pembina SEAMEO RECFON ke-16 di Jakarta.
Temuan mengenai kecukupan zat gizi memiliki hubungan erat dengan dunia pendidikan.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Suharti, menekankan bahwa kondisi gizi peserta didik merupakan salah satu fondasi penting agar proses belajar dapat berlangsung secara optimal.
Sekolah yang memiliki fasilitas baik, guru profesional serta kurikulum berkualitas belum tentu menghasilkan pembelajaran optimal apabila peserta didik datang ke kelas dalam kondisi lapar atau mengalami kekurangan gizi.
Kondisi tubuh yang sehat membantu anak mempertahankan konsentrasi, memahami materi serta mengikuti aktivitas pembelajaran.
Karena itu, persoalan gizi tidak dapat dipisahkan dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan.
Salah satu rekomendasi dari penelitian tersebut adalah penyusunan panduan siklus menu tujuh hari yang menggunakan bahan pangan dan kuliner lokal.
Panduan tersebut dirancang agar dapat digunakan sebagai salah satu rujukan oleh pemerintah daerah, sekolah maupun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG.
Pendekatan menggunakan pangan lokal dinilai penting karena setiap daerah memiliki sumber bahan pangan yang berbeda.
Pemanfaatan makanan lokal juga memungkinkan penyusunan menu yang lebih sesuai dengan kebiasaan masyarakat sekaligus mendukung ketersediaan bahan pangan di wilayah masing-masing.
Hasil penelitian tersebut juga memiliki relevansi dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Program ini memiliki cakupan yang sangat besar dan ditargetkan menjangkau sekitar 60 juta murid pada 2027.
Dengan jumlah penerima yang besar, kualitas menu menjadi faktor yang tidak kalah penting dibandingkan jumlah makanan yang dibagikan.
Makanan yang diberikan kepada peserta didik perlu mempertimbangkan kebutuhan zat gizi, bukan sekadar memberikan rasa kenyang.
Penelitian SEAMEO RECFON juga menyoroti persoalan anemia pada anak sekolah.
Anemia dapat menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke otak dan pada akhirnya memengaruhi kemampuan anak menerima pembelajaran.
Karena itu, deteksi penyebab anemia dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh.
Pemerintah juga didorong memperkuat penggunaan data ilmiah ketika menyusun kebijakan gizi sekolah.
Salah satu langkah yang dikembangkan adalah pemanfaatan biomarker zat gizi mikro dalam Survei Status Gizi Indonesia 2026.
Penggunaan teknologi dan peningkatan kemampuan laboratorium diharapkan menghasilkan data yang semakin akurat.
Data tersebut kemudian dapat membantu pemerintah mengetahui wilayah maupun kelompok anak yang membutuhkan intervensi tertentu.
Selain pemberian makanan, pendidikan mengenai pola makan sehat juga perlu diterapkan kepada siswa.
Sekolah dapat berperan memberikan pemahaman mengenai pentingnya makanan beragam dan bergizi sekaligus membentuk kebiasaan yang dapat diterapkan anak di rumah.
Keterlibatan keluarga juga sangat penting karena sebagian besar pola makan anak terbentuk dari lingkungan keluarga.
Orang tua perlu memahami bahwa kebutuhan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan tubuh.
Asupan yang cukup juga berkaitan dengan perkembangan otak, daya tahan tubuh dan kemampuan anak mengikuti pembelajaran.
Temuan mengenai kesenjangan zat gizi mikro tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan mutu pendidikan memerlukan pendekatan menyeluruh.
Pendidikan berkualitas bukan hanya berbicara mengenai ruang kelas, buku, teknologi maupun guru.
Kondisi kesehatan dan kecukupan gizi peserta didik juga menjadi bagian penting agar investasi di sektor pendidikan memberikan hasil terbaik.