KebonCinta.com — Pengembangan energi surya di Indonesia diperkirakan membuka peluang lapangan kerja dalam jumlah besar. Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) disebut berpotensi menciptakan sekitar 5,5 juta pekerjaan apabila pengembangan industri dan proyeknya dapat berjalan sesuai rencana.
Potensi tersebut disampaikan dalam pembahasan antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) pada Senin, 26 Oktober 2026. Hasil pembahasan dipublikasikan melalui situs resmi kementerian pada 27 Oktober 2026.
POTENSI 5,5 JUTA LAPANGAN KERJA
Berdasarkan pemaparan AESI, pengembangan PLTS 100 GW memiliki potensi menyerap sekitar 5,5 juta tenaga kerja dalam berbagai bidang.
Dari jumlah tersebut, sekitar 3,5 juta pekerjaan diproyeksikan berada di sektor industri, sedangkan sekitar dua juta lainnya berkaitan dengan kegiatan konstruksi.
Angka tersebut merupakan proyeksi potensi lapangan kerja yang berkaitan dengan pengembangan program. Pemerintah belum menyatakan bahwa 5,5 juta lowongan telah tersedia atau membuka pendaftaran tenaga kerja secara serentak.
KEBUTUHAN TENAGA KERJA MASIH BESAR
AESI memperkirakan jumlah tenaga kerja kompeten yang telah teridentifikasi saat ini baru sekitar 10 ribu orang. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan sumber daya manusia dan potensi kebutuhan pengembangan industri energi surya.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menekankan pentingnya melakukan pemetaan kompetensi tenaga kerja.
Pemetaan diperlukan untuk mengetahui bidang yang mengalami kekurangan tenaga terampil serta menentukan langkah pendidikan dan pelatihan yang perlu disiapkan.
JENIS PEKERJAAN YANG DIBUTUHKAN
Pengembangan industri PLTS tidak hanya membutuhkan pekerja yang memasang panel surya. Kebutuhan tenaga kerja juga mencakup manufaktur panel, produksi baterai, rekayasa desain, dan perencanaan proyek.
Bidang konstruksi serta instalasi menjadi bagian penting lainnya. Setelah fasilitas beroperasi, diperlukan tenaga yang mampu melakukan pengawasan, pemeliharaan, dan pengelolaan sistem energi surya.
Selain pekerjaan teknis, peluang pengembangan kompetensi juga mencakup penelitian, manajemen proyek, pengelolaan keuangan, dan kegiatan riset serta pengembangan teknologi.
Dengan demikian, kebutuhan tenaga kerja berpotensi melibatkan lulusan dari berbagai bidang pendidikan, bukan hanya teknik elektro atau energi.
PERGURUAN TINGGI DIAJAK BERKOLABORASI
Kemdiktisaintek mendorong perguruan tinggi untuk berperan dalam menyiapkan lulusan dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan industri.
Kerja sama antara kampus dan AESI dibahas untuk mengembangkan pelatihan, program magang, serta penyesuaian pembelajaran.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah bagaimana kompetensi akhir yang dibutuhkan industri dapat dipahami sejak mahasiswa mengikuti pendidikan.
Melalui pendekatan tersebut, lulusan diharapkan memiliki kesiapan yang lebih baik sebelum memasuki lingkungan kerja profesional.
SERTIFIKASI TENAGA ENERGI SURYA
AESI mengidentifikasi sejumlah tantangan dalam penyiapan tenaga kerja, termasuk keterbatasan kapasitas sertifikasi dan perbedaan standar kompetensi.
Salah satu solusi yang dibahas adalah kemungkinan mengintegrasikan sertifikasi kompetensi ke dalam kurikulum perguruan tinggi.
AESI juga tengah mengembangkan AESI Academy sebagai platform pembelajaran untuk memperluas akses terhadap materi pelatihan energi surya.
Namun, pembahasan tersebut belum berarti pendaftaran pelatihan atau sertifikasi baru telah dibuka untuk masyarakat umum.
RISET TEKNOLOGI JUGA DIPERKUAT
Selain peningkatan keterampilan tenaga kerja, Kemdiktisaintek mendorong peninjauan kembali peta jalan penelitian energi surya.
Wamen Stella meminta AESI mengkaji kebutuhan riset agar perguruan tinggi dapat menentukan prioritas pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penelitian dinilai penting karena teknologi panel surya terus berkembang, termasuk pada aspek efisiensi, manufaktur, serta pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas.
PROGRAM MASIH DALAM TAHAP PENYIAPAN
Sebagai tindak lanjut, Kemdiktisaintek bersama AESI berencana melaksanakan pembahasan lanjutan mengenai keunggulan perguruan tinggi dan kebutuhan kompetensi industri.
Pemetaan tersebut diharapkan membantu penyusunan program pelatihan dan sertifikasi yang lebih sesuai dengan arah pengembangan energi surya.
Masyarakat perlu membedakan antara proyeksi kebutuhan tenaga kerja dan lowongan yang benar-benar sudah tersedia.
Informasi resmi mengenai pengembangan pendidikan, penelitian, dan peluang kerja di sektor energi surya dapat dipantau melalui situs https://kemdiktisaintek.go.id/ dan kanal resmi organisasi industri terkait.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir