keboncinta.com- Peringatan Hari Santri Nasional 2026 dapat dirayakan melalui berbagai kegiatan edukatif, salah satunya menonton film bersama atau nobar di sekolah, madrasah, dan pondok pesantren.
Melalui film, siswa dapat mengenal sejarah perjuangan ulama, memahami kehidupan pesantren, serta mempelajari nilai persahabatan, kegigihan, dan kepedulian sosial.
Namun, kegiatan menonton sebaiknya tidak berhenti sebagai hiburan. Guru atau pembina dapat mengadakan diskusi setelah pemutaran agar peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
Berikut lima rekomendasi film untuk Hari Santri 2026 beserta sinopsis singkat, nilai pendidikan, dan contoh pertanyaan diskusi yang dapat digunakan.
Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober. Pada tahun 2026, peringatan tersebut jatuh pada Kamis dengan tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas."
Berdasarkan panduan Kementerian Agama RI, tema tersebut menekankan penguatan ilmu pengetahuan, karakter, kreativitas, kemandirian, serta kontribusi santri kepada masyarakat.
Film dapat digunakan sebagai media pendukung untuk mendiskusikan nilai-nilai tersebut melalui cerita dan pengalaman para tokohnya.
Film Sang Kiai mengangkat perjalanan perjuangan KH Hasyim Asy'ari, salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam dan kemerdekaan Indonesia.
Disutradarai Rako Prijanto, film ini menggambarkan situasi masa pendudukan Jepang serta perjuangan ulama dan santri menghadapi tekanan penjajahan.
Nilai pendidikan: Keberanian, kepemimpinan, keteguhan prinsip, pengorbanan, dan nasionalisme.
Film ini relevan untuk memperkenalkan keterlibatan ulama dan santri dalam sejarah bangsa.
Namun, karena mengandung konflik dan penggambaran kekerasan pada masa perang, pendidik perlu memeriksa klasifikasi usia dan kesesuaian adegannya sebelum menayangkan kepada siswa.
Ide pertanyaan diskusi:
Guru juga perlu menjelaskan bahwa film sejarah mengandung unsur dramatisasi sehingga tidak semua dialog dan adegan dapat diperlakukan sebagai catatan sejarah yang persis terjadi.
Baca Juga: Nonton Sang Kiai di Hari Santri: Keteladanan yang Menginspirasi
Film Negeri 5 Menara merupakan adaptasi novel karya Ahmad Fuadi.
Cerita berpusat pada Alif, seorang remaja yang awalnya mempunyai rencana pendidikan berbeda, tetapi kemudian menjalani kehidupan di Pondok Madani.
Di pesantren, Alif bertemu teman-teman dari berbagai daerah yang memiliki cita-cita besar.
Film ini mengangkat semangat belajar, kehidupan persahabatan, dan pesan bahwa kesungguhan merupakan bagian penting dalam meraih impian.
Nilai pendidikan: Disiplin, ketekunan, persahabatan, kemandirian, dan semangat menuntut ilmu.
Film ini dapat menjadi bahan diskusi bagi siswa SMP dan SMA, setelah kesesuaian usia serta materi diperiksa.
Ide pertanyaan diskusi:
Peserta juga dapat diminta menuliskan satu cita-cita beserta tiga langkah nyata untuk mencapainya.
Pesantren merupakan film dokumenter karya sutradara Shalahuddin Siregar.
Berbeda dari film drama, dokumenter ini memperlihatkan kehidupan sehari-hari para penghuni Pondok Kebon Jambu Al-Islamy di Cirebon, Jawa Barat.
Film tersebut menampilkan kegiatan pendidikan, hubungan sosial, serta peran perempuan dalam lingkungan pesantren.
Nilai pendidikan: Penghargaan terhadap keberagaman, kemandirian, pendidikan perempuan, dan kehidupan komunitas.
Dokumenter ini dapat digunakan untuk memperluas pemahaman siswa mengenai kehidupan pesantren yang tidak selalu terlihat dalam pemberitaan atau cerita populer.
Ide pertanyaan diskusi:
Pembina dapat mengajak peserta membandingkan gambaran dalam film dengan pengalaman di lingkungan pendidikan mereka sendiri tanpa menganggap semua pesantren mempunyai kondisi yang sama.
Film Laskar Pelangi disutradarai Riri Riza dan diadaptasi dari novel Andrea Hirata.
Ceritanya berfokus pada perjuangan anak-anak di Belitung yang berusaha memperoleh pendidikan meskipun menghadapi keterbatasan fasilitas dan keadaan ekonomi.
Walaupun bukan film yang secara khusus mengangkat kehidupan pesantren, nilai pendidikannya relevan dengan semangat Hari Santri.
Nilai pendidikan: Persahabatan, kesetaraan kesempatan belajar, ketekunan, dan penghargaan terhadap guru.
Film ini dapat dipertimbangkan sebagai bahan kegiatan literasi bagi siswa sekolah dasar kelas atas dan SMP, dengan tetap memeriksa klasifikasi usia resmi.
Ide pertanyaan diskusi:
Setelah menonton, siswa dapat diajak menyusun gagasan sederhana untuk membantu teman yang mengalami kesulitan belajar.
Film Sang Pencerah karya sutradara Hanung Bramantyo mengangkat kisah KH Ahmad Dahlan, tokoh pendiri Muhammadiyah.
Cerita menggambarkan perjuangan Ahmad Dahlan dalam mengembangkan pemikiran keagamaan, pendidikan, dan kegiatan sosial di tengah berbagai tantangan masyarakat.
Nilai pendidikan: Semangat mencari ilmu, keberanian menyampaikan gagasan, tanggung jawab sosial, dan pentingnya berdialog.
Film ini dapat menjadi bahan pembelajaran sejarah gerakan pendidikan Islam di Indonesia.
Ide pertanyaan diskusi:
Pendidik sebaiknya memberikan konteks sejarah dan mengingatkan bahwa film biografi merupakan interpretasi kreatif atas peristiwa masa lalu.
| Film | Tema Utama | Fokus Diskusi |
|---|---|---|
| Sang Kiai | Sejarah perjuangan ulama | Nasionalisme dan kepemimpinan |
| Negeri 5 Menara | Kehidupan santri dan cita-cita | Disiplin serta ketekunan |
| Pesantren | Dokumenter kehidupan pesantren | Keberagaman dan pendidikan |
| Laskar Pelangi | Perjuangan memperoleh pendidikan | Persahabatan dan kesetaraan |
| Sang Pencerah | Sejarah pembaruan pendidikan Islam | Ilmu, dialog, dan perubahan sosial |
Tabel tersebut menunjukkan kesesuaian tema pembelajaran, bukan klasifikasi usia resmi film.
Agar nobar Hari Santri lebih bermanfaat, sekolah dapat menggunakan rangkaian sederhana.
Tahap pertama: Guru memperkenalkan latar cerita dan tujuan pembelajaran sebelum pemutaran.
Tahap kedua: Siswa mencatat tokoh, peristiwa, dan nilai yang dianggap penting selama menonton.
Tahap ketiga: Setelah film selesai, peserta dibagi menjadi kelompok kecil untuk menjawab pertanyaan diskusi.
Tahap keempat: Setiap kelompok menyampaikan satu pelajaran dan satu tindakan nyata yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tahap kelima: Guru memberikan penguatan serta meluruskan apabila terdapat perbedaan antara dramatisasi film dan fakta sejarah.
Hasil kegiatan dapat berupa tulisan refleksi, poster nilai karakter, atau ulasan film sederhana.
Baca Juga: Santrivision 2026 Dibuka hingga 15 Oktober, Santri Bisa Kirim Film, Podcast, Riset hingga Inovasi AI
Panitia perlu memastikan film sesuai usia dan kebutuhan peserta.
Lembaga Sensor Film Republik Indonesia menggunakan penggolongan usia untuk membantu masyarakat menentukan kesesuaian tontonan.
Selain memeriksa klasifikasi, guru sebaiknya menonton dan menilai isi film terlebih dahulu, terutama apabila mengandung konflik, kekerasan, atau persoalan sosial yang kompleks.
Panitia juga harus menggunakan salinan film dari sumber legal dan memastikan hak atau izin pemutaran bersama telah dipenuhi. Langganan streaming pribadi tidak otomatis memberikan izin untuk pertunjukan publik.
Jika durasi film terlalu panjang, pertimbangkan kegiatan dalam beberapa sesi atau penggunaan cuplikan yang diizinkan secara hukum.
Peringatan Hari Santri 2026 dapat menjadi kesempatan untuk menghadirkan kegiatan menonton film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman pendidikan.
Sang Kiai, Negeri 5 Menara, Pesantren, Laskar Pelangi, dan Sang Pencerah menawarkan sudut pandang berbeda tentang perjuangan, pendidikan, karakter, dan kehidupan masyarakat.
Dengan pemilihan film yang tepat serta diskusi yang terarah, kegiatan nobar dapat membantu santri menghubungkan nilai-nilai dalam cerita dengan tanggung jawab mereka sebagai pelajar dan anggota masyarakat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir