KebonCinta.com - Nasi merupakan makanan pokok yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, belakangan muncul perdebatan mengenai nasi dingin dan nasi hangat, terutama berkaitan dengan kandungan kalori dan pengaruhnya terhadap gula darah.
Sebagian orang beranggapan bahwa nasi dingin lebih sehat karena memiliki kandungan gula dan kalori lebih rendah dibandingkan nasi yang baru matang.
Lantas, apakah anggapan tersebut benar?
Baca Juga: Bukan Malas, 7 Hal Ini Bisa Terasa Sulit saat Kesehatan Mental Menurun
Pada dasarnya, nasi dingin dan nasi hangat berasal dari bahan makanan yang sama sehingga kandungan nutrisi utamanya tidak berubah secara drastis hanya karena perbedaan suhu.
Namun, proses pendinginan dapat mengubah sebagian struktur pati dalam nasi.
Ketika nasi dimasak, pati mengalami proses gelatinisasi. Setelah didinginkan, sebagian pati dapat mengalami retrogradasi dan membentuk pati resisten.
Pati resisten merupakan jenis pati yang tidak mudah dicerna di usus halus.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa nasi yang didinginkan dapat menghasilkan respons gula darah setelah makan yang lebih rendah dibandingkan nasi yang baru dimasak.
Namun, besarnya pengaruh tersebut dapat berbeda berdasarkan jenis beras, proses memasak, waktu pendinginan, dan kondisi kesehatan seseorang.
Karena itu, nasi dingin tidak otomatis lebih sehat untuk semua orang.
Pembentukan pati resisten tidak berarti sebagian besar kalori nasi hilang.
Nasi dingin tetap mengandung karbohidrat yang menjadi sumber energi bagi tubuh.
Jumlah nasi yang dikonsumsi dan kombinasi lauk tetap menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan nutrisi.
Baca Juga: 5 Manfaat Kurma bagi Kesehatan, dari Menjaga Jantung hingga Melancarkan Pencernaan
Baik nasi dingin maupun nasi hangat dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.
Hal yang perlu diperhatikan adalah ukuran porsi, keseimbangan menu, serta cara penyimpanan nasi agar aman dikonsumsi.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir