Berita
Rahman Abdullah

Mengapa Minat Baca Indonesia Masih Jadi Sorotan? Akses Buku Ternyata Jadi Masalah

Mengapa Minat Baca Indonesia Masih Jadi Sorotan? Akses Buku Ternyata Jadi Masalah

20 September 2026 | 10:10

Keboncinta.com-- Kebiasaan membaca masyarakat Indonesia masih menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan mengenai literasi. Rendahnya aktivitas membaca kerap dikaitkan dengan maraknya media sosial, video berdurasi singkat, hingga beragam hiburan berbasis digital.

Namun, persoalan budaya membaca tidak selalu dapat dilihat hanya dari sisi kemauan masyarakat. Ketersediaan dan pemerataan akses terhadap buku juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Berdasarkan data yang tercantum dalam informasi tersebut, jumlah penduduk Indonesia yang telah mencapai lebih dari 270 juta jiwa hanya memiliki sekitar 22.318.083 eksemplar buku. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, rasio ketersediaan buku disebut berada di angka sekitar 0,09.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan literasi tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan membaca, tetapi juga menyangkut seberapa mudah masyarakat memperoleh bahan bacaan.

Baca Juga: Guru Nantinya Bisa Diangkat Pemerintah Pusat, Prabowo Singgung Ujian Kompetensi Sebelum Penetapan

Sebagian Besar Buku Masih Terkonsentrasi di Pulau Jawa

Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah distribusi buku yang belum merata antardaerah.

Sekitar 90 persen buku disebut berada di Pulau Jawa, sementara jumlah lainnya harus memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah di luar Jawa.

Ketimpangan tersebut dapat membuat masyarakat di daerah tertentu, terutama kawasan yang jauh dari pusat perkotaan, memiliki pilihan bahan bacaan yang lebih terbatas.

Kondisi serupa juga dapat terlihat dari ketersediaan perpustakaan. Fasilitas dengan koleksi bacaan yang lebih beragam cenderung lebih mudah ditemukan di kawasan perkotaan dibandingkan sejumlah wilayah pelosok.

Akibatnya, kesempatan untuk mendapatkan buku yang sesuai dengan kebutuhan dan minat pembaca belum sepenuhnya sama di setiap daerah.

Baca Juga: Guru Peserta PPG Tahap 3 2026 Perlu Bersiap, Konfirmasi Kesediaan hingga UKPPPG Punya Jadwal Berbeda

Minat Baca Juga Dipengaruhi Kemudahan Mendapatkan Buku

Membangun kebiasaan membaca tentu membutuhkan kemauan dari individu. Namun, faktor lingkungan dan ketersediaan bahan bacaan juga tidak dapat diabaikan.

Ketika jumlah buku terbatas, satu bahan bacaan bisa saja harus digunakan secara bergantian oleh banyak orang. Situasi seperti ini menjadi tantangan ketika masyarakat ingin membangun kebiasaan membaca secara konsisten.

Sebaliknya, akses yang lebih mudah terhadap buku di sekolah, perpustakaan, taman baca, maupun ruang publik dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk membaca.

Karena itu, peningkatan budaya literasi perlu berjalan bersama dengan upaya memperluas ketersediaan bahan bacaan, bukan hanya melalui ajakan agar masyarakat lebih sering membaca.

Buku Digital Bisa Menjadi Alternatif Akses Bacaan

Perkembangan teknologi memberikan peluang baru untuk mengatasi sebagian persoalan keterbatasan buku fisik.

Buku elektronik atau e-book dan perpustakaan digital dapat dimanfaatkan untuk menyediakan bahan bacaan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada distribusi buku dalam bentuk cetak.

Pilihan tersebut dapat menjadi alternatif terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan toko buku atau perpustakaan.

Meski demikian, pemanfaatan sumber bacaan digital tetap perlu didukung oleh ketersediaan perangkat, koneksi internet, serta kemampuan masyarakat dalam mengakses dan menggunakan sumber informasi secara tepat.

Baca Juga: Jadwal Lengkap PPG Tahap 3 Tahun 2026 Resmi Dirilis, Guru Wajib Catat 7 Tahapan Penting Ini

Membaca Membuka Jalan Menuju Pengetahuan

Buku memiliki peran penting dalam memperluas wawasan. Melalui berbagai jenis bacaan, seseorang dapat mempelajari ilmu pengetahuan, sejarah, budaya, teknologi, hingga kehidupan sosial masyarakat.

Membaca juga memungkinkan seseorang mengenal berbagai tempat, peristiwa, dan pengalaman manusia tanpa harus mengunjunginya secara langsung.

Pengetahuan tentang perkembangan peradaban, kehidupan manusia pada masa lalu, hingga berbagai fenomena di dunia dapat diperoleh melalui bahan bacaan yang berkualitas.

Karena itu, penguatan budaya membaca perlu ditempatkan bersama dengan upaya memperluas akses terhadap buku dan sumber pengetahuan.

Pemerataan Buku Menjadi Bagian Penting Penguatan Literasi

Persoalan literasi di Indonesia tidak cukup dilihat dari seberapa sering seseorang membaca. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni apakah masyarakat memiliki akses yang memadai terhadap bahan bacaan yang berkualitas.

Pemerataan perpustakaan, pengembangan taman baca, penyediaan koleksi buku di sekolah, serta pemanfaatan perpustakaan digital dapat menjadi sejumlah langkah untuk memperluas akses tersebut.

Baca Juga: Kalender 2027 Sudah Ditetapkan, Ini Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama Lengkap

Dengan akses bacaan yang semakin terbuka, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk menemukan bahan yang sesuai dengan kebutuhan dan minatnya.

Pada akhirnya, membangun budaya membaca membutuhkan lebih dari sekadar ajakan untuk membaca. Ketersediaan buku, pemerataan fasilitas, dan pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian penting agar kesempatan memperoleh pengetahuan dapat dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.***

Tags:
Minat Baca Literasi Membaca

Komentar Pengguna