Lifestyle
Azzahra Esa Nabila

“Kok Ini Gue Banget?”: Alasan Psikologis di Balik Daya Tarik Konten yang Relatable

“Kok Ini Gue Banget?”: Alasan Psikologis di Balik Daya Tarik Konten yang Relatable

23 Juni 2026 | 11:15

Keboncinta.com-- Pernah menonton sebuah video singkat lalu langsung tertawa karena merasa, “Ini persis aku”? Atau membaca unggahan seseorang yang menceritakan kebiasaan aneh, kecemasan kecil, atau pengalaman sehari-hari yang ternyata juga pernah kamu alami? Di tengah banjir informasi di media sosial, konten-konten seperti itu sering kali mendapatkan perhatian besar. Bukan karena visualnya paling mewah atau idenya paling rumit, melainkan karena satu hal sederhana: terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.

Menariknya, otak manusia memang cenderung menyukai hal-hal yang familiar. Ketika melihat pengalaman yang mirip dengan apa yang pernah kita rasakan, muncul perasaan nyaman karena kita merasa dipahami. Di dunia yang begitu besar dan penuh perbedaan, menemukan orang lain yang memiliki pengalaman serupa dapat memberikan rasa keterhubungan yang kuat. Itulah sebabnya konten tentang terlambat bangun, overthinking sebelum tidur, gugup saat presentasi, atau kebiasaan menunda pekerjaan sering kali mendapat respons besar. Orang tidak hanya melihat sebuah konten, tetapi juga melihat potongan dirinya di dalamnya.

Dari sudut pandang psikologi, konten yang relatable juga memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk merasa tidak sendirian. Banyak hal yang kita alami sering disimpan sendiri karena dianggap aneh, memalukan, atau terlalu sepele untuk dibicarakan. Ketika seseorang mengangkat pengalaman yang sama ke ruang publik, muncul semacam validasi emosional. Kita menyadari bahwa apa yang dirasakan ternyata juga dialami oleh banyak orang lain. Perasaan ini dapat mengurangi rasa terasing sekaligus menciptakan ikatan sosial, bahkan dengan orang yang belum pernah kita temui secara langsung.

Di sisi lain, popularitas konten yang relatable menunjukkan sesuatu yang menarik tentang kehidupan modern. Di tengah teknologi yang semakin canggih, manusia tetap mencari koneksi yang sederhana dan manusiawi. Kita mungkin tertarik pada hal-hal spektakuler, tetapi sering kali bertahan lebih lama pada cerita yang terasa nyata. Sebuah video tentang kegagalan kecil sehari-hari kadang lebih menyentuh daripada pencapaian yang luar biasa, karena lebih mudah dipahami dan dirasakan bersama.

Mungkin itulah alasan mengapa konten yang relatable begitu mudah menyebar. Bukan sekadar karena lucu atau menghibur, tetapi karena mengingatkan bahwa pengalaman manusia ternyata tidak sesunyi yang kita kira.

Tags:
Gen Z Lifestyle Bijak Bermedia Sosial Self Control

Komentar Pengguna