KEBONCINTA.COM – Pemerintah mempercepat perbaikan sarana pendidikan di Nusa Tenggara Timur dengan merevitalisasi sebanyak 1.487 satuan pendidikan pada tahun 2026.
Program yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut mencakup berbagai jenjang, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD hingga SMA, SMK, Sekolah Luar Biasa serta pusat kegiatan belajar masyarakat.
Total dukungan anggaran yang disiapkan untuk revitalisasi satuan pendidikan di NTT mencapai lebih dari Rp1,2 triliun.
Berdasarkan data Kemendikdasmen per 7 September 2026, sekolah dasar menjadi jenjang yang memperoleh jumlah sasaran terbesar.
Sebanyak 644 SD memperoleh program revitalisasi dengan nilai anggaran sekitar Rp702,88 miliar.
Sementara itu, sebanyak 603 satuan PAUD memperoleh dukungan sekitar Rp232,46 miliar.
Program juga menjangkau 136 SMP dengan nilai Rp161,51 miliar serta 69 SMA dengan anggaran sekitar Rp72,71 miliar.
Selain sekolah umum, pemerintah memberikan perhatian kepada pendidikan vokasi dan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Sebanyak 13 SMK memperoleh dukungan revitalisasi senilai Rp12,16 miliar.
Kemudian 14 Sekolah Luar Biasa mendapatkan dukungan sekitar Rp21,72 miliar.
Delapan PKBM atau SKB juga masuk sebagai penerima dengan nilai sekitar Rp5,25 miliar.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menekankan bahwa setiap anak berhak memperoleh lingkungan belajar yang aman dan layak.
Hak tersebut harus tetap dipenuhi meskipun peserta didik tinggal di wilayah yang memiliki keterbatasan sarana pendidikan.
Revitalisasi menjadi penting bagi Nusa Tenggara Timur mengingat kondisi geografis yang luas dan tersebar serta masih adanya sekolah dengan sarana yang membutuhkan perbaikan.
Sebagian satuan pendidikan juga menghadapi dampak bencana maupun kerusakan bangunan yang dapat mengurangi kenyamanan dan keamanan proses pembelajaran.
Perbaikan fasilitas sekolah tidak hanya berbicara mengenai penampilan gedung.
Kondisi ruang kelas, sanitasi, atap, lantai, fasilitas pembelajaran dan keamanan bangunan memiliki hubungan langsung dengan aktivitas peserta didik dan guru.
Anak akan lebih mudah mengikuti pembelajaran apabila memperoleh ruang yang aman dan nyaman.
Guru juga dapat menjalankan kegiatan belajar dengan lebih optimal ketika fasilitas dasar sekolah tersedia dalam kondisi baik.
Jumlah penerima revitalisasi tahun ini menunjukkan peningkatan besar dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2025, sebanyak 580 satuan pendidikan di NTT menerima dukungan melalui program revitalisasi dan pembangunan Unit Sekolah Baru dengan total anggaran sekitar Rp603,5 miliar.
Pada tahun tersebut, revitalisasi diberikan kepada 43 PAUD, 234 SD, 174 SMP, 64 SMA, 44 SMK, sembilan SLB serta delapan SKB atau PKBM.
Pemerintah juga membangun empat Unit Sekolah Baru yang terdiri atas tiga PAUD dan satu SMA di beberapa kabupaten di NTT.
Pada 2026, jumlah sasaran meningkat menjadi 1.487 satuan pendidikan.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah berupaya mempercepat pemerataan infrastruktur pendidikan di wilayah yang masih membutuhkan dukungan.
Salah satu kelompok yang mendapat perhatian besar adalah PAUD.
Sebanyak 603 PAUD di NTT masuk dalam program revitalisasi dengan anggaran lebih dari Rp232 miliar.
Pendidikan usia dini dipandang sebagai fondasi penting sebelum seorang anak memasuki sekolah dasar.
Karena itu, lingkungan belajar untuk anak usia dini juga harus memenuhi standar keamanan dan kenyamanan.
Bangunan yang rusak atau fasilitas yang tidak memadai dapat menghambat kegiatan bermain dan belajar yang menjadi bagian utama pendidikan PAUD.
Program revitalisasi juga diharapkan menghasilkan efek ekonomi di lingkungan sekitar karena pelaksanaannya dapat melibatkan masyarakat serta tenaga kerja lokal sesuai mekanisme yang berlaku.
Namun, pemerintah tetap perlu memastikan pembangunan dilakukan tepat waktu, sesuai spesifikasi serta benar-benar menjawab kebutuhan sekolah.
Transparansi penggunaan anggaran menjadi bagian penting mengingat nilai dana yang digunakan mencapai lebih dari satu triliun rupiah.
Setelah pekerjaan selesai, pemeliharaan fasilitas juga menjadi tanggung jawab penting agar hasil revitalisasi dapat digunakan dalam jangka panjang.
Dengan dukungan terhadap hampir 1.500 satuan pendidikan di NTT, pemerintah berharap kesenjangan kualitas sarana pendidikan antarwilayah dapat semakin diperkecil.
Pada akhirnya, anak yang tinggal jauh dari pusat kota juga diharapkan memperoleh ruang belajar yang aman dan layak sebagaimana peserta didik di wilayah lainnya.