Hasad merupakan penyakit hati yang muncul ketika seseorang tidak senang terhadap nikmat yang diperoleh orang lain, bahkan terkadang berharap nikmat tersebut hilang.
Membaca doa keberkahan dapat menjadi cara untuk mengubah rasa kagum menjadi harapan baik. Daripada mempertanyakan mengapa orang lain memperoleh keberhasilan, seseorang dapat mendoakan agar nikmat tersebut semakin membawa kebaikan.
Nasihat Syaikh al-Utsaimin juga menekankan pentingnya tidak membenci karunia Allah yang diberikan kepada orang lain. Seorang Muslim dapat mendoakan saudaranya sekaligus memohon rezeki dan kebaikan untuk dirinya sendiri.
Doa keberkahan juga berkaitan dengan tuntunan Rasulullah SAW mengenai ‘ain. Dalam hadis, beliau mengingatkan bahwa ‘ain merupakan sesuatu yang benar adanya.
Karena itu, ketika melihat sesuatu yang mengagumkan pada orang lain, seorang Muslim dianjurkan mendoakan keberkahan baginya. Ucapan Allāhumma bārik menjadi bentuk permohonan kepada Allah agar nikmat tersebut diberkahi.
Doa ini bukan berarti seseorang dapat memastikan bahwa setiap kekaguman akan menimbulkan ‘ain. Namun, mendoakan keberkahan merupakan bagian dari tuntunan yang diajarkan dalam hadis.
Setiap orang memiliki perjalanan hidup, kesempatan, dan bentuk rezeki yang berbeda. Membiasakan diri mendoakan orang lain dapat membantu seseorang menerima kenyataan tersebut dengan lebih lapang.
Sikap qana’ah mengajarkan seseorang untuk merasa cukup dan tidak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. Hal ini bukan berarti berhenti berusaha, melainkan tetap bekerja keras tanpa mengingkari nikmat yang telah dimiliki.
Doa keberkahan juga dapat menjadi latihan bagi hati dan lisan untuk membiasakan syukur.
Kesuksesan orang lain dapat menjadi inspirasi untuk memperbaiki diri. Islam tidak melarang seseorang mengagumi pencapaian sesamanya, selama kekaguman tersebut tidak berubah menjadi hasad.
Hadis riwayat Bukhari mengenai ghibthah menunjukkan bahwa keinginan memiliki kebaikan serupa dapat menjadi sesuatu yang terpuji, terutama dalam hal ilmu dan penggunaan harta untuk kebaikan.
Dengan demikian, ketika melihat orang lain berhasil, seseorang dapat menjadikan pencapaian tersebut sebagai motivasi untuk belajar, berusaha, dan meningkatkan amal saleh.
Mendoakan keberkahan bagi orang lain merupakan bentuk kepedulian. Orang yang didoakan memperoleh harapan kebaikan, sementara orang yang mendoakan belajar membangun ketulusan dan rasa syukur.
Kebiasaan ini juga membantu mengurangi persaingan yang tidak sehat. Kesuksesan orang lain tidak harus dianggap sebagai ancaman, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk ikut bergembira dan mengambil pelajaran.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7 bahwa apabila manusia bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya. Karena itu, membiasakan doa dan syukur dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia.
Baca Juga: Benarkah Doa Orang yang Khatam Al-Qur'an Sangat Mustajab? Ini Penjelasan Haditsnya
Doa singkat yang dapat dibaca adalah Allāhumma bārik ‘alaih, yang berarti “Ya Allah, berkahilah dia.” Doa ini merupakan permohonan keberkahan bagi orang yang memperoleh nikmat.
Boleh. Seorang Muslim dapat mendoakan agar nikmat orang lain bertambah sekaligus memohon karunia Allah untuk dirinya sendiri. Hal ini dapat dilakukan tanpa membenci atau berharap nikmat orang lain hilang.
Rasa iri yang muncul secara spontan perlu disikapi dengan baik dan tidak langsung dipelihara. Hasad yang tercela adalah ketika seseorang membenci nikmat orang lain atau berharap nikmat tersebut hilang.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir