Keboncinta.com — Doa saat melihat kesuksesan orang lain merupakan amalan sederhana yang dapat membantu seorang Muslim menjaga kebersihan hati. Ketika menyaksikan orang lain memperoleh rezeki, prestasi, atau kebahagiaan, seorang Muslim dianjurkan untuk mendoakan keberkahan, bukan membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Dalam ajaran Islam, syukur menjadi sikap penting dalam menyikapi nikmat. Syukur berarti mengakui karunia Allah SWT dan menggunakannya untuk kebaikan. Sebaliknya, rasa iri yang terus dipelihara dapat membuat seseorang sulit menerima keberhasilan orang lain.
Rasulullah SAW juga mengajarkan agar seseorang mendoakan keberkahan ketika melihat sesuatu yang mengagumkan pada saudaranya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, beliau mengingatkan tentang kebenaran ‘ain serta anjuran untuk mendoakan keberkahan bagi orang yang dikagumi.
Doa tersebut bukan hanya menjadi bentuk perhatian kepada orang lain, tetapi juga membantu menjaga hati dari hasad atau kedengkian. Dengan mendoakan kebaikan, rasa kagum dapat diarahkan menjadi motivasi untuk memperbaiki diri.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Silsilah al-Liqa’ asy-Syahri juga menasihatkan agar seseorang tidak membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sebaliknya, ia dapat memohon agar nikmat saudaranya ditambah sekaligus meminta karunia Allah untuk dirinya sendiri.
Berikut beberapa bacaan doa yang dapat diamalkan saat melihat kesuksesan atau nikmat orang lain.
Baca Juga: Sering Terlewatkan: Kapan Sebenarnya Jam Paling Utama untuk Memanjatkan Doa di Hari Jumat?
Arab:
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَيْهِ
Latin:
Allāhumma bārik ‘alaih.
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah dia.”
Doa ini merupakan ungkapan singkat untuk memohon keberkahan bagi orang yang memperoleh nikmat. Ketika melihat keberhasilan seseorang, seorang Muslim dapat mengucapkannya sebagai bentuk doa dan sikap positif.
Anjuran mendoakan keberkahan juga berkaitan dengan hadis Rasulullah SAW tentang ‘ain. Ketika seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan pada saudaranya, dirinya, atau hartanya, ia dianjurkan untuk mendoakan keberkahan.
Dengan demikian, rasa kagum tidak dibiarkan berkembang menjadi iri atau keinginan agar nikmat orang lain hilang. Sebaliknya, seseorang berusaha menghadirkan doa dan harapan baik.
Arab:
اللّٰهُمَّ زِدْهُ مِنْ فَضْلِكَ وَأَعْطِنِيْ أَفْضَلَ مِنْهُ
Latin:
Allāhumma zidhu min faḍlika wa a‘thinī afḍala minhu.
Artinya:
“Ya Allah, tambahkanlah karunia-Mu kepadanya dan berilah aku karunia yang lebih utama darinya.”
Doa ini dinukil dari nasihat Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Maknanya mengajarkan agar seseorang tetap mendoakan kebaikan bagi orang lain sekaligus memohon karunia Allah untuk dirinya sendiri.
Sikap tersebut sejalan dengan kandungan Surah An-Nisa ayat 32 yang mengajarkan agar manusia memohon karunia kepada Allah. Keberhasilan orang lain tidak perlu menjadi alasan untuk membenci atau merendahkannya.
Doa ini juga membantu seseorang memahami bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperoleh kebaikan melalui usaha dan karunia Allah SWT.
Arab:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Latin:
Rabbanaghfir lanā wa li-ikhwāninā alladzīna sabaqūnā bil-īmāni wa lā taj‘al fī qulūbinā ghillan lilladzīna āmanū, rabbanā innaka ra’ūfur raḥīm.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”
Doa ini terdapat dalam Surah Al-Hasyr ayat 10. Kandungannya sangat relevan ketika seseorang merasa hatinya terusik melihat keberhasilan orang lain.
Ayat tersebut mengajarkan agar seorang Muslim memohon ampunan sekaligus meminta kepada Allah supaya hatinya dibersihkan dari ghill, yaitu kedengkian atau kebencian terhadap sesama orang beriman.
Dengan membiasakan membaca doa ini, seseorang dapat belajar menerima nikmat yang diberikan kepada orang lain dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Arab:
لَيْتَنِيْ أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ
Latin:
Laitanī ūtītu mitsla mā ūtiya fulānun fa‘amiltu mitsla mā ya‘malu.
Artinya:
“Andai aku diberi sesuatu seperti yang diberikan kepada si fulan, niscaya aku akan melakukan seperti yang ia lakukan.”
Ungkapan ini berkaitan dengan hadis riwayat Bukhari dari Abdullah bin Umar tentang dua keadaan yang diperbolehkan untuk memiliki ghibthah, yakni keinginan memperoleh kebaikan serupa tanpa berharap nikmat orang lain hilang.
Rasulullah SAW menyebutkan seseorang yang diberi pemahaman Al-Qur’an lalu mengamalkannya, serta seseorang yang diberi harta kemudian membelanjakannya di jalan kebenaran.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kekaguman terhadap orang lain dapat menjadi motivasi untuk melakukan kebaikan. Seseorang boleh berharap memiliki ilmu, kemampuan, atau kesempatan serupa, selama tidak disertai kebencian terhadap nikmat yang dimiliki orang lain.
Mendoakan keberkahan bagi orang lain memiliki sejumlah hikmah. Kebiasaan ini membantu seseorang menjaga hati, menumbuhkan rasa syukur, dan memperkuat hubungan sosial.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir