Keboncinta.com-- Ada orang yang bisa begadang tapi tetap segar keesokan harinya. Ada juga yang baru duduk di kelas, ruang rapat, atau kendaraan umum lima belas menit saja, kelopak matanya sudah terasa berat.
Secara alami, tubuh manusia memang dirancang untuk merasa mengantuk pada waktu-waktu tertentu. Kita memiliki ritme sirkadian, yang mengatur kapan harus terjaga dan kapan harus tidur. Ritme ini dipengaruhi cahaya, aktivitas, dan hormon seperti melatonin. Biasanya rasa kantuk meningkat di malam hari dan sedikit menurun setelah tidur cukup.
Namun jika seseorang sering mengantuk di siang hari meskipun merasa sudah tidur cukup, ada beberapa kemungkinan yang perlu dipahami.
Kurang tidur tetap menjadi penyebab paling umum. Banyak orang merasa sudah “cukup” tidur padahal kualitas tidurnya buruk. Tidur larut malam, sering terbangun karena notifikasi ponsel, atau tidur dengan lampu menyala bisa mengganggu fase tidur dalam (deep sleep). Padahal fase inilah yang benar-benar memulihkan tubuh dan otak.
Selain durasi, konsistensi waktu tidur juga berpengaruh. Tidur jam 10 malam hari ini lalu jam 1 pagi keesokan harinya membuat jam biologis bingung. Tubuh sulit membentuk pola yang stabil, dan akibatnya rasa kantuk muncul di waktu yang tidak tepat.
Faktor lain yang sering tidak disadari adalah pola makan. Makanan tinggi gula sederhana dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat, diikuti penurunan drastis. Saat gula darah turun, tubuh terasa lemas dan mengantuk. Itu sebabnya setelah makan besar terutama makanan berat dan berlemak banyak orang merasa ingin tidur.
Kurangnya aktivitas fisik juga berperan. Ironisnya, semakin jarang bergerak, tubuh justru semakin mudah merasa lesu. Aktivitas fisik ringan membantu melancarkan sirkulasi darah dan meningkatkan suplai oksigen ke otak, sehingga kita lebih waspada.
Namun ada juga kondisi medis yang bisa menyebabkan kantuk berlebihan. Anemia misalnya, membuat tubuh kekurangan hemoglobin untuk membawa oksigen. Akibatnya, jaringan tubuh termasuk otak tidak mendapat suplai optimal, dan rasa lelah muncul terus-menerus.
Gangguan tiroid, terutama hipotiroidisme, juga dapat memperlambat metabolisme tubuh sehingga seseorang merasa lamban dan mengantuk. Begitu pula dengan sleep apnea, gangguan tidur yang menyebabkan napas terhenti sesaat saat tidur. Penderitanya mungkin tidur cukup lama, tetapi kualitas tidurnya terganggu tanpa disadari.
Stres dan beban mental pun tidak bisa diabaikan. Ketika pikiran terus bekerja tanpa jeda, otak mengalami kelelahan kognitif.