Keterlambatan bicara dapat dipengaruhi berbagai kondisi. Penyebabnya tidak selalu sama sehingga orang tua tidak sebaiknya langsung menyimpulkan bahwa anak hanya kurang mendapatkan stimulasi.
Berikut beberapa faktor yang perlu diperiksa.
Anak membutuhkan kemampuan mendengar untuk mengenali suara, mempelajari kata, dan meniru ucapan.
Gangguan pendengaran dapat membuat anak kesulitan menangkap informasi bahasa dari lingkungan.
Bahkan, sebagian anak dengan gangguan pendengaran ringan mungkin masih dapat merespons suara tertentu, tetapi mengalami kesulitan membedakan bunyi bahasa.
Karena itu, pemeriksaan pendengaran merupakan salah satu bagian penting dalam evaluasi keterlambatan bicara.
Sebagian anak dapat memahami perkataan orang lain, tetapi kesulitan menggunakan kata untuk menyampaikan keinginannya.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan keterlambatan atau gangguan bahasa ekspresif.
Anak mungkin memahami ketika diminta mengambil mainan, tetapi belum mampu mengatakan nama mainan atau menjelaskan apa yang diinginkannya.
Berbeda dengan gangguan ekspresif, kesulitan bahasa reseptif berkaitan dengan kemampuan memahami bahasa.
Anak mungkin tidak memahami instruksi sederhana, kesulitan mengenali nama benda, atau tidak dapat mengikuti percakapan sesuai tahap perkembangannya.
Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian karena pemahaman bahasa merupakan dasar penting dalam perkembangan komunikasi.
Keterlambatan bicara dapat ditemukan pada sebagian anak dengan gangguan spektrum autisme.
Namun, autisme tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan kemampuan berbicara.
Pemeriksaan perlu memperhatikan perkembangan komunikasi sosial, interaksi timbal balik, penggunaan gestur, pola perilaku, serta karakteristik perkembangan lainnya.
Anak yang terlambat bicara belum tentu mengalami autisme, sehingga orang tua sebaiknya tidak memberikan diagnosis sendiri.
Keterlambatan bicara juga dapat berkaitan dengan kondisi perkembangan saraf atau keterlambatan perkembangan umum.
Dalam situasi tertentu, anak mungkin mengalami hambatan pada beberapa aspek sekaligus, seperti bahasa, motorik, interaksi sosial, atau kemampuan kognitif.
Karena itu, dokter dapat melakukan pemeriksaan perkembangan secara menyeluruh untuk menentukan kebutuhan pendampingan.
Anak membutuhkan kesempatan untuk mendengarkan, meniru, merespons, dan menggunakan kata dalam interaksi sehari-hari.
Apabila sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan aktivitas pasif, seperti menonton layar tanpa pendampingan, kesempatan berkomunikasi secara langsung dapat berkurang.
Namun, kurangnya interaksi bukan satu-satunya penyebab keterlambatan bicara. Evaluasi tetap diperlukan untuk mengetahui faktor yang sebenarnya memengaruhi perkembangan anak.
Sebagian keluarga menggunakan beberapa bahasa dalam kehidupan sehari-hari, seperti bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.
Kondisi tersebut tidak dengan sendirinya menyebabkan gangguan bicara atau bahasa.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan multibahasa dapat mempelajari lebih dari satu bahasa secara bersamaan.
Kosakata anak mungkin tersebar pada beberapa bahasa. Karena itu, penilaian kemampuan bahasa perlu mempertimbangkan seluruh bahasa yang digunakan anak, bukan hanya satu bahasa.
ASHA menegaskan bahwa orang tua sebaiknya tetap menggunakan bahasa yang paling nyaman dan dikuasai ketika berkomunikasi dengan anak.
Orang tua tidak perlu menghentikan penggunaan bahasa daerah hanya karena khawatir anak mengalami keterlambatan bicara.
Jika terdapat kekhawatiran, sampaikan bahasa yang digunakan di rumah kepada dokter atau terapis wicara agar evaluasi dapat dilakukan secara tepat.
Stimulasi komunikasi dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana yang menyenangkan. Orang tua tidak harus menyediakan alat khusus atau membuat sesi latihan yang terlalu formal.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan.
Gunakan kegiatan rutin sebagai kesempatan memperkenalkan kata baru.
Contohnya, ketika sedang makan, orang tua dapat menyebutkan nama makanan, warna, rasa, dan aktivitas yang dilakukan.
"Kita makan nasi."
"Ini sayur wortel."
"Mau minum air?"
Ucapkan kalimat sederhana dan berikan waktu kepada anak untuk merespons.
Pilih buku dengan gambar besar dan kosakata yang mudah dikenali.
Ajak anak menunjuk gambar ketika orang tua menyebutkan nama benda.
Misalnya, "Mana gambar kucing?" atau "Ini mobil warna apa?"
Tidak perlu memaksa anak menghafalkan semua kata. Fokus pada interaksi dan kesempatan berkomunikasi.
Jika anak mengatakan "bola", orang tua dapat mengembangkan menjadi "bola besar" atau "bola merah".
Jika anak mengatakan "mau susu", orang tua dapat merespons dengan kalimat yang sedikit lebih lengkap.
Cara ini memberikan contoh penggunaan bahasa tanpa mengharuskan anak langsung mengucapkan kalimat panjang.
Alih-alih selalu bertanya dengan jawaban ya atau tidak, berikan pilihan yang dapat dijawab anak.
Contohnya:
"Mau pisang atau apel?"
"Mau baju merah atau biru?"
"Mau bermain bola atau mobil?"
Berikan waktu kepada anak untuk menunjuk, mengeluarkan suara, atau mengucapkan pilihan yang diinginkan.
Gunakan mainan yang disukai anak untuk memperkenalkan kata.
Misalnya, ketika bermain mobil-mobilan, orang tua dapat mengatakan:
"Mobil jalan."
"Mobil berhenti."
"Mobil warna merah."
Aktivitas ini membantu anak menghubungkan kata dengan benda dan tindakan yang sedang dilakukan.
Lagu anak dapat membantu memperkenalkan bunyi, ritme, kosakata, dan pola bahasa.
Pilih lagu sederhana yang melibatkan gerakan, seperti lagu mengenai anggota tubuh atau hewan.
Ajak anak mengikuti gerakan dan mengucapkan bagian kata yang sudah dikenalnya.
Kurangi kebiasaan anak menonton televisi atau menggunakan gawai tanpa pendampingan.
CDC menyarankan waktu layar untuk anak usia 2 tahun tidak lebih dari satu jam sehari untuk program anak, dengan pendampingan orang dewasa.
Anak belajar bahasa melalui percakapan, permainan, dan interaksi langsung. Karena itu, kegiatan tersebut sebaiknya lebih diutamakan daripada menonton layar secara pasif.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir