KebonCinta.com – Pernahkah orang tua melihat anak sebenarnya mampu melakukan sesuatu, tetapi memilih tidak mencoba karena takut salah?
Misalnya, anak menolak menjawab pertanyaan guru meskipun mengetahui jawabannya. Ada pula yang enggan mengikuti lomba menggambar karena khawatir hasil karyanya tidak sebagus milik teman.
Dalam situasi lain, anak bahkan menolak memulai pekerjaan rumah karena merasa tidak akan mampu menyelesaikannya dengan benar.
Kondisi tersebut dapat membuat orang tua bertanya-tanya. Mengapa anak begitu takut melakukan kesalahan? Apakah ia kurang percaya diri, terlalu bergantung pada orang tua, atau sedang mengalami tekanan tertentu?
Rasa takut melakukan kesalahan sebenarnya dapat muncul dalam proses perkembangan anak. Namun, apabila kekhawatiran tersebut membuat anak terus menghindari pengalaman baru, orang tua perlu memberikan pendampingan yang tepat.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa perfeksionisme yang tidak sehat dapat membuat anak memandang kesalahan sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup mampu.
Akibatnya, anak mungkin lebih memilih tidak mencoba daripada menghadapi kemungkinan gagal.
Untuk membantu anak menghadapi keadaan tersebut, orang tua perlu memahami penyebabnya sebelum memberikan dorongan.
Ketakutan anak tidak selalu muncul karena satu penyebab.
Sebagian anak pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan ketika melakukan kesalahan, misalnya dimarahi dengan keras, dibandingkan dengan saudara, atau ditertawakan teman.
Ada pula anak yang terbiasa memperoleh pujian hanya ketika mendapatkan nilai tinggi atau memenangkan perlombaan.
Tanpa disadari, pengalaman tersebut dapat membentuk anggapan bahwa dirinya hanya akan dihargai apabila berhasil.
Pada anak lain, ketakutan dapat berkaitan dengan sifat yang sangat berhati-hati, rasa cemas, atau belum terbiasa menghadapi tugas yang menantang.
Karena penyebabnya berbeda-beda, orang tua sebaiknya tidak langsung menyebut anak malas, manja, atau penakut.
Yang lebih penting adalah memahami situasi yang membuat anak merasa tidak aman untuk mencoba.
Ketika anak menolak mencoba sesuatu, orang tua mungkin spontan mengatakan, "Sudah, jangan takut. Coba saja!"
Kalimat tersebut biasanya dimaksudkan untuk memberikan semangat. Namun, bagi anak yang sedang cemas, perintah itu belum tentu membantu memahami atau mengatasi ketakutannya.
Cobalah memulai percakapan dengan pertanyaan yang lebih terbuka.
Misalnya, "Bagian mana yang membuat kamu khawatir?" atau "Apa yang menurutmu akan terjadi kalau hasilnya belum bagus?"
Berikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan perasaannya.
Jika anak mengatakan takut dimarahi, orang tua perlu menanggapi dengan tenang dan meninjau kembali cara memberikan koreksi selama ini.
Jika anak takut ditertawakan teman, orang tua dapat menanyakan apakah pernah terjadi pengalaman tertentu di sekolah.
Dengan mendengarkan terlebih dahulu, orang tua dapat menentukan bentuk dukungan yang sesuai.
Salah satu langkah penting adalah mengubah cara orang tua merespons kekeliruan anak.
Misalnya, anak menumpahkan minuman ketika berusaha membantu menyiapkan meja makan.
Daripada langsung memarahinya, orang tua dapat mengajak anak membersihkan tumpahan dan menunjukkan cara membawa gelas dengan lebih aman.
Anak tetap diajarkan bertanggung jawab, tetapi tidak perlu dibuat merasa bahwa dirinya buruk hanya karena melakukan kesalahan.
UNICEF menjelaskan bahwa pengasuhan positif menekankan bimbingan, hubungan yang hangat, serta koreksi perilaku tanpa mempermalukan anak.
Ketika anak merasa aman untuk belajar dari kekeliruan, ia memiliki kesempatan lebih besar untuk mencoba kembali.
Namun, pendekatan ini bukan berarti membiarkan semua perilaku tanpa batas.
Jika anak melakukan tindakan yang membahayakan atau merugikan orang lain, orang tua tetap perlu memberikan arahan serta konsekuensi yang sesuai.
Baca Juga: Jangan Langsung Dimarahi, Begini Cara Menghadapi Anak yang Sering Mengelak
Anak yang sangat takut gagal mungkin merasa kewalahan ketika langsung diminta menghadapi tantangan besar.
Karena itu, kegiatan dapat dibagi menjadi langkah-langkah kecil.
Misalnya, seorang anak takut membaca cerita di depan kelas.
Orang tua dapat memulai dengan mengajaknya membaca satu paragraf di rumah.
Setelah cukup nyaman, anak dapat berlatih membaca di depan satu anggota keluarga.
Tahap berikutnya, ia mencoba membaca di depan beberapa orang yang dikenal sebelum menghadapi kegiatan di kelas.
Setiap tahap perlu disesuaikan dengan kesiapan anak.
Tujuannya bukan memaksa anak menjadi berani dalam waktu singkat, melainkan membantu anak memperoleh pengalaman bahwa ia mampu menghadapi tantangan secara bertahap.
Strategi serupa dapat digunakan untuk belajar naik sepeda, mencoba olahraga baru, mengikuti permainan kelompok, atau menyampaikan pendapat.
Sebagian orang tua terbiasa memberikan pujian ketika anak memperoleh nilai bagus.
Pujian tentu dapat memberikan semangat. Namun, apabila perhatian hanya diberikan pada hasil akhir, anak mungkin menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang harus dihindari.
American Academy of Pediatrics menyarankan agar orang tua memperhatikan usaha, proses, serta perkembangan kemampuan anak.
Sebagai contoh, daripada hanya mengatakan, "Hebat, kamu mendapat nilai 100," orang tua dapat mengatakan, "Ibu melihat kamu berusaha memahami soal yang sulit dan memeriksa jawabanmu."
Pujian seperti itu menunjukkan perilaku yang dapat diulang anak pada kesempatan berikutnya.
Ketika hasilnya belum baik, orang tua dapat bertanya mengenai strategi belajar yang sudah digunakan.
Dengan demikian, keberhasilan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan sekadar hasil yang menunjukkan siapa anak paling pintar.
Anak belajar dari kebiasaan orang dewasa di sekitarnya.
Jika orang tua selalu berusaha tampak benar dan sulit mengakui kesalahan, anak mungkin menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang memalukan.
Sebaliknya, orang tua dapat menunjukkan cara menghadapi kekeliruan dengan wajar.
Misalnya, ketika salah menghitung uang belanja, orang tua dapat mengatakan bahwa perhitungannya perlu diperiksa ulang.
Ketika salah mengambil keputusan, orang tua dapat menjelaskan bagaimana ia memperbaikinya.
Anak tidak perlu mengetahui seluruh persoalan orang dewasa. Cukup gunakan pengalaman sederhana yang sesuai dengan usianya.
Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa melakukan kesalahan tidak menjadikan seseorang tidak berharga.
Yang penting adalah berani mengakui, belajar, dan memperbaikinya.
Perbandingan sering digunakan untuk memotivasi anak, tetapi dapat menimbulkan tekanan yang tidak diinginkan.
Misalnya, orang tua mengatakan, "Kakakmu dulu langsung bisa, kenapa kamu tidak?"
Kalimat tersebut dapat membuat anak semakin takut menunjukkan kemampuan yang belum sempurna.
Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan, minat, dan pengalaman belajar yang berbeda.
UNICEF mengingatkan bahwa membandingkan anak dengan orang lain dapat membuat mereka merasa dinilai berdasarkan pencapaian orang lain.
Sebagai alternatif, orang tua dapat membandingkan perkembangan anak dengan kemampuannya sendiri sebelumnya.
Misalnya, "Minggu lalu kamu masih kesulitan membaca satu halaman. Sekarang kamu sudah bisa menyelesaikannya dengan lebih lancar."
Pendekatan ini membantu anak melihat kemajuan yang nyata tanpa harus merasa kalah dari orang lain.
Cara anak berbicara kepada dirinya sendiri dapat memengaruhi kesediaannya menghadapi tantangan.
Anak yang sering mengatakan, "Aku pasti salah," dapat dibantu untuk menyusun kalimat yang lebih realistis.
Contohnya:
Kalimat tersebut bukan jaminan anak akan langsung percaya diri.
Namun, orang tua dapat menggunakannya sebagai bagian dari kebiasaan menghadapi kesulitan tanpa menyalahkan diri sendiri.
Yang terpenting, kata-kata positif harus didukung oleh respons orang tua yang konsisten ketika anak benar-benar melakukan kesalahan.
Ada anak yang lebih mudah mencoba ketika diberi kesempatan memilih cara memulai kegiatan.
Misalnya, anak takut mengerjakan soal Matematika karena merasa terlalu sulit.
Daripada langsung memintanya mengerjakan seluruh soal, orang tua dapat menawarkan dua pilihan.
"Bagaimana kalau mulai dari dua soal yang paling mudah, atau kita baca contoh pengerjaannya lebih dahulu?"
Pilihan tersebut tetap mengarahkan anak pada tujuan belajar, tetapi memberikan ruang untuk menentukan langkah awal.
Cara ini juga dapat digunakan ketika anak belajar menggambar, membaca, berolahraga, atau menyelesaikan tugas rumah.
Berikan pilihan yang sederhana dan realistis agar anak tidak semakin bingung.
Rasa takut melakukan kesalahan tidak selalu menunjukkan gangguan psikologis.
Namun, orang tua perlu memberikan perhatian lebih apabila ketakutan anak semakin berat dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan adalah anak terus menolak pergi ke sekolah, mengalami masalah tidur, sering mengeluh sakit ketika menghadapi tugas, menarik diri dari pertemanan, atau mengalami kecemasan berkepanjangan.
National Health Service (NHS) menjelaskan bahwa kecemasan pada anak memerlukan perhatian ketika mulai mengganggu aktivitas, hubungan sosial, dan kesejahteraannya.
Jika keadaan tersebut terjadi, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog anak, dokter, atau tenaga kesehatan yang kompeten.
Guru juga dapat dilibatkan untuk mengetahui apakah anak mengalami kesulitan serupa di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Anak Takut Tampil di Depan Kelas? Cara Membantu Berlatih tanpa Memaksanya
Anak membutuhkan kesempatan untuk mencoba, gagal, memperbaiki, dan mencoba kembali.
Proses tersebut tidak selalu berlangsung cepat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir