Kesulitan membaca, berhitung, mengingat informasi, memahami instruksi, atau mempertahankan konsentrasi dapat membuat anak merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya.
Jika kondisi tersebut tidak segera dikenali, anak dapat kehilangan kepercayaan diri dan mulai menghindari kegiatan belajar.
Dalam situasi seperti ini, orang tua perlu mencari tahu apakah anak membutuhkan metode pembelajaran yang berbeda, waktu tambahan, atau pemeriksaan lebih lanjut terkait kesulitan belajarnya.
Tidak semua anak yang kecewa mendapatkan nilai rendah mengalami kecemasan akademik. Orang tua perlu memperhatikan apakah respons tersebut hanya berlangsung sementara atau sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
| Tanda yang Terlihat | Hal yang Perlu Diperhatikan |
|---|---|
| Menangis setelah mendapatkan nilai rendah | Anak mungkin menganggap hasil ujian sebagai ukuran harga dirinya |
| Takut memperlihatkan rapor | Khawatir terhadap reaksi orang tua |
| Terus bertanya apakah jawabannya benar | Membutuhkan kepastian berlebihan |
| Sulit tidur menjelang ujian | Kemungkinan mengalami kecemasan menghadapi penilaian |
| Menghindari tugas yang dianggap sulit | Takut melakukan kesalahan atau gagal |
| Sering membandingkan nilai dengan teman | Kepercayaan diri terlalu bergantung pada pencapaian orang lain |
| Mengeluh sakit kepala atau sakit perut sebelum ujian | Dapat menjadi respons fisik terhadap kecemasan |
| Menyebut dirinya bodoh setelah gagal | Memiliki penilaian negatif terhadap kemampuan diri |
American Psychological Association menjelaskan bahwa kecemasan pada anak dapat terlihat melalui gejala fisik, emosional, dan perilaku.
Gejala fisik dapat berupa jantung berdebar, berkeringat, sakit kepala, dan gangguan tidur. Sementara itu, gejala emosional dapat berupa kekhawatiran berlebihan, sulit berkonsentrasi, serta pikiran negatif mengenai kemungkinan gagal.
Jika tanda-tanda tersebut terjadi secara berulang dan mengganggu aktivitas anak, orang tua sebaiknya mencari bantuan yang sesuai.
Ketakutan terhadap nilai rendah yang tidak ditangani dapat memengaruhi pengalaman belajar dan perkembangan emosional anak.
Salah satu penelitian penting yang membahas hal ini adalah meta-analisis Robson dan rekan-rekan (2023) dalam Journal of School Psychology.
Penelitian tersebut menganalisis 76 studi dengan 85 sampel independen yang melibatkan total 53.617 anak usia 5–12 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa kecemasan menghadapi ujian berkaitan dengan beberapa aspek perkembangan akademik dan psikologis, antara lain:
Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara kecemasan ujian dan berbagai hasil akademik maupun psikologis. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa setiap anak yang takut mendapatkan nilai rendah pasti mengalami gangguan mental atau mempunyai prestasi buruk.
Beberapa dampak yang perlu diwaspadai meliputi:
Anak dapat mulai meragukan kemampuannya sendiri, bahkan ketika sebenarnya mempunyai potensi untuk berkembang.
Karena takut melakukan kesalahan, anak cenderung memilih tugas yang mudah dan menghindari tantangan.
Anak dapat belajar hanya untuk menghindari kemarahan atau mendapatkan pujian, bukan karena mempunyai keinginan untuk memahami materi.
Jika nilai selalu menjadi sumber pertengkaran, anak dapat merasa tidak nyaman membicarakan perkembangan sekolahnya di rumah.
Kecemasan yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi suasana hati, kualitas tidur, konsentrasi, dan hubungan sosial anak.
Orang tua mempunyai peran penting dalam membantu anak memahami bahwa nilai merupakan bagian dari proses belajar, bukan penentu harga diri.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan.
Ketika anak menunjukkan hasil ujian, jangan langsung berfokus pada angka.
Jika anak mendapatkan nilai rendah, hindari respons seperti:
Kalimat tersebut dapat membuat anak semakin takut menunjukkan hasil belajarnya.
Sebagai gantinya, orang tua dapat mengatakan:
"Terima kasih sudah memperlihatkan hasilnya. Yuk, kita lihat bersama bagian mana yang sudah kamu kuasai dan bagian mana yang masih perlu dipelajari."
Respons seperti ini membantu anak memahami bahwa orang tua hadir untuk mendampingi, bukan hanya memberikan penilaian.
Anak perlu memahami bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh nilai tertinggi.
Orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap usaha, ketekunan, dan perkembangan yang terlihat selama proses belajar.
Misalnya, ketika anak sebelumnya kesulitan mengerjakan soal matematika tetapi sekarang mampu menyelesaikan beberapa soal secara mandiri, kemajuan tersebut layak dihargai.
American Psychological Association juga menyoroti pentingnya menekankan kemajuan belajar daripada hanya berfokus pada nilai dan hasil ujian.
Penelitian Autin dan Croizet yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Psychology: General menunjukkan bahwa membantu siswa memahami bahwa kesulitan merupakan bagian normal dari proses belajar dapat mengurangi perasaan tidak mampu dalam menghadapi tugas yang menantang.
Setiap anak mempunyai kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda.
Membandingkan nilai hanya akan membuat anak berfokus pada pencapaian orang lain.
Sebaliknya, bantu anak melihat perkembangan dirinya sendiri.
Contohnya:
"Dulu kamu masih kesulitan mengerjakan soal seperti ini. Sekarang sudah lebih banyak yang bisa kamu selesaikan. Kita lanjutkan latihan sedikit demi sedikit."
Dengan cara tersebut, anak belajar bahwa kemajuan tidak selalu harus diukur berdasarkan posisi dibandingkan orang lain.
Kesalahan tidak selalu berarti anak gagal. Dalam proses pembelajaran, kesalahan dapat menjadi sumber informasi untuk mengetahui bagian yang belum dipahami.
Ketika anak salah menjawab soal, ajak ia mencari tahu penyebabnya.
Apakah karena belum memahami konsep, salah membaca pertanyaan, kurang teliti, atau belum cukup berlatih?
Pendekatan tersebut membantu anak mengubah cara pandang dari "Aku tidak pintar" menjadi "Aku belum memahami bagian ini".
Orang tua juga dapat memberikan contoh melalui pengalaman pribadi ketika pernah melakukan kesalahan dan belajar memperbaikinya.
Target akademik sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi anak.
Jangan langsung meminta anak meningkatkan nilai secara drastis apabila ia masih mengalami kesulitan memahami materi dasar.
Mulailah dengan target kecil dan terukur.
Contohnya:
Target yang realistis membantu anak merasakan keberhasilan secara bertahap.
Anak dapat mempunyai cara belajar yang berbeda-beda.
Ada yang lebih mudah memahami materi melalui gambar, membaca, mendengarkan penjelasan, berdiskusi, atau mengerjakan latihan.
Orang tua dapat mengajak anak mencoba beberapa metode dan melihat mana yang paling membantu.
Namun, perlu diingat bahwa tidak ada satu gaya belajar tetap yang terbukti paling efektif untuk setiap anak. Yang lebih penting adalah menggunakan strategi belajar yang sesuai dengan materi dan kebutuhan anak.
Contohnya, matematika membutuhkan latihan penyelesaian soal, sedangkan pembelajaran bahasa dapat melibatkan membaca, mendengarkan, berbicara, dan menulis.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir