Anak juga dapat berteriak ketika merasa pendapat atau keinginannya tidak diperhatikan.
Misalnya, anak sudah beberapa kali meminta bantuan, tetapi orang tua sedang sibuk sehingga tidak segera merespons.
Dalam kondisi tertentu, anak mungkin meninggikan suara karena merasa cara berbicara biasa tidak cukup untuk mendapatkan perhatian.
Orang tua perlu mengajarkan bahwa kebutuhan dapat disampaikan dengan cara yang jelas tanpa harus berteriak.
Namun, penting juga bagi orang tua untuk memberikan kesempatan anak menyampaikan pendapat dan menunjukkan bahwa perkataannya didengarkan.
Pada anak usia sekolah dan remaja, kebiasaan berteriak dapat berkaitan dengan persoalan yang lebih kompleks.
Misalnya, konflik dengan teman, tekanan akademik, pengalaman perundungan, perubahan lingkungan keluarga, atau kesulitan mengelola kecemasan.
Sebagian anak tidak mampu menjelaskan masalah yang sedang dihadapi sehingga menunjukkan perubahan perilaku, seperti mudah marah, meninggikan suara, atau sering terlibat pertengkaran.
Jika perilaku berteriak muncul bersamaan dengan perubahan suasana hati, penurunan prestasi, atau penarikan diri dari lingkungan sosial, orang tua perlu mencari tahu kondisi yang mendasarinya.
Tidak selalu. Teriakan merupakan bentuk perilaku yang dapat muncul dalam berbagai situasi, sedangkan tantrum merupakan ledakan emosi yang melibatkan respons emosional dan perilaku lebih luas.
Anak dapat berteriak ketika senang, bersemangat, ingin memanggil seseorang, atau meminta perhatian. Dalam situasi tersebut, teriakan belum tentu berkaitan dengan kehilangan kendali emosi.
Sementara itu, tantrum biasanya melibatkan beberapa respons sekaligus, seperti menangis, berteriak, menolak instruksi, menghentakkan kaki, atau menjatuhkan tubuh ke lantai.
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP) menjelaskan bahwa tantrum pada anak kecil merupakan respons terhadap frustrasi, kemarahan, atau tekanan emosional.
Pada usia balita, tantrum dapat berlangsung singkat dan menjadi bagian dari perkembangan pengendalian emosi.
Namun, apabila ledakan emosi sangat sering, berlangsung lama, semakin intens, atau disertai perilaku menyakiti diri sendiri maupun orang lain, orang tua perlu mempertimbangkan evaluasi lebih lanjut.
Memahami konteks perilaku membantu orang tua menentukan respons yang tepat.
Berikut gambaran perbedaannya.
| Aspek | Teriakan karena Tantrum | Teriakan untuk Mendapatkan Perhatian |
|---|---|---|
| Pemicu | Frustrasi, kecewa, atau keinginan tidak terpenuhi | Ingin diperhatikan atau mendapatkan respons |
| Kondisi emosi | Dapat terlihat sangat kesal atau kewalahan | Dapat tetap tenang di antara teriakan |
| Perilaku lain | Menangis, menghentakkan kaki, atau menolak | Memanggil, meninggikan suara, atau mengulang permintaan |
| Respons yang dibutuhkan | Membantu anak menenangkan diri dan menjaga keselamatan | Mengajarkan cara meminta perhatian secara tepat |
| Pendekatan | Validasi emosi dan batasan perilaku | Perhatian positif dan penguatan komunikasi yang baik |
Tabel tersebut hanya memberikan gambaran umum. Orang tua tidak dapat selalu mengetahui tujuan perilaku anak hanya dari suara atau ekspresi wajahnya.
Karena itu, perhatikan situasi sebelum teriakan muncul, respons orang dewasa, dan apakah perilaku tersebut terus berulang dalam kondisi yang sama.
Sesekali berteriak atau mengalami tantrum tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan perkembangan.
Namun, orang tua perlu memperhatikan apabila perilaku semakin sering dan mulai mengganggu kehidupan anak maupun keluarga.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
| Tanda | Hal yang Perlu Diperhatikan |
|---|---|
| Berteriak hampir setiap hari dengan intensitas tinggi | Kesulitan mengelola emosi yang perlu dievaluasi |
| Teriakan disertai tindakan memukul atau menendang | Risiko menyakiti diri sendiri atau orang lain |
| Ledakan emosi berlangsung sangat lama | Kesulitan menenangkan diri |
| Berteriak dalam hampir semua situasi | Pola perilaku yang mengganggu aktivitas |
| Sulit berkomunikasi ketika marah | Kemungkinan kesulitan komunikasi atau regulasi emosi |
| Menolak sekolah atau kegiatan sosial | Kemungkinan tekanan emosional |
| Merusak barang ketika berteriak | Perilaku yang membutuhkan perhatian lebih lanjut |
AACAP menjelaskan bahwa ledakan emosi yang sangat sering, intens, tidak sesuai dengan tahap perkembangan, atau mengganggu kehidupan keluarga dan sekolah perlu dievaluasi secara lebih menyeluruh.
Mengajarkan anak berbicara dengan suara yang wajar membutuhkan konsistensi dan contoh dari orang dewasa.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan orang tua.
Ketika anak berteriak, orang tua mungkin secara spontan ingin meninggikan suara agar anak segera diam.
Namun, membalas teriakan dengan bentakan justru dapat membuat situasi semakin tegang.
American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa membentak atau mempermalukan anak bukan strategi disiplin yang efektif dalam jangka panjang.
Karena itu, usahakan menggunakan suara yang tenang dan kalimat singkat.
Contohnya:
"Ibu mendengar kamu. Coba bicara lebih pelan supaya Ibu bisa memahami."
"Kamu boleh marah, tetapi kita tidak perlu berteriak."
Orang tua juga dapat mengambil jeda sejenak jika merasa mulai kehilangan kesabaran, selama anak tetap berada dalam kondisi aman.
Jangan langsung menegur tanpa mengetahui apa yang membuat anak meninggikan suara.
Perhatikan situasi yang terjadi sebelum perilaku muncul.
Apakah anak sedang lapar, mengantuk, berebut mainan, merasa kecewa, atau tidak mendapatkan perhatian?
Jika penyebabnya dapat dikenali, orang tua akan lebih mudah menentukan pendekatan.
Misalnya, jika anak sering berteriak menjelang waktu makan, pastikan jadwal makan lebih teratur. Jika perilaku muncul ketika mainannya diambil, ajarkan cara menyampaikan ketidaksetujuan.
Anak perlu belajar bahwa setiap emosi mempunyai nama dan dapat disampaikan dengan cara yang tepat.
Ketika anak mulai berteriak, orang tua dapat membantu mengenali perasaan yang sedang muncul.
Contohnya:
"Kamu sedang marah karena mainannya diambil?"
"Kamu kecewa karena tidak boleh menonton lagi?"
"Kamu sedih karena temanmu tidak mau bermain?"
Pendekatan ini dikenal sebagai emotion coaching, yaitu membantu anak mengenali, memahami, dan mengelola emosi melalui pendampingan orang dewasa.
CDC menyarankan orang tua untuk memperhatikan emosi anak, membangun hubungan, mendengarkan, memberikan nama pada perasaan, dan membantu menemukan solusi.
Jangan hanya meminta anak berhenti berteriak. Berikan contoh perilaku yang dapat menggantikannya.
Misalnya, ajarkan anak mengatakan:
Latihan dapat dilakukan ketika anak sedang tenang.
Jika anak masih kecil, gunakan kalimat yang lebih sederhana dan sesuaikan dengan kemampuan bahasanya.
Jangan hanya memperhatikan anak ketika ia berteriak.
Berikan respons positif ketika anak menyampaikan keinginan dengan suara yang wajar.
Contohnya:
"Terima kasih sudah meminta dengan baik."
"Ibu senang kamu bisa mengatakan apa yang kamu rasakan."
"Bagus, kamu sudah bicara dengan tenang."
CDC menjelaskan bahwa pujian yang spesifik dapat membantu memperkuat perilaku yang diharapkan.
Dengan demikian, anak memahami bahwa komunikasi yang tenang juga membuat kebutuhannya didengarkan.
Orang tua perlu mempunyai aturan yang jelas mengenai perilaku berteriak.
Misalnya, anak boleh menyampaikan kemarahan, tetapi tidak boleh berteriak di dekat telinga orang lain, mengancam, atau menggunakan suara keras untuk menyakiti.
Jika anak berteriak karena ingin mendapatkan sesuatu yang sebelumnya sudah ditolak, jangan langsung mengubah keputusan hanya untuk menghentikan suara keras.
Namun, tetap dengarkan kebutuhan anak dan berikan penjelasan singkat.
Konsistensi membantu anak memahami bahwa berteriak bukan cara untuk mengubah setiap keputusan orang tua.
Perhatikan kebutuhan tidur, makan, istirahat, dan aktivitas anak.
Anak yang terlalu lelah dapat lebih sulit mengendalikan emosinya.
Buat jadwal yang seimbang antara sekolah, bermain, aktivitas fisik, waktu keluarga, dan istirahat.
Selain itu, hindari memberikan terlalu banyak aktivitas dalam satu waktu, terutama jika anak masih berusia dini.
Anak belajar cara berbicara melalui interaksi sehari-hari.
Jika orang tua terbiasa berteriak ketika marah, anak dapat meniru pola tersebut.
Karena itu, tunjukkan cara menyampaikan ketidaksetujuan tanpa meninggikan suara.
Misalnya:
"Ayah sedang kesal, jadi Ayah akan tenang dulu sebelum berbicara."
"Ibu tidak setuju, tetapi kita bisa membicarakannya baik-baik."
Ketika orang tua melakukan kesalahan dan sempat membentak, tidak ada salahnya meminta maaf kepada anak dan menjelaskan bahwa berbicara dengan suara keras bukan cara yang tepat.
Respons orang tua pada saat anak berteriak dapat membantu menentukan arah interaksi selanjutnya.
Berikut beberapa contoh kalimat yang dapat digunakan.
| Situasi | Kalimat yang Dapat Digunakan |
|---|---|
| Anak berteriak meminta sesuatu | "Ibu dengar. Coba sampaikan dengan suara yang lebih pelan." |
| Anak marah karena dilarang | "Kamu boleh kecewa, tetapi keputusan ini tetap berlaku." |
| Anak berteriak ketika bermain | "Kalau ingin giliran, kamu bisa meminta dengan baik." |
| Anak menangis dan berteriak | "Ibu ada di sini. Kita tenangkan diri dulu." |
| Anak berteriak untuk mencari perhatian | "Ibu akan mendengarkan kalau kamu berbicara dengan tenang." |
| Anak berteriak kepada saudara | "Kita tidak perlu berteriak. Katakan apa yang membuatmu kesal." |
| Anak berteriak di tempat umum | "Kita cari tempat yang lebih tenang, lalu bicarakan bersama." |
Kalimat tersebut sebaiknya disampaikan dengan nada yang stabil dan disesuaikan dengan usia anak.
Jangan mengharapkan anak langsung mampu mengendalikan emosinya setelah satu kali diberikan penjelasan. Kemampuan tersebut membutuhkan latihan berulang.
Perilaku berteriak pada anak usia dini dapat menjadi bagian dari perkembangan emosional.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir