Parenting
M. Panji Maulana

Anak Sering Teriak-Teriak? Kenali Penyebab dan Cara Mengajarkan Anak Mengendalikan Emosi

Anak Sering Teriak-Teriak? Kenali Penyebab dan Cara Mengajarkan Anak Mengendalikan Emosi

08 November 2026 | 15:22

KebonCinta.com – Menghadapi anak yang sering berteriak terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Ada anak yang berteriak ketika permintaannya tidak dipenuhi, meninggikan suara saat dinasihati, atau sengaja berbicara dengan keras ketika menginginkan perhatian. Sebagian lainnya menangis dan berteriak ketika merasa kesal, kecewa, atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Situasi tersebut dapat membuat orang tua kehilangan kesabaran. Tidak jarang, respons yang muncul justru berupa bentakan, ancaman, atau teguran dengan suara yang lebih keras. Akibatnya, suasana rumah semakin tegang dan anak belum tentu memahami bagaimana seharusnya menyampaikan perasaan.

Padahal, kebiasaan berteriak dapat mempunyai berbagai penyebab. Pada anak usia dini, perilaku tersebut bisa berkaitan dengan kemampuan bahasa dan pengendalian emosi yang masih berkembang. Sementara itu, pada anak usia sekolah, teriakan dapat muncul sebagai respons terhadap frustrasi, konflik, tekanan emosional, atau kebiasaan komunikasi yang terbentuk di lingkungan sekitarnya.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa balita dan anak prasekolah masih membutuhkan bantuan orang dewasa untuk memahami serta mengelola emosi. Ketika merasa kewalahan, mereka dapat menunjukkan ledakan emosi atau tantrum karena belum mampu menyampaikan kebutuhan secara tepat.

Namun, tidak semua perilaku berteriak merupakan tantrum. Anak juga dapat berteriak untuk mencari perhatian, menyampaikan kegembiraan, meniru orang lain, atau karena belum memahami batasan berbicara dalam situasi tertentu.

Karena itu, orang tua perlu memahami penyebab perilaku sebelum menentukan cara mengatasinya. Tujuannya bukan membuat anak selalu diam, melainkan membantu mereka mengungkapkan perasaan dengan cara yang lebih tepat tanpa menyakiti atau mengganggu orang lain.

Lantas, mengapa anak sering berteriak-teriak? Bagaimana membedakan teriakan biasa dengan ledakan emosi yang perlu diperhatikan? Berikut penyebab dan cara mengajarkan anak mengendalikan emosi.

Mengapa Anak Sering Berteriak-Teriak?

Perilaku berteriak dapat muncul dalam berbagai situasi dan tidak selalu mempunyai penyebab yang sama.

Sebagian anak berteriak karena belum mampu mengelola emosi, sedangkan sebagian lainnya menggunakan suara keras sebagai cara untuk mendapatkan perhatian atau menyampaikan keinginan.

Berikut beberapa penyebab yang perlu dipahami orang tua.

1. Anak Belum Mampu Mengendalikan Emosi

Kemampuan mengatur emosi berkembang secara bertahap. Anak kecil belum selalu mampu memahami perasaan yang muncul, apalagi mengendalikan respons ketika sedang marah atau kecewa.

Misalnya, ketika mainannya diambil, anak mungkin langsung berteriak karena belum mampu menyampaikan ketidaksetujuannya dengan kata-kata.

Begitu pula ketika orang tua melarangnya bermain atau meminta anak menghentikan aktivitas yang disukai.

Dalam kondisi tersebut, teriakan dapat menjadi salah satu bentuk ekspresi emosi yang belum terkelola dengan baik.

CDC menjelaskan bahwa anak usia dini membutuhkan bimbingan orang tua untuk mengenali perasaan, menenangkan diri, dan menemukan cara yang lebih tepat dalam merespons situasi yang membuat frustrasi.

2. Anak Belum Mampu Menyampaikan Keinginan dengan Jelas

Kemampuan bahasa mempunyai hubungan erat dengan cara anak mengekspresikan kebutuhan.

Anak yang belum mempunyai kosakata cukup mungkin mengalami kesulitan menjelaskan apa yang diinginkan.

Akibatnya, ia dapat menggunakan suara keras, menangis, atau berteriak ketika orang tua tidak memahami maksudnya.

Contohnya, anak ingin mengambil mainan yang berada di tempat tinggi, tetapi belum mampu meminta bantuan dengan kalimat yang jelas.

Ketika orang tua tidak segera memahami kebutuhannya, anak menjadi frustrasi dan mulai berteriak.

Dalam situasi seperti ini, orang tua dapat membantu dengan mengenalkan kalimat sederhana, seperti "Tolong ambilkan", "Aku mau itu", atau "Aku tidak suka".

3. Anak Berteriak untuk Mendapatkan Perhatian

Sebagian anak menyadari bahwa suara keras membuat orang tua segera memberikan respons.

Misalnya, ketika anak berbicara dengan suara biasa tetapi tidak segera diperhatikan, ia kemudian meninggikan suara sampai orang tua menoleh.

Perilaku tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan apabila setiap teriakan selalu diikuti perhatian yang lebih besar.

CDC menjelaskan bahwa perhatian orang tua, baik positif maupun negatif, dapat memengaruhi kemungkinan suatu perilaku terulang.

Karena itu, orang tua perlu memberikan perhatian positif ketika anak menyampaikan keinginan dengan suara yang wajar, bukan hanya merespons ketika anak berteriak.

4. Anak Mengalami Tantrum karena Keinginannya Tidak Terpenuhi

Temper tantrum merupakan ledakan emosi yang dapat ditunjukkan melalui tangisan, teriakan, menjerit, menghentakkan kaki, atau perilaku fisik lainnya.

Kondisi ini umum terjadi pada anak usia dini, terutama ketika mereka sedang belajar mengembangkan kemandirian tetapi belum mampu mengelola rasa frustrasi.

Misalnya, anak berteriak ketika tidak diperbolehkan membeli mainan, diminta berhenti menonton, atau harus meninggalkan tempat bermain.

Menurut National Health Service (NHS), tantrum umumnya mulai muncul sekitar usia 18 bulan dan cukup sering terjadi pada masa balita. Perilaku tersebut biasanya semakin berkurang seiring berkembangnya kemampuan komunikasi dan pengendalian diri.

Namun, orang tua tetap perlu memberikan batasan yang jelas agar anak memahami bahwa berteriak tidak selalu membuat keinginannya harus dipenuhi.

5. Anak Meniru Cara Berkomunikasi Orang di Sekitarnya

Anak belajar melalui pengamatan dan peniruan.

Jika anak sering melihat orang dewasa berbicara dengan suara keras, membentak, atau berteriak ketika marah, ia dapat menganggap cara tersebut sebagai bentuk komunikasi yang biasa dilakukan.

Pengaruh tersebut dapat berasal dari lingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, maupun konten yang ditonton.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kebiasaan komunikasi di rumah.

Jika ingin anak berbicara dengan tenang, orang tua juga perlu menunjukkan contoh yang sama ketika menyampaikan ketidaksetujuan atau memberikan teguran.

6. Anak Sedang Lelah, Lapar, atau Mengantuk

Kondisi fisik dapat memengaruhi kemampuan anak mengelola emosi.

Anak yang kurang tidur, terlambat makan, terlalu banyak beraktivitas, atau berada dalam lingkungan yang terlalu ramai dapat menjadi lebih mudah frustrasi.

Hal sederhana yang biasanya tidak menimbulkan masalah dapat memicu tangisan dan teriakan ketika anak sedang kelelahan.

NHS menjelaskan bahwa rasa lapar, kelelahan, dan kondisi tubuh yang tidak nyaman merupakan beberapa pemicu tantrum pada anak kecil.

Orang tua perlu memperhatikan pola kemunculan perilaku tersebut agar dapat mengantisipasi situasi sebelum anak kehilangan kendali.

7.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 3
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting anak sering berteriak Anak Tantrum Emosi Anak Mengendalikan emosi Pola Asuh Anak Psikologi Anak

Komentar Pengguna