Kondisi fisik juga dapat memengaruhi perilaku anak.
Anak yang lapar, kurang tidur, atau terlalu lama beraktivitas dapat menjadi lebih sensitif terhadap penolakan.
Permintaan sederhana yang biasanya dapat diterima mungkin berubah menjadi rengekan ketika anak sudah kelelahan.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan jadwal makan, tidur, dan aktivitas anak sebelum menganggap perilakunya sebagai kebiasaan manja.
Anak membutuhkan batasan yang jelas agar memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Jika aturan keluarga sering berubah, anak mungkin kesulitan memahami keputusan orang tua.
Contohnya, hari ini orang tua melarang anak membeli mainan, tetapi keesokan harinya mengizinkan setelah anak menangis cukup lama.
Perubahan respons tersebut dapat membuat anak menganggap bahwa penolakan orang tua masih bisa dinegosiasikan melalui rengekan.
Anak belajar melalui pengamatan terhadap orang-orang di sekitarnya.
Jika ia sering melihat seseorang menggunakan tangisan, keluhan, atau rengekan untuk mendapatkan sesuatu, anak dapat meniru pola tersebut.
Karena itu, orang tua perlu memberikan contoh komunikasi yang baik ketika menginginkan sesuatu atau menghadapi penolakan.
Tidak selalu.
Istilah manja sering digunakan untuk menggambarkan anak yang banyak meminta bantuan, sulit menerima penolakan, atau ingin selalu mendapatkan perhatian.
Namun, perilaku merengek tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak mempunyai karakter manja.
Pada usia dini, merengek dapat menjadi bagian dari perkembangan komunikasi dan pengelolaan emosi.
Anak juga masih belajar memahami konsep menunggu, berbagi, menerima batasan, dan mengendalikan keinginan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah perilaku tersebut semakin sering muncul karena pola respons lingkungan atau sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.
Orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan label negatif. Lebih baik memahami kebutuhan anak sekaligus mengajarkan cara menyampaikan keinginan dengan tepat.
Memenuhi kebutuhan anak merupakan bagian penting dari pengasuhan. Namun, memenuhi semua permintaan tanpa mempertimbangkan batasan dapat menimbulkan masalah dalam pembentukan perilaku.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Anak dapat terbiasa menganggap bahwa semua keinginannya harus dipenuhi.
Ketika menghadapi penolakan di sekolah atau lingkungan sosial, ia mungkin mengalami kesulitan menyesuaikan diri.
Kemampuan menunggu merupakan bagian dari pengendalian diri.
Jika setiap permintaan langsung dipenuhi, anak memiliki lebih sedikit kesempatan untuk belajar menunggu giliran atau menerima penundaan.
Ketika rengekan selalu berhasil membuat orang tua berubah pikiran, anak dapat mengulang perilaku tersebut pada kesempatan berikutnya.
Anak perlu mengetahui bahwa terdapat aturan dan tanggung jawab yang berlaku dalam keluarga.
Tanpa batasan yang konsisten, anak dapat mengalami kesulitan memahami konsekuensi dari perilakunya.
Jika setiap permintaan berakhir dengan perdebatan, waktu bersama keluarga dapat dipenuhi ketegangan.
Karena itu, orang tua perlu membangun pola komunikasi yang jelas dan konsisten.
Menghadapi anak yang sering merengek membutuhkan kesabaran. Orang tua perlu memberikan perhatian terhadap kebutuhan anak, tetapi tetap mempertahankan aturan yang sudah disepakati.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan.
Ketika anak merengek, jangan langsung menolak atau memarahinya.
Coba pahami apa yang sebenarnya diinginkan.
Misalnya, anak meminta mainan ketika orang tua sedang sibuk. Tanyakan dengan tenang apa yang ingin dilakukannya.
Dengan mendengarkan terlebih dahulu, anak merasa bahwa keinginannya diperhatikan meskipun belum tentu dapat dipenuhi.
Bantu anak mengganti rengekan dengan kalimat sederhana.
Contohnya:
Jika anak masih kecil, orang tua dapat memberikan contoh secara langsung.
Ketika anak mulai menggunakan kata-kata tersebut, berikan respons positif agar ia memahami cara komunikasi yang lebih tepat.
Tidak semua permintaan anak harus dipenuhi.
Orang tua perlu menentukan aturan berdasarkan kebutuhan, keamanan, dan kondisi keluarga.
Misalnya, jika sebelumnya sudah disepakati bahwa anak hanya boleh membeli satu mainan dalam satu bulan, pertahankan kesepakatan tersebut.
Jelaskan alasannya secara sederhana.
"Mainan itu belum kita beli hari ini. Kita sudah sepakat memilih satu mainan bulan ini."
Hindari memberikan jawaban yang berubah hanya karena anak semakin keras merengek.
Anak dapat belajar mengambil keputusan melalui pilihan sederhana.
Jika permintaan utamanya tidak dapat dipenuhi, orang tua dapat menawarkan alternatif.
Misalnya:
"Kita belum bisa membeli mobil-mobilan hari ini. Kamu mau bermain dengan mobil yang sudah ada atau menggambar bersama Ibu?"
Cara tersebut membantu anak memahami bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi, tetapi masih ada pilihan kegiatan yang menyenangkan.
Jangan hanya memberikan perhatian ketika anak menangis atau meminta sesuatu berulang kali.
Perhatikan pula ketika anak berhasil menyampaikan keinginan dengan tenang, menunggu, atau menerima penolakan.
Contohnya:
"Terima kasih sudah menunggu Ibu selesai bekerja."
"Ibu senang kamu sudah meminta dengan baik."
CDC merekomendasikan penggunaan pujian yang spesifik untuk memperkuat perilaku positif.
Mengalihkan perhatian atau mengabaikan perilaku merengek hanya dapat digunakan secara terbatas, terutama jika perilaku tersebut ringan dan jelas bertujuan mencari perhatian.
Teknik ini tidak boleh digunakan ketika anak sedang sakit, ketakutan, mengalami kesulitan, atau benar-benar membutuhkan bantuan.
CDC menegaskan bahwa pengalihan perhatian bukan berarti mengabaikan keselamatan maupun kebutuhan anak.
Jika anak menangis karena lapar atau kesakitan, tentu kebutuhan tersebut harus ditangani terlebih dahulu.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir