KebonCinta.com – Menghadapi anak yang sering merengek dan terus meminta sesuatu terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Ada anak yang menangis ketika tidak dibelikan mainan, terus meminta tambahan waktu bermain, atau mengulang permintaan meskipun orang tua sudah memberikan jawaban tidak.
Sebagian anak bahkan baru berhenti merengek setelah keinginannya dipenuhi. Situasi ini sering membuat orang tua berada dalam dilema. Jika dituruti, anak dikhawatirkan semakin terbiasa meminta sesuatu dengan cara tersebut. Namun, jika ditolak, tangisan dan rengekan terkadang semakin keras.
Kebiasaan tersebut perlu dipahami berdasarkan usia dan perkembangan anak. Pada masa balita, kemampuan mengendalikan emosi dan menyampaikan keinginan masih berkembang. Anak belum selalu mampu menerima penolakan atau memahami alasan di balik keputusan orang tua.
Namun, kebiasaan merengek juga dapat terbentuk melalui pola interaksi sehari-hari. Misalnya, ketika anak mengetahui bahwa menangis atau mengulang permintaan berkali-kali akhirnya membuat orang tua mengubah keputusan.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa perhatian orang tua, baik positif maupun negatif, dapat memengaruhi kemungkinan suatu perilaku terulang. Karena itu, respons yang diberikan setelah anak merengek perlu diperhatikan.
Orang tua bukan berarti harus selalu menuruti permintaan anak, tetapi juga tidak perlu mengabaikan perasaannya. Anak perlu belajar bahwa keinginannya boleh disampaikan, tetapi tidak semua keinginan harus dipenuhi.
Lantas, mengapa anak sering merengek? Bagaimana cara membedakan kebutuhan emosional dengan kebiasaan meminta sesuatu secara berlebihan? Berikut penyebab dan cara menghadapinya tanpa harus selalu menuruti keinginan anak.
Rengekan merupakan salah satu bentuk komunikasi yang dapat digunakan anak untuk menyampaikan kebutuhan, ketidaknyamanan, atau keinginan.
Pada usia dini, anak belum selalu mempunyai kemampuan bahasa yang cukup untuk menjelaskan perasaannya. Akibatnya, mereka dapat menggunakan tangisan, rengekan, atau pengulangan permintaan untuk memperoleh respons dari orang dewasa.
Berikut beberapa penyebab yang perlu dipahami.
Anak yang belum mendapatkan sesuatu yang diinginkan dapat merasa kecewa, marah, atau frustrasi.
Misalnya, anak ingin membeli mainan ketika berada di toko, tetapi orang tua menolak karena mainan tersebut tidak termasuk kebutuhan yang sudah direncanakan.
Bagi orang dewasa, penolakan tersebut mungkin sederhana. Namun, bagi anak, situasi tersebut dapat terasa sangat mengecewakan.
Anak kemudian menangis atau merengek karena belum mampu mengelola perasaan tersebut dengan baik.
CDC menjelaskan bahwa kemampuan mengatur emosi berkembang secara bertahap. Anak membutuhkan bantuan orang dewasa untuk mengenali perasaan dan belajar merespons situasi yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Anak yang masih mengembangkan kemampuan bahasa mungkin belum mampu menjelaskan kebutuhannya secara lengkap.
Ketika ingin mendapatkan sesuatu, ia bisa menggunakan rengekan sebagai bentuk komunikasi.
Contohnya, anak ingin bermain bersama orang tua, tetapi hanya mengatakan "Mau, mau!" sambil menangis ketika orang tua belum memahami maksudnya.
Dalam kondisi ini, orang tua perlu membantu anak menggunakan kata-kata yang lebih jelas, seperti "Aku mau bermain bersama Ibu" atau "Tolong ambilkan mainanku".
Kebiasaan merengek dapat semakin kuat apabila selalu diikuti dengan pemenuhan permintaan.
Misalnya, setiap kali anak menangis meminta permen, orang tua akhirnya membelikan permen agar anak berhenti menangis.
Anak dapat mempelajari hubungan antara perilaku dan hasil yang diperoleh. Ia kemudian mungkin mengulang cara yang sama ketika menginginkan sesuatu.
CDC menjelaskan bahwa respons orang tua setelah suatu perilaku dapat meningkatkan atau mengurangi kemungkinan perilaku tersebut muncul kembali.
Karena itu, konsistensi menjadi bagian penting dalam membentuk kebiasaan komunikasi anak.
Tidak semua rengekan berkaitan dengan keinginan memperoleh barang.
Sebagian anak merengek karena ingin ditemani, diajak bermain, atau mendapatkan perhatian.
Hal ini dapat terjadi ketika orang tua sedang bekerja, sibuk mengurus rumah, atau lebih banyak memperhatikan aktivitas lainnya.
Anak mungkin mulai mengulang permintaan atau menangis karena belum mengetahui cara yang tepat untuk meminta perhatian.
Dalam situasi tersebut, orang tua perlu memastikan bahwa kebutuhan emosional anak tetap diperhatikan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir