Situasi ketiga: Anak terus memanggil
Orang tua dapat mendekat, memastikan tidak ada kebutuhan mendesak, lalu memberi petunjuk singkat.
Contoh respons perlu disesuaikan dengan usia anak.
Balita mungkin memerlukan pendampingan lebih langsung daripada anak usia sekolah.
Jika perilaku masih sering terjadi, periksa kembali cara latihan yang digunakan.
Apakah waktu menunggu terlalu panjang?
Apakah anak memahami instruksi?
Apakah orang tua menepati janji untuk mendengarkan?
Apakah anak memperoleh kesempatan berkomunikasi pada waktu lain?
Jika anak mempunyai kesulitan perhatian, bahasa, atau pengendalian dorongan yang juga tampak pada banyak kegiatan lain, mungkin diperlukan bantuan profesional.
Namun, kebiasaan menyela percakapan saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak mempunyai gangguan tertentu.
Penilaian harus dilakukan berdasarkan kondisi yang lebih menyeluruh.
Baca Juga: Memotong Pembicaraan: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Mengikis Kepercayaan
Orang tua dapat membuat kebiasaan sederhana ketika makan bersama atau berbincang pada sore hari.
Misalnya, setiap anggota keluarga memperoleh kesempatan menceritakan satu pengalaman.
Yang lain diminta mendengarkan sampai selesai.
Setelah itu, anggota keluarga boleh bertanya.
Jangan mengubah kegiatan tersebut menjadi ujian sopan santun yang membuat anak tertekan.
Tujuannya adalah membangun pengalaman saling menghargai.
Ketika anak mulai mampu menunggu, berikan penghargaan melalui perhatian dan ucapan positif.
Mengajarkan giliran bicara tidak hanya bertujuan membuat anak diam ketika orang dewasa sedang berbicara.
Keterampilan tersebut membantu anak memahami bahwa setiap orang mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pikiran.
Melalui contoh, isyarat sederhana, permainan, dan komunikasi yang menghargai perasaan, anak dapat belajar menunggu tanpa kehilangan keberanian untuk berbicara.
Orang tua pun perlu menunjukkan bahwa menghormati giliran merupakan kebiasaan bersama, bukan aturan yang hanya dibebankan kepada anak.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir