KebonCinta.com – Ketika orang tua sedang berbicara dengan tamu atau anggota keluarga lain, anak terkadang datang dan langsung menyela percakapan.
Anak mungkin memanggil berulang kali, menarik tangan orang tua, atau menyampaikan ceritanya tanpa menunggu orang lain selesai berbicara.
Dalam situasi tersebut, orang tua dapat merasa terganggu, terutama ketika pembicaraan sedang membahas sesuatu yang penting.
Sebagian orang dewasa kemudian menegur anak dengan keras atau menyebutnya tidak sopan.
Padahal, perilaku memotong pembicaraan tidak selalu menunjukkan bahwa anak sengaja tidak menghormati orang lain.
Pada usia tertentu, kemampuan menahan dorongan, memahami giliran, dan menunggu masih berkembang.
Karena itu, anak membutuhkan contoh dan latihan untuk mempelajari cara menyampaikan kebutuhan pada waktu yang sesuai.
Ada beberapa kemungkinan alasan anak memotong pembicaraan.
Pertama, anak merasa mempunyai sesuatu yang penting untuk disampaikan dan belum mampu menunggu.
Kedua, anak ingin memperoleh perhatian orang tua.
Ketiga, anak belum memahami tanda bahwa orang lain sedang berbicara.
Keempat, anak mungkin sedang mengalami kebutuhan yang menurutnya mendesak.
Selain itu, kemampuan mengendalikan dorongan tidak berkembang sama pada setiap anak.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa komunikasi yang baik melibatkan kemampuan mendengarkan, memperhatikan, dan menanggapi orang lain dengan tepat.
Namun, keterampilan tersebut perlu dipelajari melalui hubungan sehari-hari.
Ketika anak menyela percakapan, orang tua sebaiknya tidak langsung menggunakan label seperti "anak tidak tahu aturan".
Label tersebut tidak menjelaskan perilaku yang perlu diperbaiki.
Lebih baik sampaikan instruksi secara spesifik.
Misalnya:
"Ayah sedang berbicara. Tunggu sebentar, setelah Ayah selesai kamu boleh bercerita."
Kalimat tersebut menjelaskan keadaan dan perilaku yang diharapkan.
Namun, pastikan orang tua benar-benar memberikan kesempatan kepada anak setelah menyampaikan janji tersebut.
Jika anak berulang kali diminta menunggu tetapi tidak pernah didengarkan, ia mungkin semakin sering menyela untuk memperoleh perhatian.
Giliran bicara berarti setiap orang mempunyai kesempatan menyampaikan pendapat tanpa terus-menerus dipotong.
Konsep ini dapat diperkenalkan melalui percakapan sederhana.
Misalnya, orang tua bercerita selama beberapa kalimat, kemudian memberikan kesempatan kepada anak.
Setelah anak selesai, orang tua kembali berbicara.
Gunakan kalimat:
"Sekarang giliran Ibu mendengarkan kamu."
"Setelah kamu selesai, giliran Ayah bercerita."
Dengan latihan seperti ini, anak memperoleh pengalaman konkret mengenai bergantian berbicara.
Sebagian keluarga dapat menggunakan isyarat sederhana ketika orang tua sedang berbicara.
Misalnya, anak menyentuh lengan orang tua dengan lembut untuk menunjukkan bahwa ia ingin menyampaikan sesuatu.
Orang tua kemudian memberikan isyarat bahwa permintaan tersebut sudah diketahui.
Setelah percakapan memungkinkan untuk dihentikan, orang tua memberi kesempatan anak berbicara.
Namun, isyarat tersebut tidak boleh digunakan untuk mengabaikan kebutuhan mendesak.
Jika anak mengatakan sedang terluka, merasa tidak aman, atau membutuhkan pertolongan segera, orang tua perlu merespons saat itu juga.
Aturan menunggu berlaku pada situasi yang aman, bukan keadaan darurat.
Anak kecil mungkin belum mampu menunggu beberapa menit tanpa bantuan.
Karena itu, jangan langsung menuntutnya diam sepanjang percakapan orang dewasa yang berlangsung lama.
Mulailah dengan waktu singkat sesuai kemampuan.
Misalnya, orang tua meminta anak menunggu sampai satu kalimat selesai.
Setelah anak terbiasa, waktu dapat diperpanjang secara bertahap.
Gunakan kesempatan tersebut untuk memberikan umpan balik positif.
Contohnya:
"Tadi kamu menunggu sampai Ibu selesai bicara. Terima kasih sudah sabar."
Pujian yang spesifik membantu anak memahami perilaku yang dihargai.
Mengajarkan anak menunggu perlu diimbangi dengan kesediaan orang tua mendengarkan.
Jika anak sudah menunggu, hentikan kegiatan lain ketika memungkinkan dan berikan perhatian.
Dengarkan ceritanya tanpa langsung memotong.
AAP menyarankan komunikasi keluarga yang memberi ruang kepada anak untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
Orang tua juga dapat menyediakan waktu percakapan khusus setiap hari tanpa gangguan gawai.
Dengan demikian, anak mengetahui bahwa ia mempunyai kesempatan untuk didengarkan.
Baca Juga: Kenapa Anak Sulit Sabar? Ini Kebiasaan yang Bisa Membantu Melatih Kontrol Diri
Selain menunggu, anak dapat diajari cara memulai percakapan.
Misalnya:
"Permisi, Bu. Boleh saya bertanya?"
"Maaf menyela, apakah saya boleh bicara sebentar?"
"Saya ingin cerita setelah Ayah selesai."
Namun, jangan hanya meminta anak menghafal kalimat tanpa memahami kapan digunakan.
Latih melalui permainan peran.
Orang tua dapat berpura-pura sedang berbincang, lalu meminta anak mencoba menggunakan kalimat tersebut.
Setelah itu, tukar peran agar anak memahami bagaimana rasanya ketika seseorang memotong pembicaraan.
Anak perlu mengetahui bahwa ada keadaan ketika ia tidak harus menunggu.
Misalnya, terjadi kebakaran, ada anggota keluarga terluka, atau seseorang membutuhkan pertolongan segera.
Orang tua dapat menjelaskan bahwa dalam keadaan berbahaya, anak boleh segera memanggil bantuan.
Sebaliknya, jika hanya ingin memperlihatkan gambar atau menceritakan permainan, ia dapat menunggu sebentar.
Gunakan contoh yang mudah dipahami.
Jangan membuat aturan yang terlalu rumit sehingga anak bingung menentukan kapan harus berbicara.
Sebagian anak menyela karena sangat antusias.
Misalnya, ia baru berhasil membuat gambar dan ingin segera memperlihatkannya.
Keinginan berbagi pengalaman tersebut dapat menjadi sesuatu yang positif.
Namun, anak tetap perlu belajar menunggu waktu yang sesuai.
Orang tua dapat mengakui antusiasmenya:
"Wah, kamu ingin menunjukkan gambar. Ayah mau melihatnya setelah selesai berbicara."
Respons tersebut menggabungkan perhatian dan batasan.
Anak tidak dipermalukan karena ingin bercerita, tetapi tetap memperoleh petunjuk mengenai giliran bicara.
Sulit mengajarkan anak untuk tidak memotong pembicaraan apabila orang dewasa sering melakukan hal yang sama.
Misalnya, ketika anak sedang bercerita, orang tua langsung menyela dengan nasihat atau pertanyaan yang tidak berkaitan.
Anak dapat meniru pola komunikasi tersebut.
Karena itu, berikan contoh mendengarkan sampai lawan bicara selesai.
Jika terlanjur menyela, orang tua dapat memperbaikinya.
Misalnya:
"Maaf, tadi Ibu memotong ceritamu. Silakan lanjutkan."
Tindakan tersebut menunjukkan bahwa aturan menghormati giliran berlaku bagi semua anggota keluarga.
Permainan dapat membantu anak memahami konsep menunggu.
Misalnya, keluarga bermain kartu sederhana, menyusun balok, atau bercerita secara bergantian.
Dalam permainan bercerita, satu orang menyampaikan dua kalimat.
Orang berikutnya menambahkan cerita setelah peserta sebelumnya selesai.
Anak belajar memperhatikan tanda giliran dan mengendalikan keinginan untuk berbicara lebih dahulu.
Orang tua dapat memuji usaha menunggu, bukan hanya hasil permainan.
Kegiatan ini dapat dilakukan beberapa menit tanpa membutuhkan perlengkapan khusus.
Situasi pertama: Orang tua sedang menerima tamu
Anak: "Bu, lihat mainanku!"
Orang tua: "Ibu mau melihat. Tunggu sampai Ibu selesai menjawab pertanyaan tamu, ya."
Setelah selesai, orang tua menepati janji untuk melihat mainan.
Situasi kedua: Anak menyela pembicaraan telepon
Orang tua: "Ayah sedang menelepon. Kalau tidak darurat, tunggu sebentar.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir