Keboncinta.com-- Menangani anak yang sedang tantrum sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Anak mungkin menangis keras, berteriak, marah, menolak arahan, atau menunjukkan perilaku lain ketika merasa kecewa dan keinginannya tidak terpenuhi.
Situasi seperti ini membutuhkan respons yang tepat. Orang tua sebaiknya tidak langsung membalas emosi anak dengan kemarahan. Sebaliknya, momen tantrum dapat menjadi kesempatan untuk membantu anak memahami perasaannya dan belajar mengelolanya secara perlahan.
Tantrum juga tidak selalu muncul karena satu penyebab. Kondisi fisik, perasaan, maupun situasi yang sedang dihadapi anak dapat menjadi pemicunya. Karena itu, orang tua perlu melihat keadaan secara menyeluruh sebelum menentukan cara merespons.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan ketika anak sedang mengalami tantrum.
Baca Juga: Ingin Anak Gemar Membaca? Ini 7 Kebiasaan yang Bisa Diterapkan Orang Tua
Ketika anak mulai menangis atau berteriak, orang tua perlu berusaha menjaga emosinya sendiri. Reaksi orang tua yang ikut meninggi justru dapat membuat keadaan semakin sulit dikendalikan.
Jika merasa mulai kesal, ambil waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum berbicara kepada anak. Hindari membalas suara keras dengan bentakan atau kemarahan.
Orang tua dapat menggunakan suara yang lebih rendah dan sikap yang stabil. Suasana yang tenang dapat membantu anak merasa lebih aman hingga emosinya perlahan mereda.
Menjaga ketenangan bukan berarti membiarkan semua perilaku anak. Batasan tetap dapat diberikan, tetapi disampaikan tanpa memperbesar konflik.
Saat menghadapi tantrum, orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan perilaku yang ditunjukkan anak. Cobalah memahami apa yang terjadi sebelum ledakan emosi tersebut muncul.
Anak bisa menjadi lebih mudah tantrum ketika merasa lapar, mengantuk, terlalu lelah, kecewa, frustrasi, atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Dengan mengenali pemicunya, orang tua dapat lebih mudah menentukan respons yang sesuai. Pengamatan juga dapat membantu menemukan pola, misalnya tantrum lebih sering terjadi pada waktu tertentu atau setelah anak melakukan aktivitas yang melelahkan.
Pemahaman tersebut dapat membantu orang tua mengantisipasi situasi serupa pada kesempatan berikutnya.
Ketika emosi anak sedang memuncak, jangan langsung mengabaikan perasaannya. Orang tua dapat menunjukkan bahwa mereka memahami apa yang sedang dirasakan anak.
Gunakan kalimat singkat dan mudah dimengerti. Misalnya, orang tua dapat mengatakan bahwa anak terlihat kecewa atau marah karena sesuatu yang diinginkannya tidak terpenuhi.
Mengakui perasaan bukan berarti menyetujui semua permintaan anak. Orang tua tetap bisa mengatakan tidak terhadap sesuatu sambil menunjukkan bahwa perasaan anak tetap didengar.
Pendekatan penuh empati dapat membantu anak belajar mengenali emosi yang sedang dialaminya. Seiring waktu, anak diharapkan semakin mampu mengungkapkan perasaan melalui kata-kata.
Baca Juga: Cara Membatasi Penggunaan Handphone pada Anak Tanpa Drama, Orang Tua Bisa Coba