Sejarah
Tegar Bagus Pribadi

Amir Hamzah: Penyair yang Menjadi Salah Satu Tokoh Penting Pujangga Baru

Amir Hamzah: Penyair yang Menjadi Salah Satu Tokoh Penting Pujangga Baru

30 September 2026 | 11:18

keboncinta.com--  Amir Hamzah adalah salah satu tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia yang memegang peranan sentral dalam angkatan Pujangga Baru. Lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, pada 28 Februari 1911, ia tidak hanya dikenal sebagai seorang sastrawan terkemuka tetapi juga seorang bangsawan Kesultanan Langkat. Latar belakang kebangsawanan ini memberikan kebebasan baginya untuk mengenyam pendidikan tinggi di luar daerah, yang kemudian memperluas wawasan kebudayaannya, baik dalam tradisi Melayu, Islam, sastra Arab, maupun sastra Barat. Perpaduan latar belakang budaya inilah yang kelak membentuk corak kepenulisannya yang khas, penuh dengan kerinduan spiritual, pencarian identitas, serta keindahan bahasa yang sangat puitis dan mendalam.

Peran terbesar Amir Hamzah bagi sejarah kesusastraan Indonesia adalah posisinya sebagai pelopor dan salah satu pendiri majalah sastra Pujangga Baru pada tahun 1933, bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane. Melalui majalah tersebut, ia turut membidani lahirnya modernitas dalam sastra Indonesia, di mana puisi tidak lagi terikat pada bentuk pantun atau syair tradisional yang kaku, melainkan bertransformasi menjadi puisi bebas yang kaya akan ekspresi pribadi. Karyanya yang paling monumental dan diakui sebagai puncak pencapaian estetikanya adalah kumpulan puisi Buah Rindu (1941) dan Nyanyi Sunyi (1937). Melalui karya-karya ini, Amir Hamzah berhasil menyuarakan pergulatan batin antara cinta profan kepada manusia dengan cinta sakral kepada Sang Pencipta, yang sering kali dibalut dengan nuansa mistisisme Islam dan kearifan lokal Melayu.

Sebagai contoh nyata dari keindahan karya sastra Amir Hamzah, kita dapat melihat penggalan bait dari puisinya yang terkenal berjudul Doa yang termuat dalam kumpulan Nyanyi Sunyi:

Dengan apakah kubandingkan perawan kencana,

Belum berteman, belum berzuriat?

Gadis ribut, gemersik sanggulnya,

Bagai kencana kiyasan di awan...

Tuhanku,

Dalam termangu,

Aku teringat,

PengampunanMu.

Penggalan tersebut menunjukkan bagaimana Amir Hamzah mampu merangkai kata-kata menjadi sebuah lukisan jiwa yang sunyi namun agung. Di satu sisi, ia menggambarkan keindahan duniawi dengan diksi yang memesona, namun di sisi lain, ia langsung menarik pembaca menuju kontemplasi ketuhanan yang mendalam. Kemampuannya menyatukan unsur tradisional Melayu dengan napas modernitas universal menjadikan sajak-sajaknya abadi dan tetap relevan dipelajari lintas generasi.

Sayangnya, perjalanan hidup tokoh besar ini harus berakhir secara tragis dalam pusaran sejarah masa transisi kemerdekaan Indonesia. Amir Hamzah gugur dalam peristiwa berdarah "Revolusi Sosial Sumatera Timur" pada tanggal 20 Maret 1946 di Kuala Simpang, Aceh, akibat kesalahpahaman politik yang menargetkan kaum bangsawan. Meskipun usianya tergolong muda ketika wafat, warisan pemikiran dan karya-karyanya telanjur menanamkan fondasi yang kokoh bagi puisi modern Indonesia. Atas jasa-jasa luar biasa dan dedikasinya yang tinggi terhadap kebudayaan nasional, pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1975, mengenangnya selamanya sebagai "Raja Penyair Pujangga Baru".

Tags:
Sejarah Sastra Indonesia Sastra Melayu

Komentar Pengguna