Khazanah
Al Fina

Amalan Surat Al-Waqi’ah untuk Rezeki, Nyai Shobihah Ungkap Cara Membacanya Setiap Hari

Amalan Surat Al-Waqi’ah untuk Rezeki, Nyai Shobihah Ungkap Cara Membacanya Setiap Hari

10 Oktober 2026 | 20:51

KebonCinta.com — Amalan Surat Al-Waqi’ah kerap dikaitkan dengan ikhtiar memohon kelancaran rezeki. Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Putri Kempek Cirebon, Ny. Hj. Shobihah Maimun Zubair, menjelaskan bahwa surat ini dapat dibaca sekali sehari tanpa harus menunggu waktu tertentu.

Bahkan, menurut penjelasannya, membaca Surat Al-Waqi’ah dapat dilakukan sambil menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti memasak, menyapu, maupun mengasuh anak. Hal yang ditekankan ialah menjaga kesinambungan amalan.

Penjelasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Ijazah Hizib Surat Al-Waqi’ah dan Selawat Basyairul Khairat di Ma’had Al-Ghadier, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Sabtu, 26 September 2026 lalu.

Dalam kegiatan itu, Nyai Shobihah turut menerangkan sanad ijazah, kandungan Surat Al-Waqi’ah, tata cara pengamalan, serta makna rezeki dalam kehidupan.

Baca Juga: Siswa SMA hingga SLB Bisa Dapat Bantuan Jabar Sakola 2026, Cek Kriteria Penerimanya 

Cara Mengamalkan Surat Al-Waqi’ah Setiap Hari

Nyai Shobihah menjelaskan bahwa pembacaan Surat Al-Waqi’ah tidak terikat pada waktu tertentu. Karena itu, amalan tersebut dapat disesuaikan dengan rutinitas masing-masing.

“Ini dibaca tiap hari sekali boleh di waktu apa saja,” jelas Nyai Shobihah.

Ia juga menyampaikan bahwa bagi orang yang memiliki hajat besar, pembacaan sebanyak 75 kali dapat dilakukan secara berjemaah.

“Apabila memang pengin punya hajat besar dan ada jamiahan boleh dibaca 75 kali,” kata Ketua Jamiyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighoh (JPPPM) Jawa Barat tersebut.

Penjelasan ini disampaikan dalam konteks tradisi ijazah yang dibahas di forum tersebut. Jumlah bacaan merupakan bagian dari amalan yang diterangkan narasumber, bukan jaminan bahwa suatu keinginan pasti terkabul.

Sebelum membahas tata cara pengamalan, Nyai Shobihah menerangkan sanad ijazah yang diterimanya dari Syekh Muhammad Fadil Al-Jailani, yang disebut sebagai keturunan ke-25 Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Dalam tradisi pesantren, sanad merupakan mata rantai keilmuan yang menghubungkan seorang murid dengan guru-gurunya. Nyai Shobihah mengaitkan pentingnya menjaga sanad dengan nasihat ayahandanya, KH Maimun Zubair, mengenai penghormatan kepada guru dan pemeliharaan adab.

“Menjaga sanad sama dengan menghormati guru. Menghormati guru sama dengan kita beradab,” kata Nyai Shobihah.

Baginya, menerima ijazah tidak cukup berhenti pada prosesi atau pengetahuan tentang suatu amalan. Amalan yang diterima juga perlu dijaga dan dilaksanakan secara konsisten.

Sedikit Amalan, tetapi Istikamah

Dalam penjelasannya, Nyai Shobihah mengingatkan bahwa banyaknya amalan yang diterima tidak menjadi ukuran utama apabila semuanya tidak dijalankan.

“Ijazah itu tidak menumpuk banyak kemudian tidak diamalkan. Ijazah itu yang penting sedikit tapi diamalkan,” jelas Nyai Shobihah.

Pesan tersebut berkaitan dengan prinsip mudawamah dan istikamah, yakni menjaga kesinambungan dalam menjalankan amalan. Membaca Surat Al-Waqi’ah setiap hari menjadi salah satu bentuk kebiasaan ibadah yang dapat dipertahankan di tengah kesibukan.

Dengan demikian, perhatian tidak hanya diarahkan pada jumlah bacaan, tetapi juga pada konsistensi dalam beribadah.

Kandungan Surat Al-Waqi’ah dan Gambaran Kehidupan Akhirat

Surat Al-Waqi’ah membahas hari kiamat serta menggambarkan keadaan manusia dan kenikmatan yang diperoleh penghuni surga. Dalam kegiatan tersebut, Nyai Shobihah mengaitkan kandungan surat dengan pentingnya menjadikan akhirat sebagai orientasi kehidupan.

Salah satu bagian surat ini menggambarkan kenikmatan yang diberikan kepada penghuni surga. Allah SWT berfirman:

وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ ۝ وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ ۝ وَحُورٌ عِينٌ ۝ كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

Artinya:

“(Mereka menyuguhkan pula) buah-buahan yang mereka pilih, dan daging burung yang mereka sukai. Ada bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan dengan baik.” (QS. Al-Waqi’ah: 20–23).

Gambaran kenikmatan lainnya terdapat dalam ayat 34:

وَفُرُشٍ مَّرْفُوعَةٍ

Artinya: “Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.” (QS. Al-Waqi’ah: 34).

Ayat-ayat tersebut menggambarkan kenikmatan akhirat yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Pemahaman terhadap kandungan Surat Al-Waqi’ah juga dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak hanya berorientasi pada pencapaian duniawi.

Rezeki Menurut Nyai Shobihah Tidak Hanya Berupa Harta

Dalam penjelasannya, Nyai Shobihah memaknai rezeki secara lebih luas daripada uang atau kekayaan. Anak saleh, ilmu, dan kemampuan mengamalkan kebaikan juga disebut sebagai bentuk karunia yang patut disyukuri.

“Rezeki dapat hadir dalam bentuk anak saleh, ilmu, maupun kemampuan mengamalkan kebaikan,” ungkap Nyai Shobihah.

Pemaknaan tersebut mengajak umat untuk mensyukuri berbagai bentuk nikmat yang diterima. Rezeki tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga mencakup kesempatan memperoleh ilmu, membangun keluarga yang baik, dan melakukan perbuatan bermanfaat.

Kiai Musthofa Aqiel Siroj Bicara tentang Kebermanfaatan

Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, KH Muhammad Musthofa Aqiel Siroj, turut membahas pentingnya meninggalkan sesuatu yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Dalam penjelasannya, pesantren, lembaga pendidikan, dan berbagai sarana yang dinikmati generasi berikutnya dapat menjadi bentuk peninggalan yang manfaatnya terus dirasakan.

Pandangan ini menghubungkan keberkahan hidup dengan kontribusi kepada masyarakat.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Alzheimer

Komentar Pengguna