Berita
Rahman Abdullah

Ulama Maroko Berikan Ijazah Dalā’il al-Khayrāt kepada Umat Islam Indonesia di Momen Gema Selawat Kebangsaan 2026

Ulama Maroko Berikan Ijazah Dalā’il al-Khayrāt kepada Umat Islam Indonesia di Momen Gema Selawat Kebangsaan 2026

02 September 2026 | 19:19

Keboncinta.com-- Peluncuran Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. pada 26 Agustus 2026 menjadi momen penting bagi umat Islam di Indonesia.

Dalam momentum tersebut, Wakil Rektor Universitas Al-Qarawiyyin sekaligus Muqaddam Zawiyah al-Fāsiyyah di Fez, Maroko, Prof. Sidi Idris al-Fihri al-Fasi, memberikan ijazah umum atau Ijazah Kubra untuk pembacaan kitab Dalā’il al-Khayrāt kepada umat Islam Indonesia.

Ijazah tersebut disampaikan melalui pesan khusus yang direkam dari kompleks makam Sayyidi Abdul Qadir al-Fasi di Fez, Maroko. Dalam pesannya, Prof. Idris menerangkan keutamaan berselawat, sejarah kitab Dalā’il al-Khayrāt, serta kedudukan dan kesinambungan sanad keilmuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, menyebut pemberian ijazah tersebut memiliki arti penting dalam mempererat hubungan keilmuan sekaligus spiritual antara umat Islam Indonesia dan Maroko.

Baca Juga: PPPK Penuh Waktu Bisa Ikut Seleksi CPNS 2027, Guru Paruh Waktu Disiapkan Naik Status

Menurut Muchlis, ijazah tersebut tidak sekadar menjadi izin untuk membaca kitab Dalā’il al-Khayrāt. Lebih dari itu, pemberian ijazah merupakan bentuk penghormatan terhadap kesinambungan sanad keilmuan dan tradisi kecintaan umat kepada Rasulullah saw.

Ia berharap tradisi selawat yang dikembangkan melalui gerakan tersebut tidak berhenti sebagai amalan lisan, tetapi juga tercermin dalam akhlak, kepedulian terhadap sesama, serta semangat menjaga persatuan bangsa.

Selawat Menjadi Bentuk Karunia Allah

Dalam sambutannya, Prof. Idris menguraikan kandungan Surah al-Ahzab ayat 56 yang berkaitan dengan perintah berselawat kepada Nabi Muhammad saw.

Ia menjelaskan penggunaan kata yuṣallūna dalam bentuk fi‘il muḍāri‘ menunjukkan bahwa selawat Allah Swt. dan para malaikat kepada Nabi Muhammad saw. berlangsung secara terus-menerus, baik pada masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Perintah kepada orang-orang beriman untuk berselawat juga dipandang sebagai bentuk karunia dari Allah Swt. Dengan berselawat, seorang hamba diharapkan memperoleh rahmat, pengampunan atas dosa, serta peningkatan derajat.

Prof. Idris menjelaskan bahwa balasan Allah atas selawat seorang hamba diberikan sesuai dengan keluasan rahmat dan kekuasaan-Nya. Karena itu, keterbatasan seorang manusia ketika berselawat tidak menjadi penghalang untuk memperoleh karunia dari Allah.

Selawat juga tidak semata-mata dimaknai sebagai aktivitas mengucapkan lafaz tertentu. Menurut Prof. Idris, selawat merupakan wujud rasa syukur atas nikmat besar yang diberikan Allah kepada umat manusia melalui diutusnya Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam.

Baca Juga: PPG Calon Guru 2026 Dibuka untuk Lulusan S1 dan D4, Ada Dukungan Biaya Pendidikan

Dalā’il al-Khayrāt, Kitab Selawat yang Diwariskan Lintas Generasi

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Idris turut menjelaskan kedudukan kitab Dalā’il al-Khayrāt yang disusun oleh Imam Sidi Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli al-Hasani.

Kitab tersebut dikenal luas sebagai salah satu karya tentang selawat yang banyak dibaca dan disalin oleh umat Islam di berbagai belahan dunia. Penyebarannya berlangsung melalui manuskrip maupun berbagai edisi cetak.

Dalam tradisi yang berkembang di kalangan pembaca Dalā’il al-Khayrāt, kisah penyusunan kitab tersebut dikaitkan dengan pengalaman spiritual Imam al-Jazuli. Ia disebut pernah menyaksikan seorang anak perempuan yang membantunya memperoleh air dari sebuah sumur melalui keberkahan selawat kepada Rasulullah saw.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu dorongan bagi Imam al-Jazuli untuk menghimpun beragam bentuk selawat. Materi yang dihimpun bersumber dari Al-Qur’an, hadis, serta doa-doa yang diwariskan oleh para ulama saleh.

Tradisi yang dibangun Imam al-Jazuli melalui jaringan zawiyah juga memiliki cakupan yang lebih luas.

Tags:
berita nasional Ulama Islam

Komentar Pengguna