Seseorang yang pernah mengalami pengalaman buruk terkadang memiliki pemicu tertentu yang mengingatkannya pada kejadian tersebut.
Pemicu itu tidak selalu berupa peristiwa besar. Suara, tempat, aroma, perkataan, atau situasi tertentu bisa memunculkan kembali rasa takut dan tidak nyaman.
Reaksi yang muncul dapat berupa jantung berdebar, keinginan menghindar, gelisah, atau kemarahan. Hal ini dapat terjadi karena otak menghubungkan rangsangan saat ini dengan pengalaman yang pernah dianggap mengancam.
Respons setiap orang tentu berbeda. Ada yang mampu menghadapinya dengan baik, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu dan dukungan untuk memahami serta mengelola reaksinya.
Kabar baiknya, seseorang dapat mempelajari cara mengelola respons tubuh ketika merasa tegang atau terancam. Salah satu langkah sederhana yang bisa dicoba adalah latihan pernapasan perlahan.
Tarik napas dengan nyaman, kemudian keluarkan secara perlahan. Lakukan beberapa kali tanpa memaksakan diri. Latihan ini dapat membantu sebagian orang mengurangi ketegangan dan mengembalikan perhatian pada kondisi saat ini.
Selain itu, beberapa kebiasaan berikut juga dapat mendukung kesehatan tubuh dan pikiran:
Latihan relaksasi bukan pengganti penanganan profesional. Jika pengalaman traumatis terus mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah yang tepat.
Pengalaman traumatis dapat memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap orang. Ada yang lebih mudah merasa takut, sulit tidur, sering tegang, atau mengalami reaksi kuat terhadap hal-hal tertentu.
Mengenali hubungan antara pengalaman masa lalu dan respons tubuh dapat membantu seseorang memahami apa yang sedang dialaminya. Namun, penting untuk tidak mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan satu atau dua gejala.
Pemulihan juga tidak harus dilakukan sendirian. Dukungan keluarga, lingkungan yang aman, serta pendampingan tenaga profesional dapat membantu proses pemulihan berjalan lebih terarah.
Pada akhirnya, tubuh dan pikiran saling berkaitan dalam menghadapi tekanan. Dengan memahami respons diri sendiri dan mencari bantuan ketika diperlukan, seseorang dapat secara bertahap membangun kembali rasa aman serta menjalani kehidupan dengan lebih nyaman.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir