KebonCinta.com - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA/MA/SMK dan sederajat tahun 2026 semakin dekat. Menjelang ujian, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengingatkan para siswa agar mempersiapkan diri dengan baik, menjaga ketenangan, serta mengerjakan seluruh soal berdasarkan kemampuan masing-masing.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Prof. Dr. Toni Toharudin, S.Si., M.Sc., dalam taklimat media pelaksanaan TKA SMA/MA/SMK dan sederajat di Gedung E Kemendikdasmen, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Menurut Toni, kejujuran menjadi bagian penting dalam pelaksanaan TKA. Hasil tes diharapkan benar-benar mencerminkan kemampuan akademik siswa sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi capaian belajar dan menentukan langkah pendidikan berikutnya.
Baca Juga: Mulai 2027 Status Guru Berubah? Ini Nasib PPPK Paruh Waktu dan Guru Non-ASN Setelah 31 Desember 2026
Menjelang pelaksanaan TKA 2026, siswa diingatkan agar tidak hanya mengejar nilai tinggi. Mereka juga perlu memastikan bahwa hasil yang diperoleh menggambarkan kemampuan akademik yang sebenarnya.
Toni menilai, hasil asesmen akan lebih bermanfaat apabila proses pengerjaannya dilakukan secara jujur. Dengan begitu, siswa dapat mengetahui materi yang sudah dikuasai dan bagian yang masih membutuhkan peningkatan.
"Yang bermanfaat itu berawal dari gambaran kemampuan yang sebenarnya," ucap Toni.
Pesan tersebut menegaskan bahwa TKA bukan sekadar kesempatan untuk memperoleh nilai, melainkan juga sarana mengenali capaian akademik secara lebih objektif.
Jika siswa mengerjakan soal berdasarkan kemampuannya sendiri, hasil yang diperoleh dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki cara belajar. Sebaliknya, hasil yang tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya berisiko membuat siswa keliru dalam menilai kesiapan akademiknya.
Karena itu, siswa diharapkan menjadikan TKA sebagai kesempatan untuk mengukur kemampuan, bukan semata-mata sebagai ajang persaingan mendapatkan skor tinggi.
Selain menekankan kejujuran, Toni mengingatkan siswa agar menghadapi TKA dengan perasaan tenang dan percaya diri.
Persiapan menghadapi asesmen memang penting, tetapi siswa tidak perlu memberikan tekanan berlebihan kepada diri sendiri. Belajar secukupnya, menjaga kondisi tubuh, dan memahami prosedur ujian menjadi bagian dari persiapan yang tidak kalah penting.
Siswa juga disarankan mencukupi waktu istirahat agar dapat berkonsentrasi ketika mengerjakan soal. Persiapan yang baik bukan hanya berkaitan dengan penguasaan materi, tetapi juga kesiapan mental dan pemahaman teknis.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah petunjuk pengerjaan yang telah dipelajari selama gladi bersih. Dengan memahami prosedur tersebut, siswa diharapkan tidak kebingungan ketika pelaksanaan TKA berlangsung.
Pendekatan ini membantu siswa menghadapi ujian secara lebih terukur. Mereka dapat memusatkan perhatian pada soal tanpa terlalu terbebani oleh kekhawatiran mengenai hasil akhir.
Persiapan TKA tidak hanya menjadi tanggung jawab siswa. Guru dan pihak sekolah juga memiliki peran dalam menciptakan suasana yang mendukung pelaksanaan asesmen.
Toni meminta para guru memberikan dukungan kepada siswa agar mereka dapat mengikuti TKA dengan optimal. Dukungan tersebut diperlukan supaya siswa mampu menjalani proses ujian dengan jujur dan menjadikan hasilnya sebagai bekal untuk terus belajar.
"Guru-guru juga, berikan dukungan yang kuat kepada siswa kita, kerjakan sebaik-baiknya, jujur di dalam prosesnya, dan juga nanti jadikan hasilnya ini sebagai bekal untuk terus belajar buat anak-anak," imbuhnya.
Dukungan guru dapat diwujudkan melalui penguatan materi yang relevan, penjelasan teknis pelaksanaan ujian, serta pendampingan yang membantu siswa mengelola tekanan menjelang asesmen.
Sekolah juga perlu mengingatkan siswa bahwa setiap hasil tes dapat menjadi bahan evaluasi. Dengan demikian, TKA tidak hanya dipahami sebagai kegiatan pengukuran, tetapi juga bagian dari proses peningkatan kualitas pembelajaran.
Toni menjelaskan bahwa manfaat TKA tidak terbatas pada siswa secara individu. Hasil asesmen juga dapat memberikan gambaran mengenai capaian akademik secara lebih luas.
Bagi siswa, hasil TKA dapat membantu mengenali kemampuan yang sudah dikuasai maupun aspek yang perlu ditingkatkan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menyusun strategi belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Sementara itu, hasil TKA secara keseluruhan dapat memberikan gambaran mengenai mutu pendidikan. Data tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi sekolah untuk mengevaluasi proses pembelajaran yang telah berjalan.
Artinya, nilai TKA tidak seharusnya dipandang sebagai hasil akhir dari perjalanan pendidikan seorang siswa. Sebaliknya, hasil itu dapat menjadi titik awal untuk memperbaiki kompetensi dan mengembangkan potensi akademik.
Oleh karena itu, kejujuran dalam mengerjakan soal menjadi penting agar data yang diperoleh benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi.
Manfaat TKA juga berkaitan dengan kesiapan siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Toni menyampaikan bahwa data TKA untuk jenjang SMA, SMK, MA, dan sederajat dapat digunakan perguruan tinggi sebagai gambaran awal mengenai kemampuan akademik calon mahasiswa.
Informasi tersebut berpotensi membantu perguruan tinggi memahami capaian akademik mahasiswa yang baru memasuki pendidikan tinggi.
Meski demikian, hasil TKA perlu dipahami sesuai dengan fungsi asesmennya sebagai informasi mengenai kemampuan akademik.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir