Berita
Hilmi An Naufal

Tim ITK Ubah Sampah Organik Menjadi Pupuk dengan Tong Komposter Sederhana

Tim ITK Ubah Sampah Organik Menjadi Pupuk dengan Tong Komposter Sederhana

02 September 2026 | 05:27

BALIKPAPAN, KEBONCINTA.COM — Tim pengabdian masyarakat Institut Teknologi Kalimantan menghadirkan teknologi tong komposter untuk membantu warga RT 66 Manggar, Balikpapan Timur, mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair dan kompos padat.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Inovasi Sosial 2026. Program ini tidak hanya menyerahkan peralatan kepada warga, tetapi juga memberikan pelatihan agar masyarakat mampu mengoperasikan, merawat dan memanfaatkan hasil pengomposan secara mandiri.

Tong komposter dipilih karena dapat dibuat menggunakan bahan yang relatif mudah diperoleh. Teknologi ini memungkinkan sisa sayuran, buah dan bahan organik rumah tangga lainnya diolah sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan sampah.

Dalam kegiatan pendampingan, warga memperoleh penjelasan mengenai pemilahan sampah, proses fermentasi, pembuatan pupuk, pemantauan pengomposan hingga teknik pemanenan pupuk organik cair dan kompos padat.

Pemahaman mengenai pemilahan menjadi tahapan penting. Sampah plastik, logam, kaca dan bahan kimia rumah tangga tidak boleh tercampur dengan bahan organik karena dapat mengganggu proses pengomposan sekaligus menurunkan kualitas pupuk.

Program tersebut dipimpin Afif Taufiqul Hakim bersama dosen Elizabeth Desfelia Ciciolini Sidabutar dan Anisa Novi Andriani. Kegiatan juga melibatkan sepuluh mahasiswa ITK yang membantu pelaksanaan edukasi serta pendampingan kepada masyarakat.

Keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Mereka berkesempatan menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan lingkungan yang dihadapi warga secara langsung.

Apabila digunakan secara konsisten, tong komposter dapat membantu mengurangi jumlah sampah organik yang dibuang. Pupuk yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan untuk tanaman pekarangan maupun kegiatan pertanian skala rumah tangga.

Pemanfaatan pupuk organik berpotensi mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pupuk komersial. Meski demikian, kualitas hasil pengomposan tetap harus diperhatikan, termasuk kematangan kompos, kondisi bahan dan proses fermentasinya.

Keberlanjutan program menjadi tantangan setelah kegiatan pendampingan berakhir. Pengelolaan tong komposter memerlukan pembagian tanggung jawab, jadwal pemantauan serta kedisiplinan warga dalam memilah sampah sejak dari rumah.

Inovasi sederhana seperti tong komposter dapat memberikan dampak lebih luas apabila diterapkan secara kolektif. Selain mengurangi beban sampah, kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran bahwa limbah organik masih mempunyai nilai guna dan ekonomi.

Program ITK di Manggar memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi, mahasiswa dan masyarakat dapat bekerja sama menghadirkan teknologi tepat guna. Pendekatan tersebut diharapkan dapat direplikasi di lingkungan lain dengan menyesuaikan kebutuhan serta kemampuan warga setempat.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna