KebonCinta.com – Ketika bepergian jauh, umat Islam mendapat keringanan (rukhsah) untuk melaksanakan sholat dalam kondisi tertentu. Dua istilah yang sering terdengar adalah jamak dan qashar. Keduanya berbeda: jamak berkaitan dengan waktu pelaksanaan, sedangkan qashar berkaitan dengan jumlah rakaat. Syaratnya perlu dipahami.
Jamak berarti mengerjakan dua sholat fardhu dalam satu waktu. Pasangannya hanya Zuhur dengan Asar dan Magrib dengan Isya. Sholat Subuh tidak dapat dijamak dengan sholat lain.
Qashar berarti meringkas sholat empat rakaat menjadi dua rakaat, yaitu Zuhur, Asar, dan Isya. Magrib tetap tiga rakaat dan Subuh tetap dua rakaat. Jamak boleh tanpa qashar, qashar boleh tanpa jamak, dan keduanya dapat digabung jika persyaratan terpenuhi.
Menurut panduan fikih Syafi'i yang dirangkum Kementerian Agama, qashar dapat dilakukan dalam perjalanan yang diperbolehkan, bukan perjalanan untuk maksiat, dengan jarak sekitar 82 kilometer atau dua marhalah. Ukuran jarak berbeda di antara ulama.
Keringanan perjalanan umumnya mulai berlaku setelah musafir keluar dari batas permukiman asal. Status perjalanan dan lamanya berniat tinggal di tujuan juga memengaruhi kebolehannya. Untuk qashar, niat dilakukan saat takbiratul ihram dan makmum tidak boleh meringkas rakaat ketika mengikuti imam yang sholat sempurna empat rakaat.
Selain perjalanan, sebagian pendapat fikih membahas alasan lain untuk jamak, seperti hujan atau sakit, dengan syarat tersendiri. Jadi, setiap kesibukan biasa tidak otomatis membolehkan jamak.
Baca Juga: Apa Itu Sujud Sahwi? Penyebab, Bacaan, dan Tata Cara Melakukannya saat Sholat
Jamak taqdim dilakukan pada waktu sholat pertama: Zuhur–Asar saat Zuhur, atau Magrib–Isya saat Magrib. Dalam panduan Syafi'i, sholat pertama didahulukan, niat jamak hadir pada sholat pertama, dan kedua sholat dikerjakan berurutan tanpa jeda panjang. Uzur yang membolehkan jamak juga harus masih ada ketika memulai sholat kedua.
Contohnya, musafir yang memenuhi syarat mengerjakan Zuhur dua rakaat dengan qashar, lalu segera melaksanakan Asar dua rakaat. Bila hanya menjamak tanpa qashar, Zuhur dan Asar masing-masing tetap empat rakaat.
Jamak takhir berarti mengerjakan Zuhur–Asar pada waktu Asar, atau Magrib–Isya pada waktu Isya. Dalam fikih Syafi'i, niat mengakhirkan sholat harus sudah ada ketika waktu sholat pertama masih berlangsung, dan uzur perjalanan tetap memenuhi ketentuan hingga pengerjaan sholat.
Contohnya, dalam perjalanan jauh seseorang berniat jamak takhir saat waktu Zuhur. Ketika masuk waktu Asar, ia mengerjakan Zuhur dan Asar. Menurut panduan tersebut, tertib pada jamak takhir dianjurkan, tetapi tidak disyaratkan seperti jamak taqdim.
Periksa waktu sholat, jarak perjalanan, dan apakah masih berstatus musafir. Tentukan lebih dahulu apakah akan melakukan jamak taqdim atau takhir.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir