Khazanah
M. Panji Maulana

Tata Cara Sholat Istisqa, Ibadah Memohon Hujan ketika Kemarau

Tata Cara Sholat Istisqa, Ibadah Memohon Hujan ketika Kemarau

29 Oktober 2026 | 05:54

KebonCinta.com – Musim kemarau yang berlangsung lama dapat menyebabkan berbagai kesulitan bagi masyarakat.

Persediaan air bersih dapat berkurang, lahan pertanian mengalami kekeringan, dan sebagian warga harus melakukan usaha tambahan untuk memperoleh air bagi kebutuhan sehari-hari.

Dalam menghadapi keadaan tersebut, umat Islam diajarkan untuk melakukan ikhtiar secara lahir dan batin.

Selain menggunakan air secara bijaksana serta melakukan upaya penanganan kekeringan, umat Islam juga dapat memperbanyak doa dan melaksanakan sholat Istisqa.

Sholat Istisqa merupakan ibadah sunnah yang dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang membawa manfaat.

Namun, tidak semua umat Islam mengetahui tata cara pelaksanaannya.

Ibadah ini mempunyai beberapa kekhasan, mulai dari persiapan masyarakat, jumlah takbir, hingga khutbah yang berisi istighfar dan doa.

Apa Itu Sholat Istisqa?

Istisqa secara bahasa berkaitan dengan permohonan air atau hujan.

Dalam pembahasan fikih, sholat Istisqa merupakan ibadah sunnah yang dikerjakan untuk memohon turunnya hujan ketika masyarakat membutuhkannya.

Sholat Istisqa memiliki hukum sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan.

Pelaksanaannya merupakan bentuk penghambaan kepada Allah sekaligus pengingat agar manusia tidak melupakan keterbatasannya.

Sholat Istisqa tidak sebaiknya dipahami sebagai jaminan bahwa hujan pasti turun segera setelah ibadah selesai.

Turunnya hujan tetap merupakan ketentuan Allah SWT, sedangkan umat manusia mempunyai kewajiban melakukan ikhtiar yang sesuai kemampuan.

1. Kapan Sholat Istisqa Dilaksanakan?

Sholat Istisqa dilaksanakan ketika terdapat kebutuhan memohon turunnya hujan, misalnya karena kemarau panjang atau kekurangan air.

Berbeda dengan sholat gerhana yang terikat pada berlangsungnya fenomena gerhana, Istisqa berkaitan dengan kebutuhan masyarakat terhadap hujan.

Dalam penjelasan fikih terdapat pembahasan mengenai waktu pelaksanaannya.

Penyelenggaraan berjamaah biasanya dipilih pada waktu yang memungkinkan masyarakat berkumpul, dengan tetap memperhatikan waktu yang diperbolehkan untuk sholat sunnah menurut panduan yang digunakan.

Jika dilaksanakan di lapangan, pengurus perlu memperhatikan keselamatan dan kondisi jamaah.

2. Persiapan Sebelum Melaksanakan Sholat

Dalam tradisi fikih mazhab Syafi'i yang dijelaskan NU Online, masyarakat dianjurkan melakukan persiapan spiritual sebelum melaksanakan Istisqa.

Persiapan dapat berupa bertobat, memperbanyak istighfar, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Terdapat pula penjelasan anjuran puasa beberapa hari sebelum pelaksanaan dalam sebagian rujukan fikih.

Namun, anjuran tersebut tidak boleh dianggap sebagai syarat sah mutlak seluruh pelaksanaan sholat Istisqa.

Jika masyarakat perlu melaksanakan sholat bersama, pengurus dapat menyesuaikan persiapan dengan kondisi dan kemampuan peserta.

Tujuan utamanya adalah membangun kesungguhan berdoa dan memperbaiki diri.

3. Niat Sholat Istisqa

Berikut contoh lafaz niat sholat Istisqa.

Arab:

أُصَلِّي سُنَّةَ الِاسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:

Ushallī sunnatal-istisqā'i rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

"Aku berniat melaksanakan sholat sunnah Istisqa dua rakaat karena Allah Taala."

Apabila menjadi imam atau makmum, lafaz dapat disesuaikan dengan tuntunan yang digunakan.

Namun, niat pada dasarnya merupakan kehendak di dalam hati untuk melaksanakan ibadah.

Pengucapan lafaz niat bukan pengganti niat tersebut.

4. Jumlah Rakaat Sholat Istisqa

Sholat Istisqa dilakukan sebanyak dua rakaat.

Dalam panduan fikih yang banyak diamalkan di Indonesia, tata caranya menyerupai sholat Id.

Salah satu kekhasannya adalah takbir berulang sebelum membaca Al-Fatihah.

Adanya tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima takbir pada rakaat kedua dalam tuntunan yang dijadikan rujukan.

Rincian penghitungan takbir perlu mengikuti panduan imam atau mazhab yang digunakan agar jamaah tidak mengalami kebingungan.

Setelah takbir, sholat dilanjutkan dengan bacaan dan gerakan sebagaimana ketentuan yang relevan.

5. Tata Cara Rakaat Pertama

Sholat dimulai dengan berdiri menghadap kiblat.

Jamaah berniat di dalam hati untuk melaksanakan sholat sunnah Istisqa.

Selanjutnya, imam melakukan takbiratul ihram.

Setelah itu, dilakukan rangkaian takbir tambahan sesuai tuntunan sholat Istisqa yang digunakan.

Kemudian imam membaca Surah Al-Fatihah dan surah atau ayat Al-Qur'an.

Setelah bacaan, jamaah melakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, serta sujud kedua.

Kemudian jamaah bangkit menuju rakaat kedua.

6. Tata Cara Rakaat Kedua

Pada rakaat kedua, imam melakukan rangkaian takbir sesuai tuntunannya.

Dalam penjelasan fikih yang dirujuk, terdapat lima takbir sebelum membaca Al-Fatihah.

Selanjutnya imam membaca Al-Fatihah serta surah atau ayat Al-Qur'an.

Setelah itu, sholat diteruskan dengan rukuk, iktidal, dua kali sujud, dan tasyahud akhir.

Sholat kemudian diakhiri dengan salam.

Untuk pelaksanaan berjamaah, jamaah sebaiknya mengikuti imam yang memahami tata cara sesuai panduan fikih yang digunakan.

7. Apakah Harus Membaca Surah Tertentu?

Dalam berbagai panduan fikih terdapat anjuran membaca surah tertentu pada sholat Istisqa.

Namun, bacaan surah tersebut tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya pilihan agar sholat sah.

Imam dapat mempertimbangkan kemampuan serta keadaan jamaah.

Yang terpenting adalah melaksanakan bacaan wajib sesuai ketentuan dan menjaga tata cara ibadah dengan benar.

Jika jamaah terdiri atas banyak peserta yang belum terbiasa, pengurus dapat memberikan penjelasan singkat mengenai alur sholat sebelum dimulai.

8. Khutbah Sholat Istisqa

Salah satu bagian yang dianjurkan setelah sholat adalah khutbah Istisqa.

Dalam penjelasan fikih mazhab Syafi'i, khutbah dapat dilakukan dua kali sebagaimana pola khutbah tertentu.

Diterangkan bahwa khutbah sesudah sholat dinilai lebih utama dalam panduan yang digunakan, meskipun terdapat pembahasan mengenai pelaksanaan sebelum sholat.

Isi khutbah berfokus pada ajakan bertobat, beristighfar, dan memohon kepada Allah agar menurunkan hujan.

Khatib juga dapat mengingatkan jamaah agar menjaga kepedulian sosial selama masa kekeringan.

Baca Juga: Doa Memohon Hujan saat Kemarau Panjang, Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya

9. Memperbanyak Istighfar dalam Khutbah

Salah satu kekhasan khutbah Istisqa adalah anjuran memperbanyak istighfar.

Dalam penjelasan yang dikutip NU Online, khatib dianjurkan membaca istighfar sembilan kali pada pembukaan khutbah pertama dan tujuh kali pada pembukaan khutbah kedua.

Salah satu bacaan istighfar yang dapat diamalkan adalah:

Arab:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Latin:

Astaghfirullāhal-‘azhīm, lā ilāha illā huwal-hayyul-qayyūm, wa atūbu ilaih.

Artinya:

"Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung. Tidak ada Tuhan selain Dia Yang Mahahidup dan terus mengurus makhluk-Nya, dan aku bertobat kepada-Nya."

Istighfar dalam khutbah menjadi ajakan bagi umat Islam untuk menyadari kekurangan diri serta memohon ampunan Allah SWT.

10. Doa Memohon Turunnya Hujan

Dalam hadis terdapat beberapa bacaan doa yang digunakan Rasulullah SAW ketika memohon hujan.

Salah satu doa yang ringkas adalah:

Arab:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Latin:

Allāhumma aghitsnā.

Artinya:

"Ya Allah, berilah kami pertolongan dengan hujan."

Doa tersebut dapat diulang sebagai permohonan kepada Allah.

Khatib juga dapat membaca doa lain yang bersumber dari hadis atau rujukan fikih yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jamaah dianjurkan berdoa dengan penuh harapan agar hujan yang turun membawa rahmat dan manfaat.

11. Menghadap Kiblat dan Membalik Selendang

Dalam pelaksanaan Istisqa terdapat sunnah yang berkaitan dengan khatib menghadap kiblat dan membalik posisi selendang atau pakaian luarnya.

Tindakan tersebut merupakan bagian dari tata cara yang dibahas dalam sumber fikih.

Praktik itu dipahami sebagai bentuk pengharapan terhadap perubahan keadaan dari kekeringan menjadi turunnya hujan.

Namun, tindakan tersebut tidak boleh dianggap sebagai cara fisik yang menyebabkan hujan turun.

Hujan tetap merupakan ketentuan Allah SWT.

Orang yang tidak mengenakan selendang atau pakaian luar tertentu tidak perlu menganggap ibadahnya tidak sah karena tidak melakukan tindakan tersebut.

12. Apakah Sholat Istisqa Harus Dilakukan di Lapangan?

Pelaksanaan di tempat terbuka mempunyai dasar dalam praktik ibadah ini.

Namun, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi tempat.

Lapangan dapat menjadi pilihan apabila memungkinkan.

Masjid atau tempat lain yang sesuai juga dapat dipertimbangkan berdasarkan panduan yang digunakan.

Jika masyarakat berada dalam keadaan kekeringan berat, pengurus perlu memastikan tersedianya kebutuhan dasar seperti air minum bagi peserta.

Orang tua, anak-anak, dan lansia perlu mendapat perhatian agar kegiatan berlangsung aman.

13. Mengapa Tobat dan Sedekah Dianjurkan?

Istisqa bukan hanya kegiatan berkumpul untuk meminta hujan.

Dalam tuntunan fikih, umat Islam diajak memperbaiki hubungan kepada Allah dan sesama manusia.

Tobat mengingatkan manusia terhadap kewajiban memperbaiki diri.

Sementara itu, sedekah dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.

Misalnya, keluarga yang mempunyai akses air lebih baik dapat membantu warga lain sesuai kemampuan.

Dengan demikian, permohonan spiritual dapat disertai tindakan nyata yang bermanfaat bagi sesama.

14. Tetap Lakukan Upaya Mengatasi Kekeringan

Melaksanakan sholat Istisqa tidak berarti masyarakat boleh mengabaikan upaya penanganan kekeringan.

Pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat tetap perlu memperhatikan pengelolaan air.

Misalnya, menggunakan air secara hemat, memperbaiki kebocoran saluran, menyediakan kebutuhan air bersih, serta menjaga sumber air.

Petani juga dapat mengikuti panduan teknis yang sesuai mengenai pengelolaan lahan dan kebutuhan tanaman.

Doa merupakan bagian dari ikhtiar spiritual, sedangkan tindakan nyata tetap diperlukan untuk menghadapi dampak kemarau.

Baca Juga: Saat Hujan, Perbanyak Doa, Bukan Keluhan

15. Apa yang Dilakukan Jika Hujan Belum Turun?

Jika hujan belum turun setelah sholat Istisqa, umat Islam dianjurkan tetap berdoa serta tidak berputus asa.

Ibadah tidak boleh dipahami sebagai transaksi yang menjamin hasil tertentu dalam waktu tertentu.

Masyarakat dapat terus melakukan upaya menjaga ketersediaan air dan membantu warga yang mengalami kesulitan.

Apabila kebutuhan masih berlangsung, terdapat pembahasan fikih mengenai pengulangan permohonan hujan.

Namun, kegiatan berikutnya perlu diselenggarakan secara tertib dan sesuai panduan ulama.

Sholat Istisqa merupakan salah satu bentuk penghambaan kepada Allah ketika masyarakat membutuhkan hujan.

Melalui dua rakaat sholat, khutbah, istighfar, dan doa, umat Islam diajak memperkuat hubungan spiritual serta meningkatkan kepedulian.

Ibadah ini juga mengingatkan bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada karunia air.

Dengan memahami tata cara pelaksanaannya dan tetap menjalankan ikhtiar nyata, masyarakat dapat menghadapi musim kemarau secara lebih sabar, terarah, dan saling membantu.

Tags:
Tata cara sholat Istisqa untuk memohon hujan saat kemarau lengkap dengan niat Arab jumlah rakaat takbir khutbah dan doa.

Komentar Pengguna