keboncinta.com- Setiap orang tua tentu menantikan momen ketika anak mulai mengucapkan kata pertamanya. Mendengar si kecil mengatakan “mama”, “papa”, atau menyebut nama benda di sekitarnya menjadi salah satu pengalaman berharga dalam proses tumbuh kembang anak.
Namun, tidak semua anak menunjukkan perkembangan kemampuan berbicara pada waktu yang sama. Ada anak yang sudah mampu merangkai beberapa kata sebelum berusia dua tahun, sementara anak lainnya masih kesulitan mengungkapkan keinginan melalui ucapan.
Perbedaan tersebut terkadang membuat orang tua bertanya-tanya apakah anak hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar berbicara atau sedang mengalami speech delay.
Meskipun perkembangan setiap anak memiliki variasi, keterlambatan bicara tetap perlu diperhatikan. Mengenali tanda-tandanya sejak dini membantu orang tua menentukan kapan anak membutuhkan pemeriksaan dan pendampingan profesional.
Speech delay adalah kondisi ketika perkembangan kemampuan berbicara seorang anak lebih lambat dibandingkan dengan tahapan perkembangan yang umumnya dicapai anak seusianya.
Anak yang mengalami keterlambatan bicara mungkin memiliki jumlah kosakata yang terbatas, kesulitan mengucapkan kata-kata, atau belum mampu menggabungkan kata menjadi kalimat sederhana.
Namun, kemampuan berbicara dan kemampuan berbahasa sebenarnya memiliki perbedaan.
Kemampuan berbicara berkaitan dengan produksi suara dan pengucapan kata, sedangkan kemampuan berbahasa mencakup proses memahami serta menggunakan kata atau kalimat untuk berkomunikasi.
Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD), seorang anak dapat mengalami kesulitan berbicara, memahami bahasa, atau keduanya.
Karena itu, anak yang belum banyak berbicara perlu dinilai secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan jumlah kata yang dapat diucapkannya.
Memahami tahapan perkembangan komunikasi dapat membantu orang tua mengenali kemampuan yang biasanya mulai muncul pada usia tertentu.
Berdasarkan panduan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tonggak perkembangan merupakan kemampuan yang telah dicapai oleh sebagian besar anak pada usia tertentu.
Berikut gambaran perkembangannya.
Pada tahun pertama kehidupan, bayi mulai mengembangkan kemampuan komunikasi melalui tangisan, ekspresi wajah, suara, dan gerakan tubuh.
Seiring pertambahan usia, bayi mulai mengoceh dengan bunyi seperti “ba-ba” atau “ma-ma”, merespons suara, serta menggunakan gerakan sederhana untuk berkomunikasi.
Menjelang usia satu tahun, sebagian besar bayi mulai menggunakan gerakan seperti melambaikan tangan dan memahami beberapa kata yang sering didengarnya.
Orang tua perlu memperhatikan jika bayi jarang mengoceh, tidak merespons suara, atau belum menunjukkan gerakan komunikasi seperti menunjuk ketika mendekati usia satu tahun.
Pada rentang usia ini, anak biasanya mulai mengucapkan kata-kata yang memiliki makna.
Menurut CDC, pada usia 18 bulan sebagian besar anak sudah mencoba mengucapkan setidaknya tiga kata selain panggilan untuk orang tua.
Anak juga mulai mampu mengikuti instruksi sederhana tanpa bantuan gerakan, misalnya memberikan mainan ketika diminta.
Apabila anak belum mengucapkan kata bermakna atau sulit memahami instruksi sederhana, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Perkembangan bahasa biasanya semakin terlihat menjelang usia dua tahun.
Anak mulai menggabungkan dua kata menjadi ungkapan sederhana, seperti “mau susu”, “ambil bola”, atau “mama sini”.
Dalam panduan perkembangan CDC, kemampuan mengucapkan sedikitnya dua kata secara bersamaan merupakan salah satu tonggak komunikasi pada usia dua tahun.
Sementara itu, American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menjelaskan bahwa kosakata kurang dari 50 kata dan belum mampu menggabungkan dua kata pada usia 24 bulan merupakan kriteria yang sering digunakan untuk mengenali keterlambatan perkembangan bahasa ekspresif.
Pada usia ini, kemampuan komunikasi anak biasanya semakin berkembang.
Anak mulai menggunakan kalimat yang lebih panjang, mengajukan pertanyaan sederhana, dan mengikuti percakapan dengan orang lain.
Menurut CDC, sebagian besar anak berusia tiga tahun sudah mampu melakukan percakapan timbal balik dengan sedikitnya dua kali pertukaran respons.
Ucapan anak juga semakin mudah dipahami orang lain dalam sebagian besar situasi.
Apabila anak masih sangat kesulitan menyampaikan kebutuhan atau memahami percakapan sederhana, pemeriksaan perkembangan perlu dipertimbangkan.
Keterlambatan bicara tidak selalu ditandai oleh anak yang sama sekali belum dapat berbicara.
Ada beberapa tanda lain yang perlu diperhatikan.
Mengoceh merupakan salah satu bagian awal perkembangan komunikasi bayi.
Jika bayi jarang menghasilkan suara atau tidak menunjukkan perkembangan ocehan, kondisi tersebut perlu diperhatikan bersama kemampuan komunikasi lainnya.
Anak yang tidak menoleh ketika namanya dipanggil bisa mengalami kesulitan mendengar atau memahami komunikasi.
Namun, perilaku tersebut tidak otomatis menunjukkan gangguan pendengaran atau kondisi perkembangan tertentu.
Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Anak yang jumlah kata bermaknanya jauh lebih sedikit dibandingkan kemampuan yang diharapkan pada usianya dapat menunjukkan tanda keterlambatan bahasa.
Penilaian juga harus mempertimbangkan pemahaman bahasa, gerakan komunikasi, dan perkembangan sosial anak.
Anak usia dua tahun umumnya mulai mampu menggunakan dua kata secara bersamaan.
Jika kemampuan tersebut belum muncul, sebaiknya orang tua tidak hanya menunggu dengan harapan anak akan berkembang sendiri.
Kemampuan berbahasa bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga memahami komunikasi orang lain.
Jika anak sering tidak memahami instruksi yang sesuai dengan usianya, hal tersebut perlu disampaikan kepada dokter.
Tanda yang sangat penting adalah ketika anak berhenti menggunakan kata-kata yang sebelumnya sudah dapat diucapkan atau mengalami kemunduran dalam kemampuan berinteraksi.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kemunduran kemampuan berbicara maupun kemampuan sosial pada usia berapa pun merupakan alasan untuk membawa anak berkonsultasi dengan dokter.
Keterlambatan bicara dapat berkaitan dengan berbagai kondisi.
Salah satu faktor yang perlu diperiksa adalah gangguan pendengaran. Anak membutuhkan kemampuan mendengar yang memadai untuk mengenali dan mempelajari berbagai bunyi bahasa.
Selain itu, keterlambatan bicara dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan bahasa, kesulitan koordinasi gerakan bicara, atau kondisi perkembangan tertentu.
Pada sebagian anak, keterlambatan komunikasi juga ditemukan bersama kondisi seperti gangguan spektrum autisme. Namun, speech delay tidak otomatis berarti anak mengalami autisme.
Faktor lingkungan, termasuk kurangnya kesempatan berinteraksi dan berkomunikasi secara langsung, juga dapat memengaruhi pengalaman belajar bahasa anak.
Penggunaan gawai secara berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak terlibat dalam percakapan dua arah, terutama jika waktu layar menggantikan kegiatan bermain dan berinteraksi bersama keluarga.
Namun, penggunaan gawai tidak boleh langsung dianggap sebagai satu-satunya penyebab keterlambatan bicara tanpa pemeriksaan menyeluruh.
Baca Juga: Stop Melakukan Ini Saat Anak Belajar Bicara
Sebagian orang tua khawatir penggunaan bahasa Indonesia bersama bahasa daerah atau bahasa asing dapat membuat anak terlambat berbicara.
Padahal, penggunaan dua bahasa atau lebih tidak dengan sendirinya menyebabkan gangguan perkembangan bicara dan bahasa.
Menurut ASHA, anak dapat mempelajari beberapa bahasa tanpa menyebabkan atau memperburuk gangguan komunikasi.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan multibahasa mungkin memiliki jumlah kosakata yang berbeda pada masing-masing bahasa. Karena itu, penilaian perkembangannya harus mempertimbangkan seluruh bahasa yang digunakan anak.
Jika terdapat kekhawatiran, orang tua dapat berkonsultasi dengan profesional yang memahami perkembangan bahasa anak multibahasa.
Orang tua tidak harus menunggu sampai anak memasuki usia sekolah untuk mencari pertolongan.
Konsultasi dengan dokter anak dianjurkan apabila ditemukan tanda keterlambatan perkembangan atau orang tua mempunyai kekhawatiran yang berkelanjutan.
Beberapa kondisi yang perlu segera ditindaklanjuti antara lain:
Dalam pemeriksaan, dokter dapat menilai riwayat kesehatan, kemampuan perkembangan, interaksi sosial, dan kondisi komunikasi anak.
Pemeriksaan pendengaran juga sering diperlukan karena gangguan pendengaran dapat memengaruhi perkembangan bahasa.
Apabila dibutuhkan, dokter dapat merujuk anak kepada dokter spesialis terkait, audiolog, atau terapis wicara.
Penanganan selanjutnya disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kebutuhan masing-masing anak.
Selain berkonsultasi dengan tenaga profesional, orang tua dapat membantu perkembangan komunikasi anak melalui kegiatan sederhana.
Berbicaralah ketika anak makan, mandi, bermain, atau berjalan-jalan.
Misalnya, saat memandikan anak, orang tua dapat mengatakan, “Sekarang kita cuci tangan,” atau “Airnya hangat, ya.”
Percakapan sehari-hari membantu anak mengenal kosakata dalam konteks yang nyata.
Pilih buku bergambar yang sesuai dengan usia anak.
Tunjukkan gambar sambil menyebutkan nama benda, hewan, atau kegiatan yang terlihat.
Berikan kesempatan anak menunjuk atau mencoba menyebutkan kata tanpa memaksanya.
Ketika anak berusaha mengucapkan sesuatu, jangan langsung menyelesaikan kalimatnya.
Dengarkan dengan sabar dan berikan kesempatan untuk mencoba.
Jika pengucapannya belum tepat, orang tua dapat memberikan contoh yang benar secara alami tanpa terus-menerus mengoreksi.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir