Keboncinta.com-- Sejarah perkembangan ilmu geografi dan pelayaran dunia tidak lepas dari sosok-sosok yang memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca laut dan memetakan wilayah. Salah satunya adalah Piri Reis, laksamana sekaligus kartografer dari Kesultanan Ottoman yang namanya dikenal melalui Peta Dunia 1513 dan karya penting Kitab Bahriye.
Piri Reis tidak hanya dikenal sebagai seorang perwira angkatan laut. Ia juga merupakan ahli pemetaan dan geografi yang menghasilkan karya penting pada masa ketika teknologi navigasi belum berkembang seperti sekarang.
Kemampuan Piri Reis dalam mengolah berbagai informasi pelayaran membuat karyanya tetap menarik untuk dikaji hingga berabad-abad kemudian. Peta dan catatan navigasi yang dibuatnya menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan ilmu maritim pada masa Kesultanan Ottoman.
Baca Juga: Jangan Cuma Tanya “Sudah Makan?”, Ini 7 Pertanyaan untuk Anak Sepulang Sekolah
Piri Reis diperkirakan lahir sekitar 1465–1470 di Gallipoli, sebuah kawasan yang memiliki posisi penting dalam kekuatan maritim Ottoman. Ia memiliki nama asli Muhyiddin Piri.
Sejak masih muda, Piri Reis sudah akrab dengan kehidupan di laut. Ia belajar mengenai pelayaran dari pamannya, Kemal Reis, yang dikenal sebagai pelaut sekaligus laksamana Ottoman.
Di bawah bimbingan sang paman, Piri Reis memperoleh pengalaman mengenai navigasi, strategi pertempuran laut, serta cara membaca dan menggunakan peta untuk mendukung pelayaran.
Kemampuannya juga didukung oleh penguasaan sejumlah bahasa asing. Dalam berbagai catatan sejarah, Piri Reis disebut mengetahui bahasa seperti Yunani, Spanyol, Italia, dan Portugis. Pengetahuan bahasa tersebut memudahkannya mempelajari informasi mengenai pelayaran dan geografi dari berbagai bangsa.
Karier Piri Reis di dunia maritim berkembang melalui berbagai pelayaran yang dilakukannya bersama Kemal Reis.
Keduanya mengikuti sejumlah ekspedisi di kawasan Laut Mediterania dan terlibat dalam berbagai operasi militer yang menjangkau beberapa wilayah, termasuk Sardinia, Sisilia, Korsika, dan kawasan Prancis.
Salah satu bagian penting dalam perjalanan kariernya terjadi ketika Ottoman mengirim Kemal Reis ke Spanyol. Misi tersebut berkaitan dengan upaya menyelamatkan komunitas Muslim dan Yahudi yang menghadapi tekanan setelah jatuhnya Granada.
Dalam perjalanan tersebut, Piri Reis turut membantu membawa para pengungsi menuju wilayah Afrika Utara. Pengalaman ini semakin memperkaya pengetahuannya mengenai jalur pelayaran dan wilayah Mediterania.
Baca Juga: Anak Susah Diatur? Ini 5 Cara Mengajarkan Disiplin Tanpa Ancaman, Yuk Disimak
Setelah menjalani berbagai ekspedisi, Piri Reis kemudian menjadi bagian dari angkatan laut Ottoman.
Ia dipercaya memimpin kapal dalam konflik melawan Republik Venesia. Namanya semakin dikenal setelah menunjukkan kemampuan dalam sejumlah pertempuran laut pada periode 1499 hingga 1502.
Pengalaman di medan pertempuran membuat Piri Reis tidak hanya dikenal sebagai pelaut, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki kemampuan dalam strategi maritim dan navigasi.
Perjalanan intelektual Piri Reis semakin berkembang setelah Kemal Reis meninggal dunia akibat kecelakaan laut pada 1511.
Piri Reis kemudian kembali ke Gallipoli dan lebih banyak mencurahkan perhatian pada penelitian, pemetaan, serta pengumpulan informasi geografis. Ia menggunakan pengalaman pelayaran sekaligus berbagai sumber yang diperolehnya dari perjalanan dan dokumen navigasi.
Dari proses tersebut lahirlah Peta Dunia 1513, yang kemudian menjadi salah satu karya kartografi paling terkenal dari era Ottoman.
Fragmen peta yang masih bertahan memperlihatkan sejumlah wilayah, antara lain Samudra Atlantik, Semenanjung Iberia, pesisir Afrika, serta bagian dari benua Amerika.
Karya tersebut menarik perhatian karena memperlihatkan kemampuan pemetaan yang cukup detail untuk ukuran teknologi yang tersedia pada masa itu.
Baca Juga: Bolehkah Anak Kecil Main HP? Ini Aturan yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
Selain Peta Dunia 1513, nama Piri Reis juga tidak dapat dipisahkan dari Kitab Bahriye atau buku navigasi.
Karya tersebut memuat berbagai informasi mengenai kawasan Laut Mediterania. Isinya mencakup kondisi pelabuhan, rute pelayaran, arus laut, teluk, selat, pulau-pulau, hingga informasi mengenai garis pantai.
Kitab Bahriye juga dilengkapi dengan peta-peta yang membantu pelaut memahami wilayah yang akan dilalui.
Karena kelengkapan informasinya, karya tersebut menjadi salah satu sumber penting bagi pelayaran Ottoman pada abad ke-16 dan memperkuat posisi Piri Reis sebagai ahli navigasi.
Pada 1517, Piri Reis mengikuti ekspedisi menuju Mesir yang dipimpin Sultan Selim I. Dalam kesempatan tersebut, ia mempersembahkan Peta Dunia 1513 kepada sang sultan.
Selama berada di Mesir, Piri Reis juga melakukan kegiatan pemetaan di sekitar Kairo dan Sungai Nil. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan geografis Ottoman.
Beberapa tahun kemudian, pada 1525, Kitab Bahriye diserahkan kepada Sultan Suleiman Agung melalui Wazir Agung Pargalı Ibrahim Pasha.
Karya tersebut semakin memperkuat reputasi Piri Reis sebagai seorang ahli pemetaan dan navigasi yang memiliki pengaruh besar pada masanya.
Baca Juga: Jangan Dianggap Kenakalan Biasa, Ini Tanda Bullying pada Anak yang Perlu Diketahui
Karier Piri Reis di bidang militer terus mengalami perkembangan. Pada 1547, ia diangkat sebagai Reis atau laksamana sekaligus Komandan Armada Ottoman.
Setelah wafatnya Barbarossa Hayreddin Pasha, Piri Reis kemudian mendapat kepercayaan untuk memimpin armada Ottoman di wilayah Mesir.
Pengalamannya selama puluhan tahun di laut, baik sebagai navigator maupun komandan, membuatnya menjadi salah satu figur penting dalam kekuatan maritim Ottoman.
Di balik berbagai pencapaian yang diraihnya, kehidupan Piri Reis berakhir dengan hukuman berat.
Dalam sebuah ekspedisi, ia mengambil keputusan untuk membawa kapal yang mengangkut harta menuju Mesir, sementara sebagian armada ditinggalkan di Basra.
Keputusan tersebut kemudian menimbulkan persoalan. Piri Reis dilaporkan kepada Sultan Suleiman oleh pejabat setempat atas tuduhan kelalaian dalam menjalankan tugas.
Ia akhirnya dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi pada 1554. Saat itu, usianya diperkirakan sudah lebih dari 80 tahun.
Baca Juga: Jangan Dianggap Kenakalan Biasa, Ini Tanda Bullying pada Anak yang Perlu Diketahui
Meskipun akhir hidupnya berlangsung tragis, karya Piri Reis tetap bertahan sebagai bagian penting dari sejarah ilmu pengetahuan.
Peta Dunia 1513 dan Kitab Bahriye memperlihatkan perkembangan pengetahuan mengenai geografi, pemetaan, serta navigasi dalam peradaban Islam pada masa Kesultanan Ottoman.
Kedua karya tersebut juga menunjukkan bagaimana informasi dari berbagai perjalanan dan sumber geografis dapat dikumpulkan, dipelajari, kemudian dituangkan menjadi pengetahuan yang berguna bagi pelaut.
Warisan Piri Reis pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan sejarah militer Ottoman.