KebonCinta.com — Sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan sampah.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Cikutra 1 Kota Bandung mulai memanfaatkan sebagian sampah organik dari kegiatan MBG sebagai pakan ternak.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pemilahan sampah organik dan anorganik di lingkungan dapur.
“Sejak program berjalan kembali di SPPG, kami melaksanakan pemilahan sampah organik dan anorganik,” ujar Kepala SPPG Cikutra 1 Kota Bandung Kiki Agung.
Sisa makanan terlebih dahulu dipisahkan berdasarkan jenisnya.
Petugas membedakan antara nasi, sayuran, daging maupun jenis makanan lain.
Sisa tersebut juga ditimbang.
Pencatatan dilakukan bukan hanya untuk mengetahui jumlah limbah yang dihasilkan.
Data tersebut digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap menu MBG yang diberikan kepada penerima manfaat.
Jika jenis makanan tertentu banyak dikembalikan, SPPG dapat mengetahui menu mana yang mungkin kurang diminati.
Informasi itu kemudian dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan menu berikutnya.
Dengan demikian, sampah makanan juga memberikan informasi mengenai pola konsumsi penerima.
Setelah melalui proses pemilahan, sebagian sisa makanan organik dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Pakan tersebut disalurkan ke ternak milik yayasan maupun mitra pendamping SPPG di Kabupaten Bandung.
Salah satu lokasi berada di kawasan Jeleng Prang.
Baca Juga: Perbedaan Aqiqah dan Kurban dari Tujuan, Waktu, dan Pembagian Daging
“Pemisahan sisa makanan berdasarkan jenisnya dilakukan agar bahan organik dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan pakan ternak,” kata Kiki.
Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah organik dari kegiatan dapur MBG.
Sampah makanan menjadi persoalan ketika dibuang dalam jumlah besar tanpa pengelolaan.
Material organik memang dapat terurai, tetapi penumpukan tetap dapat menghasilkan bau serta menambah beban tempat pemrosesan sampah.
Pemilahan sejak sumber menjadi salah satu langkah yang dapat membantu.
Sampah organik dapat diarahkan ke pemanfaatan lain, sedangkan sampah anorganik dikelola melalui jalur yang berbeda.
Dalam konteks MBG, evaluasi sisa makanan juga mempunyai manfaat tambahan.
Menu tidak hanya dinilai berdasarkan kandungan gizinya, tetapi juga berdasarkan seberapa baik makanan diterima oleh penerima manfaat.
Makanan dengan kandungan gizi yang baik tetap perlu disajikan dengan cara yang membuat penerima mau mengonsumsinya.
Apabila terlalu banyak makanan tersisa, tujuan pemenuhan gizi juga dapat menjadi kurang optimal.
Program yang dilakukan SPPG Cikutra menunjukkan pengelolaan limbah dapat berjalan bersamaan dengan evaluasi pelayanan makanan.
Namun pemanfaatan sisa makanan sebagai pakan ternak tetap perlu memperhatikan jenis dan kondisi makanan agar sesuai untuk ternak yang menerimanya.
Upaya mengurangi sampah pada akhirnya tidak hanya dilakukan setelah limbah terbentuk.
Evaluasi menu juga dapat membantu menekan jumlah makanan yang tersisa sejak awal.
Jika diterapkan secara konsisten, langkah sederhana seperti memilah, mencatat dan memanfaatkan kembali sampah organik dapat membantu membuat operasional penyediaan makanan menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir