KebonCinta.com – Pernah merasa tidak cukup mampu meskipun sudah mempersiapkan diri dengan matang? Atau justru terus mempertanyakan keputusan yang sebenarnya sudah dipikirkan baik-baik?
Jika pernah mengalaminya, kamu tidak sendirian. Meragukan kemampuan diri sendiri merupakan pengalaman yang bisa dialami banyak orang, terutama ketika menghadapi perubahan, tantangan baru, atau tekanan dari lingkungan sekitar.
Perasaan tersebut terkadang tidak terlihat dari luar. Seseorang bisa tetap menjalani aktivitas seperti biasa, bekerja dengan baik, dan terlihat tenang, tetapi diam-diam mempertanyakan apakah dirinya benar-benar cukup mampu.
Keraguan sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, jika terus berulang hingga menghambat pengambilan keputusan, membuat seseorang sulit menerima pencapaian, atau mendorongnya menghindari kesempatan, kondisi tersebut perlu diperhatikan.
Baca Juga: Mulai 2027 Status Guru Berubah? Ini Nasib PPPK Paruh Waktu dan Guru Non-ASN Setelah 31 Desember 2026
Dilansir dari sejumlah referensi psikologi, termasuk Cottonwood Psychology, Talkspace, dan American Psychological Association (APA), ada beberapa pola perilaku yang dapat berkaitan dengan keraguan terhadap diri sendiri.
Berikut lima tanda meragukan diri sendiri yang penting untuk dikenali.
Pernah menghabiskan waktu lama untuk mempertimbangkan sebuah pilihan, tetapi setelah memutuskan, kamu justru kembali memikirkan apakah keputusan tersebut sudah benar?
Misalnya, kamu sudah memilih pekerjaan setelah membandingkan berbagai pertimbangan. Namun, beberapa hari kemudian, kamu terus bertanya-tanya apakah pekerjaan lain sebenarnya akan menjadi pilihan yang lebih baik.
Menurut Cottonwood Psychology, terus menimbang keputusan yang sebenarnya sudah masuk akal dapat berkaitan dengan keraguan diri, terutama ketika tidak ada informasi baru yang mengubah pertimbangan sebelumnya.
Kebiasaan ini bisa membuat seseorang terjebak dalam pemikiran berulang. Waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk menjalankan keputusan justru habis untuk memikirkan berbagai kemungkinan.
Untuk mengatasinya, cobalah mengingat kembali alasan yang mendasari pilihanmu. Jika keputusan tersebut sudah dibuat berdasarkan informasi yang cukup, berikan kesempatan kepada diri sendiri untuk menjalankannya.
Evaluasi tetap diperlukan, tetapi tidak semua keputusan harus dipertanyakan berulang kali tanpa alasan yang jelas.
Meminta maaf merupakan bagian penting dalam menjaga hubungan dengan orang lain. Namun, bagaimana jika kamu hampir selalu meminta maaf, bahkan ketika tidak melakukan kesalahan?
Contohnya, kamu meminta maaf sebelum menyampaikan pendapat, merasa bersalah ketika mengajukan pertanyaan, atau berkali-kali meminta maaf karena membutuhkan bantuan.
Dilansir dari Talkspace, kebiasaan meminta maaf secara berlebihan dapat berkaitan dengan rasa tidak aman dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain.
Seseorang mungkin merasa bahwa keberadaan atau kebutuhannya akan merepotkan orang lain. Akibatnya, ia berusaha terus-menerus memastikan bahwa orang di sekitarnya tidak merasa terganggu.
Jika pola ini sering terjadi, cobalah membedakan situasi yang memang membutuhkan permintaan maaf dengan keadaan yang sebenarnya tidak memerlukannya.
Ketika ingin menyampaikan pendapat, kamu bisa langsung mengatakannya dengan sopan tanpa harus meminta maaf terlebih dahulu.
Ingat, menghargai orang lain tidak berarti kamu harus terus-menerus mengecilkan diri sendiri.
Membandingkan diri dengan orang lain terkadang bisa memberikan motivasi. Namun, kebiasaan ini dapat menjadi masalah ketika kamu selalu merasa tertinggal dan menganggap kemampuan orang lain jauh lebih tinggi daripada kemampuanmu sendiri.
Misalnya, ketika melihat rekan kerja mendapatkan promosi, kamu langsung menyimpulkan bahwa dirinya lebih berbakat. Saat teman berhasil mencapai target, kamu justru merasa pencapaianmu tidak berarti.
Padahal, kamu mungkin tidak mengetahui seluruh proses, tantangan, dan kegagalan yang pernah mereka alami.
Keraguan terhadap diri sendiri dapat membuat seseorang lebih mudah memperhatikan kekurangan pribadi daripada kemampuan yang sudah dimiliki. Akibatnya, pencapaian sendiri terasa kurang berarti, sementara keberhasilan orang lain terlihat begitu besar.
Untuk mengatasinya, cobalah mengubah cara pandang terhadap perbandingan tersebut. Alih-alih bertanya mengapa orang lain lebih hebat, kamu bisa mencari tahu keterampilan apa yang dapat dipelajari dari mereka.
Buat juga catatan mengenai perkembangan pribadi, termasuk hal-hal kecil yang berhasil kamu selesaikan.
Setiap orang memiliki titik awal, kesempatan, dan proses yang berbeda. Kamu tidak harus memiliki perjalanan yang sama untuk bisa berkembang.
Tidak semua orang nyaman menjadi pusat perhatian.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir