Dalam nasihat yang dinisbatkan kepada Nabi Isa AS, disebutkan bahwa hati yang tidak dilembutkan dengan mengingat kematian dan tidak disertakan dalam ibadah dapat menjadi keras seperti batu.
Kebiasaan berlebihan dalam memenuhi kebutuhan duniawi juga perlu dikendalikan. Terlalu banyak makan, tidur, berbicara, tertawa, serta bergaul dengan lingkungan yang buruk dapat membuat seseorang lalai dari kewajiban agama.
Abu Sulaiman ad-Darani, sebagaimana dinukil dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, menyebutkan sejumlah perilaku yang dapat menyebabkan kerasnya hati, di antaranya banyak bicara, banyak melakukan dosa dan maksiat, meninggalkan kewajiban, banyak tertawa, banyak makan, serta bergaul dengan orang yang buruk agamanya.
Baca Juga: Manfaat Membaca Surah Al-Fatihah untuk Diri Sendiri: Penjaga dari Penyakit Hati dan Perilaku Buruk
Mengenali tanda dan penyebab hati yang keras seharusnya menjadi bahan introspeksi, bukan alasan untuk menghakimi orang lain. Keadaan hati manusia dapat berubah, sehingga setiap muslim perlu terus berusaha memperbaiki dirinya.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain memperbanyak zikir, membaca dan memahami Al-Qur'an, menjaga salat, memperbanyak istigfar, mengingat kematian, serta membiasakan diri membantu sesama.
Selain itu, penting untuk belajar menerima nasihat dan segera bertobat ketika menyadari kesalahan. Jangan membiarkan dosa menjadi kebiasaan yang dianggap biasa.
Pada akhirnya, hati yang lembut akan mendorong seseorang lebih mudah menerima kebenaran, menjalankan ibadah, dan berbuat baik kepada sesama. Karena itu, menjaga kebersihan hati merupakan bagian penting dari perjalanan seorang muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir