Standar yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri juga dapat membuat seseorang mudah meminta maaf. Mereka ingin segala sesuatu berjalan sesuai rencana dan merasa bersalah ketika hasilnya tidak memenuhi harapan.
Kesalahan kecil, keterlambatan, atau hasil kerja yang kurang sempurna bisa dianggap sebagai bukti bahwa dirinya telah mengecewakan orang lain.
Padahal, ketidaksempurnaan merupakan bagian wajar dari proses belajar dan bekerja. Tidak setiap kekurangan membutuhkan permintaan maaf, terutama jika tidak ada pihak yang dirugikan.
Menariknya, orang yang terbiasa meminta maaf juga bisa memiliki kemampuan sosial yang berguna dalam kepemimpinan, seperti empati, kesediaan mendengarkan, dan perhatian terhadap kebutuhan kelompok.
Tantangannya adalah belajar menyampaikan pendapat dengan tegas tanpa merasa harus terus-menerus meminta maaf. Pemimpin perlu mampu mengakui kesalahan ketika memang terjadi, tetapi juga memahami kapan dirinya tidak perlu memikul tanggung jawab yang bukan miliknya.
Mengubah kebiasaan ini bukan berarti harus berhenti meminta maaf sama sekali. Permintaan maaf tetap penting ketika seseorang melakukan kesalahan atau merugikan pihak lain.
Langkah awal yang bisa dicoba adalah berhenti sejenak sebelum mengucapkan “maaf”, lalu mempertimbangkan apakah memang ada kesalahan yang perlu diakui.
Misalnya, kalimat “maaf sudah membuatmu menunggu” dapat diganti menjadi “terima kasih sudah menunggu” jika situasinya lebih tepat untuk menunjukkan apresiasi.
Dengan mengenali alasan di balik kebiasaan tersebut, seseorang dapat belajar bersikap lebih tegas tanpa kehilangan empati dan kesopanan dalam berinteraksi.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir