KebonCinta.com-- Pernah mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin menolak? Atau merasa tidak enak hati saat harus mengecewakan orang lain, meskipun permintaan mereka membuatmu kelelahan? Jika sering mengalaminya, mungkin kamu terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri.
Kebiasaan tersebut sering dikaitkan dengan istilah people pleaser, yaitu sebutan bagi seseorang yang cenderung berusaha menyenangkan orang lain, bahkan ketika hal itu merugikan dirinya sendiri.
Menjadi pribadi yang baik dan suka membantu tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, masalah muncul ketika keinginan untuk membuat orang lain bahagia membuatmu sulit berkata tidak, takut menghadapi penolakan, atau merasa bersalah setiap kali memilih kepentingan sendiri.
Jika terus berlangsung, kebiasaan ini bisa menguras energi, memicu stres, dan membuat seseorang kesulitan memahami apa yang sebenarnya ia inginkan.
Kabar baiknya, kebiasaan tersebut dapat diubah secara bertahap. Kamu tidak perlu menjadi pribadi yang dingin atau berhenti peduli kepada orang lain. Yang perlu dipelajari adalah cara membantu dengan sukarela tanpa terus-menerus mengabaikan diri sendiri.
Berikut delapan cara berhenti menjadi people pleaser agar kamu lebih berani mengambil keputusan dan membangun hubungan yang sehat.
Baca Juga: 8 Cara Menghindari Pertemanan Toxic di Sekolah agar Hidup Lebih Tenang dan Percaya Diri
Langkah pertama adalah mengenali kapan kamu melakukan sesuatu karena benar-benar ingin membantu dan kapan kamu melakukannya karena takut mengecewakan orang lain.
Misalnya, kamu menerima tugas tambahan dari teman meskipun pekerjaanmu sendiri belum selesai. Kamu juga mungkin selalu menyetujui pendapat kelompok karena khawatir dianggap berbeda atau tidak disukai.
Cobalah memperhatikan alasan di balik keputusan tersebut. Apakah kamu melakukannya dengan ikhlas, atau justru merasa terpaksa dan takut menghadapi reaksi orang lain?
Dengan memahami pola perilaku sendiri, kamu bisa mulai menentukan kapan perlu membantu dan kapan harus memprioritaskan kebutuhan pribadi.
Salah satu tantangan terbesar bagi people pleaser adalah menolak permintaan orang lain. Ada kekhawatiran bahwa penolakan akan membuat hubungan menjadi renggang atau menyebabkan orang lain kecewa.
Padahal, mengatakan tidak bukan berarti kamu egois. Kamu memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan kemampuan yang perlu dihargai.
Mulailah dari situasi sederhana. Jika teman meminta bantuan ketika kamu sedang sibuk, kamu bisa menjawab, “Maaf, kali ini aku belum bisa membantu karena masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”
Kamu tidak perlu memberikan penjelasan panjang atau mencari alasan yang berlebihan. Sampaikan penolakan dengan sopan dan jelas.
Ingat, orang lain boleh merasa kecewa terhadap keputusanmu, tetapi kamu tidak harus selalu mengubah keputusan hanya untuk memastikan semua orang senang.
Hubungan yang baik bukan hubungan yang membuat satu pihak selalu mengalah. Persahabatan, hubungan keluarga, maupun lingkungan kerja tetap membutuhkan batasan agar setiap orang merasa dihargai.
Kamu berhak menentukan waktu untuk beristirahat, menjaga privasi, menolak pekerjaan yang tidak sanggup ditangani, dan menyampaikan ketidaknyamanan ketika diperlakukan tidak semestinya.
Sebagai contoh, jika seseorang sering menghubungimu larut malam untuk meminta bantuan, kamu dapat menjelaskan bahwa kamu tidak selalu bisa merespons pada waktu tersebut.
Batasan tidak harus disampaikan dengan kemarahan. Kamu cukup menjelaskan kebutuhanmu secara tegas dan konsisten.
Awalnya, orang lain mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Namun, batasan yang sehat dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih seimbang.
Keinginan untuk menjaga suasana tetap menyenangkan terkadang membuat seseorang merasa harus memastikan semua orang bahagia.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir