KEBONCINTA.COM – Aktivitas pembelajaran di sejumlah wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau mulai disesuaikan untuk melindungi kesehatan siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti meminta sekolah yang berada di wilayah terdampak berat mempertimbangkan pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ.
Kebijakan tersebut disampaikan menyusul penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berdampak ke sejumlah wilayah, termasuk Banten dan DKI Jakarta.
Menurut Abdul Mu'ti, keselamatan serta kesehatan warga sekolah harus menjadi prioritas dalam kondisi darurat.
Sekolah di wilayah yang terdampak cukup berat dapat melaksanakan pembelajaran dari rumah secara daring. Alternatif lainnya adalah mengadakan pembelajaran di tempat yang dinilai lebih aman dengan memanfaatkan sarana PJJ.
Penyesuaian pembelajaran mengacu pada ketentuan mengenai satuan pendidikan aman bencana serta Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang pembelajaran dalam situasi darurat.
Tidak hanya lokasi belajar, durasi kegiatan pembelajaran juga dapat disesuaikan.
Sekolah tidak diwajibkan menjalankan jam pembelajaran penuh sebagaimana kondisi normal apabila situasi di lapangan tidak memungkinkan.
Langkah tersebut memungkinkan guru dan sekolah menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi kualitas udara serta keamanan peserta didik.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan mengambil langkah lebih lanjut dengan menerapkan PJJ untuk seluruh satuan pendidikan di Jakarta mulai Senin, 7 September 2026.
Kebijakan tersebut diterapkan setelah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi mencapai wilayah Jakarta.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana menegaskan penerapan PJJ tidak berarti proses pendidikan dihentikan.
Siswa tetap mengikuti kegiatan pembelajaran dari rumah dengan metode yang disesuaikan oleh masing-masing satuan pendidikan.
Sekolah juga diminta melakukan pendampingan terhadap peserta didik apabila ditemukan kendala dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh.
Bagi sekolah yang berada di daerah yang tidak terdampak berat, kegiatan belajar mengajar masih dapat berlangsung secara tatap muka.
Namun sekolah tetap diminta meningkatkan protokol kesehatan.
Guru dan siswa dianjurkan menggunakan masker, menghindari kegiatan di luar ruangan, serta menutup pintu dan jendela untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Kemendikdasmen juga mengingatkan sekolah agar terus mengikuti perkembangan informasi dari instansi berwenang.
Berdasarkan laporan yang diterima Kemendikdasmen hingga Minggu, 6 September 2026, belum terdapat laporan korban jiwa dari kalangan murid maupun guru akibat erupsi tersebut.
Belum ditemukan pula laporan kerusakan sekolah, baik kategori ringan maupun berat.
Meski demikian, pemerintah menegaskan kondisi dapat berubah sehingga sekolah harus tetap mengutamakan aspek keselamatan.
Guru juga dapat memanfaatkan situasi tersebut sebagai bagian dari edukasi mengenai mitigasi bencana dan kesehatan.
Direktorat SMP Kemendikdasmen mengingatkan bahwa abu vulkanik berbeda dengan debu biasa karena mengandung partikel yang dapat mengganggu sistem pernapasan dan menyebabkan iritasi.
Masyarakat disarankan menggunakan masker yang memadai, melindungi mata, mengurangi aktivitas di luar rumah ketika abu masih tebal serta menjaga ruangan agar abu tidak mudah masuk.
Dengan penerapan PJJ, kegiatan pendidikan diharapkan tetap berjalan tanpa meningkatkan risiko paparan abu vulkanik terhadap warga sekolah.
Pemantauan kondisi akan terus dilakukan sebelum sekolah menentukan apakah pembelajaran dapat kembali berlangsung secara normal.