KHAZANAH – Hari ini jemaah haji Indonesia dapat terbang menuju Arab Saudi dalam hitungan jam.
Bandingkan dengan masa ketika pesawat belum menjadi sarana utama perjalanan haji.
Jemaah dari berbagai wilayah harus menempuh perjalanan melalui laut dan darat, berganti kendaraan, menunggu kapal, mengikuti kafilah, serta menghadapi gurun dan wilayah berbatu sebelum akhirnya tiba di Makkah.
Bagi sebagian jemaah, seluruh rangkaian perjalanan dapat memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Kementerian Agama RI dalam catatan mengenai sejarah haji Indonesia, misalnya, menjelaskan perjalanan kapal laut dari Tanjung Priok menuju Tanah Suci pernah membutuhkan sekitar 16 hari sekali jalan. Jika perjalanan pulang-pergi, masa tinggal, dan rangkaian penyelenggaraan dihitung, keseluruhan perjalanan dapat mencapai sekitar tiga bulan.
Di Jazirah Arab sendiri masih tersisa berbagai jejak jalur kuno yang dahulu dilewati kafilah.
Salah satu nama yang belakangan menarik perhatian adalah Bukit Abu Shada’, sebuah formasi berbatu yang dalam sejumlah laporan Indonesia disebut pernah menjadi bagian dari jalur perjalanan menuju Makkah.
Namun sejarah Abu Shada’ perlu dibaca dengan hati-hati agar tidak bercampur dengan cerita populer yang belum memiliki dokumentasi primer lengkap.
Laporan HIMPUH pada Maret 2026 menyebut Bukit Abu Shada’ berada di utara Al-Lith dan dikaitkan dengan jalur yang pernah dilewati jemaah dari selatan Jazirah Arab menuju Makkah.
Al-Lith sendiri merupakan sebuah kegubernuran di Provinsi Makkah yang berada di pesisir Laut Merah.
Saudipedia mencatat Kota Al-Lith berada sekitar 180 kilometer dari Kota Makkah dan secara administratif termasuk Provinsi Makkah.
Posisi geografis tersebut penting.
Wilayah pesisir selatan Makkah memang sejak lama berhubungan dengan jalur perjalanan dan perdagangan dari bagian selatan Jazirah Arab.
Jemaah yang datang dari Yaman dan wilayah selatan tidak selalu menggunakan satu jalan yang sama.
Mereka mempunyai berbagai jalur darat maupun laut yang akhirnya terhubung dengan Makkah.
Saudipedia menjelaskan bahwa selama berabad-abad terbentuk jaringan jalur haji historis menuju Makkah dan Madinah.
Jaringan tersebut berkembang dari berbagai arah dan digunakan selama sekitar empat belas abad sebelum kemunculan sarana transportasi modern.
Beberapa jalur utamanya datang dari Irak, Syam, Mesir dan Yaman.
Jalan-jalan tersebut bukan sekadar garis di atas peta.
Di sepanjang perjalanan dibangun tempat singgah, sumur, sumber air dan fasilitas untuk membantu kafilah melanjutkan perjalanan.
Hal ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan logistik haji pada masa lalu.
Air minum saja bisa menentukan apakah sebuah rombongan dapat melanjutkan perjalanan.
Untuk jemaah dari selatan, Saudipedia mencatat keberadaan Yemeni Hajj Road atau jalur haji Yaman.
Jalur tersebut mempunyai beberapa cabang karena wilayah selatan Jazirah Arab sejak lama memiliki hubungan perdagangan dengan kawasan utara.
Sebagian perjalanan dilakukan melalui darat, sedangkan sebagian lainnya memanfaatkan jalur laut dan pelabuhan di pesisir Laut Merah.
Saudipedia secara khusus menyebut beberapa pelabuhan seperti Al-Sereen, Al-Lith dan Jeddah dalam jaringan perjalanan tersebut.
Karena itu, keberadaan jejak jalur haji lama di sekitar kawasan Al-Lith secara geografis memang masuk akal.
Namun untuk menyebut sebuah batu atau bukit tertentu sebagai titik singgah utama, tetap diperlukan bukti arkeologis atau dokumentasi sejarah yang lebih spesifik.
Dalam laporan HIMPUH, Bukit Abu Shada’ digambarkan sebagai salah satu titik tempat rombongan berhenti untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.
Laporan tersebut juga menyebut terdapat cekungan alami di sekitar kawasan berbatu yang dapat menampung air hujan.
Dalam lingkungan kering, keberadaan air semacam ini tentu sangat berharga bagi musafir.
Tetapi bagian ini perlu diberi catatan.
Saya belum menemukan dokumentasi primer Saudi seperti Saudipedia, Saudi Press Agency, atau catatan arkeologi resmi yang secara khusus mengonfirmasi seluruh rincian fungsi Bukit Abu Shada’ tersebut.
Karena itu, lebih aman menulis:
“Dalam sejumlah laporan dan cerita lokal, Abu Shada’ disebut sebagai tempat singgah kafilah.”
Bukan:
“Sudah terbukti semua jemaah haji dahulu wajib berhenti di Abu Shada’.”
Nama “Shada” juga terdapat pada tempat lain di Arab Saudi.
Salah satunya adalah Jabal Shada Al-A’la.
Saudipedia mencatat Jabal Shada Al-A’la berada sekitar 20 kilometer barat laut Al-Makhwah di Provinsi Al-Baha dan merupakan kawasan pegunungan yang kini dilindungi sebagai cagar alam.
Tempat tersebut berbeda konteks geografis dengan laporan Abu Shada’ yang menempatkannya di utara Al-Lith.
Karena itu, foto maupun informasi Jabal Shada Al-A’la sebaiknya tidak otomatis digunakan untuk membuktikan bentuk atau lokasi Abu Shada’.
Kesamaan nama dapat dengan mudah membuat dua lokasi bercampur dalam artikel internet.
Meski Jabal Shada Al-A’la tidak boleh otomatis disamakan dengan Abu Shada’, kawasan Al-Baha memang mempunyai sejarah kuat sebagai jalur perjalanan haji.
Saudi Press Agency pernah mencatat terdapat tiga jalur historis yang melewati kawasan Al-Baha dan digunakan kafilah menuju Makkah, termasuk beberapa cabang jalur haji Yaman.
SPA juga mencatat sebuah jalur lama di Al-Aqiq yang melewati bagian timur Al-Baha kemudian bergerak menuju Hijaz dan Makkah.
Jadi seluruh kawasan selatan Hijaz memang menyimpan banyak jejak mobilitas jemaah.
Inilah sebabnya perjalanan haji masa lalu tidak dapat dipahami hanya melalui satu rute.
Ia merupakan jaringan jalan sangat luas.
Ada data menarik dari Saudi Press Agency.
Dalam laporan mengenai perjalanan haji masyarakat Al-Baha, SPA mencatat dahulu jemaah laki-laki maupun perempuan harus melewati jalan tanah, wilayah pegunungan dan jalan yang belum beraspal.
Perjalanan dari kawasan tersebut menuju Makkah disebut dapat membutuhkan sekitar tiga hari.
Ketika laporan SPA tersebut diterbitkan pada 2013, perjalanan modern pada rute serupa sudah dapat ditempuh sekitar tiga jam.
Perbandingannya sangat besar:
dari hitungan hari menjadi hitungan jam.
Namun data ini sekaligus meluruskan judul “haji berbulan-bulan”.
Tidak berarti perjalanan dari Abu Shada’ atau Al-Baha menuju Makkah sendiri membutuhkan berbulan-bulan.
Perjalanan berbulan-bulan berlaku terutama jika menghitung perjalanan jemaah dari negeri atau kawasan asal yang sangat jauh, termasuk perjalanan laut dan masa persinggahan.
Untuk umat Islam di Nusantara, tantangannya jauh lebih besar karena mereka harus menyeberangi lautan.
Kementerian Agama mencatat masyarakat Muslim Nusantara telah menggunakan kapal laut untuk pergi ke Tanah Suci sejak masa kolonial.
Pada masa tertentu, perjalanan menggunakan kapal dari Tanjung Priok ke Arab Saudi membutuhkan sekitar 16 hari sekali jalan.
Setelah memasukkan perjalanan kembali ke Indonesia serta masa penyelenggaraan haji, keseluruhan rangkaian dapat mencapai sekitar tiga bulan.
Pada periode yang lebih tua, keadaan bahkan dapat lebih sulit karena kapal bergantung pada kondisi cuaca, angin, ketersediaan angkutan, pelabuhan persinggahan dan berbagai faktor lain.
Jadi istilah “haji berbulan-bulan” mempunyai dasar sejarah.
Hanya saja jangan mengartikannya bahwa seluruh waktu tersebut dihabiskan berjalan kaki di gurun menuju Makkah.
Jemaah yang berangkat lewat laut tetap harus menjalani tahap perjalanan darat.
Setelah mencapai kawasan pesisir Hijaz, mereka harus bergerak menuju Makkah melalui jaringan jalan dan tempat persinggahan yang tersedia.
Saudipedia mencatat jalur haji Mesir maupun Yaman memang mempunyai kombinasi perjalanan darat dan laut.
Pelabuhan kemudian menjadi pintu pertemuan antara perjalanan laut dan perjalanan darat.
Salah satu kota yang paling penting adalah Jeddah.
Seiring perkembangan zaman, Jeddah berkembang menjadi salah satu pintu utama jemaah menuju Makkah.
Namun jauh sebelum bandara modern dibangun, perpindahan orang dari pelabuhan menuju pedalaman membutuhkan tenaga, waktu dan logistik yang jauh lebih besar.
Kafilah haji masa lalu menggunakan berbagai sarana perjalanan sesuai zaman dan wilayahnya.
Sebagian berjalan kaki.
Sebagian menunggang unta atau hewan lainnya.
Saudi Press Agency mencatat dalam konteks Al-Baha, jemaah dahulu harus melewati jalan tanah dan pegunungan sebelum keberadaan jaringan jalan modern.
Kondisi semacam ini membuat sebuah perjalanan yang sekarang terasa sederhana menjadi sangat berat.
Tidak ada pendingin udara.
Tidak ada jalan tol.
Tidak ada GPS.
Tidak ada kendaraan modern yang dapat bergerak ratusan kilometer dalam beberapa jam.
Setiap sumber air dan tempat beristirahat menjadi bagian penting dari perjalanan.
Karena itulah jalur haji historis dipenuhi infrastruktur air.
Saudipedia menyebut penguasa, pejabat dan para dermawan sepanjang sejarah membangun sumur, mata air, tempat singgah dan fasilitas lainnya di berbagai jalur menuju Tanah Suci.
Tanpa fasilitas tersebut, perjalanan melintasi wilayah kering dalam rombongan besar akan jauh lebih berbahaya.
Air dibutuhkan manusia.
Air dibutuhkan hewan.
Air juga diperlukan untuk memasak dan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Maka sebuah cekungan, mata air atau sumur yang hari ini terlihat sederhana bisa mempunyai arti luar biasa bagi kafilah ratusan tahun lalu.
Kafilah haji bukan hanya memindahkan manusia.
Mereka ikut memindahkan barang, pengetahuan dan budaya.
Saudipedia menjelaskan jalur haji juga berfungsi sebagai jalur perdagangan dan menjadi pusat pertukaran ekonomi, budaya, politik dan keagamaan di berbagai daerah yang dilewatinya.
Saudi Press Agency juga mencatat perjalanan kafilah melalui Al-Baha mendorong pertukaran produk lokal seperti hasil pertanian, madu dan berbagai kebutuhan perjalanan.
Dengan demikian, musim haji mempunyai pengaruh jauh melampaui kegiatan ibadah di Makkah.
Desa-desa, pasar dan kota yang berada di jalur kafilah ikut hidup dari pergerakan manusia tersebut.
Romantisme perjalanan haji masa lalu juga perlu dihindari.
Perjalanan jauh bukan sekadar pengalaman petualangan yang indah.
Jemaah menghadapi risiko nyata berupa penyakit, kekurangan makanan dan air, kondisi cuaca, medan sulit, serta keamanan perjalanan.
Jejak sistem tempat singgah dan sumber air pada jalur historis menunjukkan bahwa kebutuhan dasar para musafir merupakan persoalan serius.
Bahkan bagi jemaah Indonesia pada masa kolonial, pemerintah pernah membangun fasilitas karantina bagi jemaah yang pulang karena kekhawatiran terhadap penyebaran penyakit.
Kementerian Agama mencatat Pulau Rubiah di Sabang pernah digunakan sebagai tempat karantina jemaah yang kembali dari Tanah Suci.
Ini menunjukkan perjalanan haji dahulu membutuhkan ketahanan fisik yang sangat besar.
Perubahan besar terjadi ketika teknologi transportasi berkembang.
Kapal menjadi lebih cepat.
Jalan raya dibangun.
Mobil dan bus menggantikan banyak fungsi kafilah tradisional.
Kemudian pesawat terbang mengubah pola perjalanan internasional.
Jika dahulu jemaah Indonesia harus mempersiapkan kehidupan selama berbulan-bulan, perjalanan udara membuat jarak ribuan kilometer dapat ditempuh dalam satu hari.
Modernisasi jalan di Saudi juga mempersingkat perjalanan antarwilayah.
Contoh yang dicatat SPA sangat jelas: rute Al-Baha menuju Makkah yang dahulu membutuhkan sekitar tiga hari sudah dapat ditempuh dalam beberapa jam pada era kendaraan modern.
Karena itu, ada satu koreksi penting terhadap narasi viral mengenai Abu Shada’.
Kalimat:
“Dulu dari Bukit Abu Shada’ ke Makkah perlu berbulan-bulan.”
belum mempunyai dasar kuat.
Yang benar adalah:
perjalanan haji secara keseluruhan dari tempat asal yang jauh dapat memakan waktu berbulan-bulan.
Sementara setelah jemaah sudah berada di wilayah Hijaz atau kawasan yang relatif dekat dengan Makkah, waktu perjalanannya tentu berbeda-beda sesuai titik asal.
Contohnya, data SPA tentang Al-Baha menyebut kisaran tiga hari pada masa lalu, bukan beberapa bulan.
Pembedaan ini membuat cerita sejarah tetap menarik tanpa harus melebih-lebihkan.
Beberapa laporan Indonesia menyatakan jemaah yang datang dari Afrika, India sampai Nusantara pernah melintasi kawasan Abu Shada’ setelah tiba di pesisir barat Arab.
Namun klaim tersebut perlu kehati-hatian.
Saya belum menemukan dokumen primer Saudi atau penelitian akademik yang menunjukkan bahwa jemaah Nusantara secara umum menggunakan Abu Shada’ sebagai rute tetap.
Rute perjalanan dapat berbeda menurut periode sejarah, kapal yang digunakan, pelabuhan kedatangan dan jaringan transportasi pada saat itu.
Karena itu, lebih aman tidak menulis:
“Semua jemaah Indonesia dahulu pasti melewati Bukit Abu Shada’.”
Yang dapat dipastikan adalah jemaah Nusantara memang datang melalui perjalanan laut, sedangkan Arab Saudi mempunyai jaringan jalan haji yang menghubungkan berbagai pelabuhan dan wilayah menuju Makkah.
Meski detail sejarah Abu Shada’ masih membutuhkan penelitian lebih kuat, situs-situs seperti ini membantu mengingat satu hal:
perjalanan menuju Makkah mempunyai sejarah fisik.
Jejaknya tidak hanya terdapat dalam buku.
Ada jalan tua.
Sumur.
Tempat persinggahan.
Pelabuhan.
Benteng.
Inskripsi.
Dan berbagai lanskap yang dahulu menjadi penunjuk arah bagi musafir.
Saudipedia bahkan menyebut jalur-jalur haji bersejarah yang berada di wilayah Saudi kini diklasifikasikan sebagai bagian dari situs arkeologi dan menjadi objek perhatian pelestarian.
Bagi jemaah masa kini, berangkat ke Tanah Suci mungkin dimulai dari bandara.
Koper dimasukkan bagasi.
Beberapa jam kemudian pesawat mendarat di Arab Saudi.
Bus sudah menunggu.
Hotel telah dipersiapkan.
Rute dapat dilihat melalui peta digital.
Situasinya berbeda drastis dengan generasi terdahulu.
Jemaah Indonesia pernah menghabiskan rangkaian perjalanan sekitar tiga bulan ketika transportasi laut masih menjadi bagian utama penyelenggaraan.
Di Jazirah Arab, kafilah dari wilayah selatan menggunakan jaringan jalan lama yang dilengkapi tempat singgah dan sumber air untuk bergerak menuju Makkah.
Perjalanan haji memang selalu menuju tempat yang sama.
Tetapi cara manusia mencapainya berubah luar biasa.
Bukit Abu Shada’ yang disebut berada di kawasan utara Al-Lith kini lebih tepat dilihat sebagai bagian dari cerita yang lebih luas mengenai jejak perjalanan haji lama di selatan Makkah.
Kita perlu berhati-hati terhadap cerita lokal yang belum seluruhnya mempunyai dokumentasi arkeologis kuat.
Tetapi sejarah jaringan hajinya sendiri tidak diragukan.
Arab Saudi memang mempunyai berbagai jalur historis dari Irak, Syam, Mesir dan Yaman yang selama berabad-abad mengantarkan manusia menuju dua kota suci.
Dan bagi jemaah dari tempat sejauh Indonesia, perjalanan menuju Makkah memang pernah membutuhkan waktu yang sulit dibayangkan generasi sekarang.
Dari kapal laut selama berminggu-minggu, perjalanan darat, masa persinggahan hingga kembali ke kampung halaman, haji bisa menjadi perjalanan selama berbulan-bulan.
Hari ini jarak yang sama dapat dilampaui pesawat dalam hitungan jam.
Maka jejak jalur lama seperti yang dikaitkan dengan Abu Shada’ bukan hanya menarik sebagai cerita wisata.
Ia dapat menjadi pengingat bahwa di balik kemudahan perjalanan haji modern terdapat sejarah panjang manusia yang dahulu harus menyeberangi laut, mengikuti kafilah dan melintasi medan keras demi mencapai Baitullah di Makkah.