Berita
SUWANDI

Saat Arwah Leluhur "Pulang" dan Pembagian Rezeki Menjadi Pesta Rakyat di Cirebon

Saat Arwah Leluhur "Pulang" dan Pembagian Rezeki Menjadi Pesta Rakyat di Cirebon

01 September 2026 | 18:22

CIREBON — Ketika pertengahan bulan ketujuh dalam kalender Imlek tiba, ada suasana berbeda yang merayapi lorong-lorong kelenteng tua di kawasan pesisir Cirebon. Aroma harum dupa Styrax benzoin membumbung tinggi ke udara, bercampur dengan riuh rendah warga dari berbagai latar belakang yang berkumpul di pelataran. Ini bukan sekadar ritual keagamaan biasa, melainkan Sembahyang Rebutan—sebuah tradisi unik warisan Buddhisme dan Taoisme yang memadukan mistisme alam gaib dengan pesta kedermawanan sosial di Kota Udang.

Pegiat Budaya Tionghoa asal Cirebon, Jeremy Huang, mengungkapkan bahwa perayaan yang dikenal secara global sebagai Hungry Ghost Festival atau Festival Zhong Yuan ini memiliki akar kebudayaan yang sangat kuat di wilayah Cirebon, Jamblang, hingga Indramayu. Konon, puncak ritual yang jatuh tepat pada tanggal 15 bulan 7 Imlek menandai momen paling sakral dalam penanggalan kuno tersebut.

"Pintu-pintu alam spiritual, baik surga maupun neraka, terbuka lebar. Pada momen ini, para roh dan arwah leluhur diyakini keluar untuk mengunjungi dunia manusia, mencari rezeki serta mengenang makanan yang pernah mereka nikmati saat masih hidup," tutur Jeremy.

Jejak sejarah perayaan ini terekam begitu manis dalam ingatan kolektif warga Cirebon. Pada medio 1950 hingga 1990-an, Kelenteng Jamblang menjadi salah satu pusat keramaian budaya yang paling dinantikan setiap tahunnya. Altar-altar kelenteng bersolek dengan deretan hasil bumi, gunungan buah-buahan segar, hingga kue-kue tradisional yang menggiurkan. Selain memanjatkan doa, umat juga membakar joss paper—kertas sembahyang bermotif uang, pakaian, dan perhiasan emas—sebagai bekal untuk para arwah di alam sana.

"Tujuan utama sembahyang ini adalah menghormati leluhur, mendoakan agar penderitaan mereka diampuni, sekaligus memastikan para arwah tenang sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia," jelas Jeremy. Bagi masyarakat Cirebon, ritual ini juga diyakini berfungsi sebagai benteng spiritual yang menjaga daerah pesisir dari ancaman marabahaya, bencana alam, serta wabah penyakit.

Namun, daya tarik paling memikat dari perayaan ini justru terletak pada momen penutupnya yang meledak dalam kegembiraan. Setelah seluruh prosesi doa selesai, makanan dan hasil bumi yang tersaji di altar tidak disimpan untuk kalangan sendiri, melainkan dibagikan secara terbuka bahkan diperebutkan oleh warga sekitar. Pemandangan masyarakat yang saling berebut rezeki dengan penuh tawa inilah yang akhirnya melahirkan sebutan populer "Sembahyang Rebutan".

Jeremy menekankan bahwa tradisi ini membawa pesan filosofis yang sangat dalam. Di balik kesan mistis tentang pintu gaib yang terbuka, Sembahyang Rebutan adalah wujud nyata dari kedermawanan sosial dan rasa syukur atas panen bumi. Tradisi ini berhasil meruntuhkan sekat-sekat perbedaan dan mempererat tali kebersamaan antarwarga di Cirebon.

"Prosesi 'rebutan' itu simbol dari kegembiraan dan kebersamaan. Hasil bumi dipetik, didoakan, lalu dinikmati bersama. Ini adalah bentuk syukuran panen sekaligus kedermawanan sosial," lanjut Jeremy.

Festival yang juga dirayakan di berbagai belahan Asia ini membuktikan bahwa tradisi kuno di Cirebon sanggup melintasi zaman. Sembahyang Rebutan mengajarkan harmoni yang indah: cara manusia memuliakan mereka yang telah tiada, sembari merayakan kehidupan dengan saling berbagi rezeki kepada sesama. (swd)

Tags:
Tradisi Jeremy Huang Cirebon Sembahyang

Komentar Pengguna