KebonCinta.com — Ribuan masyarakat memadati kawasan Trusmi, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, untuk menyaksikan tradisi tahunan Memayu Buyut Trusmi pada Minggu, 1 November 2026.
Kegiatan budaya tersebut menghadirkan arak-arakan atau Ider-ideran dengan berbagai pertunjukan seni, pusaka tradisional, hasil kerajinan masyarakat, serta kreasi warga dari berbagai wilayah.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi. Berdasarkan laporan Radar Cirebon, warga mulai berdatangan ke kawasan Trusmi Wetan dan jalur utama kegiatan sejak sekitar pukul 05.00 WIB.
Acara berlangsung meriah dengan kehadiran masyarakat dari berbagai kalangan yang ingin menyaksikan salah satu tradisi budaya penting di Kabupaten Cirebon.
MEMAYU BUYUT TRUSMI TARIK PERHATIAN WARGA
Memayu Buyut Trusmi merupakan kegiatan adat yang telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat di wilayah Trusmi.
Tradisi tersebut berpusat di kawasan Kramat Buyut Trusmi, Desa Trusmi Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon.
Salah satu bagian penting tradisi adalah prosesi memayu, yakni penggantian atap bangunan tertentu di kompleks keramat menggunakan bahan alami.
Selain prosesi adat, masyarakat juga menggelar Ider-ideran sebagai bentuk kebersamaan dan pelestarian warisan budaya.
Pada pelaksanaan tahun 2026, berbagai kelompok masyarakat menampilkan kreasi yang menarik perhatian pengunjung.
ATRAKSI SENI DAN KERAJINAN BATIK
Rangkaian arak-arakan menampilkan barisan pusaka, sesepuh desa, tarian tradisional, serta berbagai replika dekoratif berukuran besar.
Pertunjukan budaya tersebut turut melibatkan kreativitas masyarakat setempat, termasuk penampilan kostum unik dan replika ogoh-ogoh.
Kerajinan batik khas Trusmi serta aneka produk lokal menjadi bagian dari kemeriahan kegiatan.
Batik Trusmi telah lama dikenal sebagai salah satu produk budaya Kabupaten Cirebon. Kehadirannya dalam kegiatan adat memperkuat hubungan antara pelestarian tradisi dan identitas kerajinan masyarakat.
Selain menyaksikan atraksi, banyak warga mengabadikan momen kegiatan melalui telepon seluler.
ARAK-ARAKAN MELINTASI SEJUMLAH JALAN
Berdasarkan keterangan Polda Jawa Barat, arak-arakan dimulai dari kawasan Kramat Buyut Trusmi.
Rombongan kemudian melintasi Jalan Buyut Trusmi, Jalan Syekh Datul Kahfi, Jalan Otista Weru, dan Jalan Panembahan sebelum kembali menuju kawasan Buyut Trusmi.
Sepanjang jalur tersebut, masyarakat berkumpul untuk menyaksikan rombongan peserta yang menampilkan beragam bentuk kesenian.
Tingginya jumlah pengunjung menyebabkan petugas harus mengantisipasi kepadatan lalu lintas di sejumlah persimpangan.
361 PERSONEL GABUNGAN DITERJUNKAN
Polresta Cirebon bersama instansi terkait menerjunkan sebanyak 361 personel gabungan untuk mendukung pengamanan kegiatan.
Kapolresta Cirebon, Kombes Pol Imara Utama, memimpin langsung pengamanan bersama unsur pemerintah daerah dan aparat terkait.
Dalam pelaksanaan kegiatan, Kapolresta didampingi Wakil Bupati Cirebon, Agus Kurniawan Budiman.
Personel pengamanan berasal dari Polresta Cirebon, jajaran polsek, Kodim 0620 Kabupaten Cirebon, Denpom III/3 Siliwangi, Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan Dinas Pemadam Kebakaran.
Sebelum kegiatan berlangsung, petugas telah melaksanakan apel kesiapan dan koordinasi untuk memastikan pengamanan berjalan sesuai rencana.
REKAYASA LALU LINTAS DITERAPKAN
Kepolisian bersama Dinas Perhubungan Kabupaten Cirebon menerapkan pengaturan lalu lintas di sejumlah titik yang berpotensi mengalami kemacetan.
Salah satu kawasan yang mendapat perhatian adalah Simpang Weru yang berada di sekitar akses kegiatan.
Pengaturan kendaraan diperlukan untuk memastikan pergerakan rombongan budaya tidak mengganggu keselamatan pengunjung maupun pengguna jalan lain.
Petugas juga berjaga di berbagai titik persimpangan sepanjang jalur arak-arakan.
KEGIATAN BERLANGSUNG AMAN
Berdasarkan keterangan resmi Polda Jawa Barat yang diterbitkan pada Minggu malam, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif.
Prosesi dilaporkan berakhir sekitar pukul 10.00 WIB setelah seluruh kegiatan utama selesai dilaksanakan.
Kapolresta Cirebon menyampaikan apresiasi kepada petugas dan masyarakat yang turut menjaga ketertiban selama berlangsungnya acara.
Tradisi Memayu Buyut Trusmi juga memiliki nilai sosial karena menjadi kesempatan masyarakat untuk memperkuat kebersamaan dan melestarikan nilai-nilai budaya setempat.
Kemeriahan kegiatan pada 1 November 2026 menunjukkan bahwa warisan budaya Cirebon tetap mendapatkan perhatian luas dari masyarakat.
Penyelenggaraan yang melibatkan berbagai unsur pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat mendukung keberlanjutan kegiatan adat tersebut pada tahun-tahun berikutnya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir