keboncinta.com – Job fair atau bursa kerja kerap menjadi pilihan bagi masyarakat yang sedang mencari pekerjaan. Berbagai gedung dipenuhi perusahaan yang membuka stan perekrutan, sementara para pencari kerja datang membawa CV dan berkas lamaran. Ratusan lowongan pekerjaan dipajang untuk menarik perhatian calon pelamar.
Namun, ramainya pelaksanaan job fair tidak selalu sejalan dengan kepastian mendapatkan pekerjaan. Bagi sebagian pencari kerja, kegiatan tersebut justru menjadi tempat untuk kembali menaruh harapan, mengirimkan lamaran, dan menunggu kabar yang belum tentu datang.
Kondisi ini dirasakan sejumlah lulusan baru atau fresh graduate yang tengah berjuang mendapatkan pekerjaan pertama mereka. Meski telah mengikuti berbagai kegiatan perekrutan, kesempatan untuk melangkah ke tahap wawancara masih menjadi sesuatu yang sulit diperoleh.
Perjuangan Fresh Graduate Mencari Pekerjaan
Salah satu pencari kerja yang merasakan situasi tersebut adalah Eva (24), lulusan perguruan tinggi swasta di Jakarta. Pada Sabtu (24/10/2026), ia terlihat masih berkeliling mencari informasi lowongan di Gedung SMESCO, Jakarta Selatan.
Eva memeriksa persyaratan pekerjaan yang tersedia, membaca brosur perusahaan, hingga mengirimkan lamaran melalui stan perekrutan. Sejak menyelesaikan pendidikannya pada Februari 2026, ia telah mengirimkan puluhan lamaran ke berbagai perusahaan.
Beragam upaya juga telah dilakukan Eva untuk meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan. Mulai dari mengikuti job fair, membeli kelas sertifikasi, hingga mencoba program Magang Hub. Sayangnya, berbagai usaha tersebut belum membuahkan hasil yang diharapkan. Ia belum memperoleh panggilan wawancara dari perusahaan yang dilamarnya.
Eva mengaku tidak terlalu membatasi pilihan sektor pekerjaan. Baginya, perusahaan di bidang retail, perbankan, maupun kesehatan tetap menjadi peluang selama posisi yang tersedia sesuai dengan latar belakang pendidikannya di bidang Psikologi.
Ia berharap dapat memperoleh pekerjaan di bagian Human Resources (HR) atau administrasi. Kedua bidang tersebut dinilai relevan dengan kompetensi yang dimilikinya.
Lamanya proses pencarian kerja membuat Eva mulai merasa lelah. Ketidakpastian yang terus berlangsung juga membuatnya mempertimbangkan kembali pekerjaan magang. Ia merasa pengalaman yang dimilikinya saat ini masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing mendapatkan pekerjaan tetap.
Biaya Job Fair Menjadi Beban Pencari Kerja
Pengalaman serupa juga dialami Nadiva, seorang fresh graduate dari perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Setelah lulus, ia aktif mendatangi berbagai job fair untuk mencari kesempatan kerja.
Bagi Nadiva, menghadiri bursa kerja merupakan salah satu cara untuk mendapatkan informasi langsung mengenai perusahaan dan posisi yang ditawarkan. Meski harus menghadapi persaingan dengan banyak pelamar, ia tetap meyakini bahwa selalu ada peluang dari setiap lamaran yang dikirimkan.
Namun, mengikuti job fair bukan tanpa pengorbanan. Nadiva mengungkapkan bahwa biaya transportasi dan kebutuhan administrasi menjadi pengeluaran tersendiri yang harus diperhitungkan.
Untuk menghadiri kegiatan di Jakarta, ia harus menggunakan kombinasi transportasi umum, yakni TransJakarta dan KRL. Biaya perjalanan pulang-pergi dari Depok diperkirakan mencapai Rp34.000. Selain itu, kebutuhan mencetak CV dan dokumen lainnya dapat menghabiskan sekitar Rp10.000.
Dengan berbagai pengeluaran tersebut, biaya menghadiri satu kali job fair bisa mencapai lebih dari Rp50.000.
Bagi Nadiva yang merupakan perantau asal Bali dan tinggal di Depok, pengeluaran tersebut cukup terasa. Apalagi, ia masih harus memenuhi kebutuhan hidup selama berada di perantauan.
Meski telah mengirimkan banyak lamaran melalui job fair, hingga saat ini Nadiva belum mendapatkan panggilan wawancara maupun pemberitahuan mengenai perkembangan proses rekrutmen.
Baca Juga: 8.336 Peserta Rekrutmen KAI Jalani Tes Kesehatan, Pelamar Diingatkan Jangan Percaya Calo Kelulusan
Transparansi Lowongan Menjadi Harapan Pencari Kerja
Selain persoalan biaya dan persaingan, Nadiva juga menyoroti pentingnya transparansi informasi lowongan kerja.
Ia pernah menemukan sebuah perusahaan yang mencantumkan posisi Social Media Specialist untuk tingkat pemula dalam brosur job fair.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir