Berita
Hilmi An Naufal

Pulihkan Pembelajaran Pascagempa NTT, Pemerintah Distribusikan 100 Tenda Kelas Darurat

Pulihkan Pembelajaran Pascagempa NTT, Pemerintah Distribusikan 100 Tenda Kelas Darurat

21 Agustus 2026 | 08:24

Keboncinta.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tengah mendistribusikan 100 tenda ruang kelas darurat untuk sekolah-sekolah yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.

Tenda tersebut disiapkan agar anak-anak dapat kembali mengikuti pembelajaran tanpa harus memasuki bangunan sekolah yang mengalami kerusakan atau berisiko roboh akibat gempa susulan.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengatakan tenda kelas darurat diharapkan mulai digunakan pada pekan berikutnya.

“Saat ini kami sedang mendistribusikan 100 tenda ruang kelas yang diharapkan bisa mulai digunakan minggu depan untuk belajar anak,” kata Atip dalam konferensi pers daring yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kamis, 20 Agustus 2026.

Jumlah Tenda Ditambah Menjadi 100 Unit

Pada tahap awal penanganan bencana, Kemendikdasmen mengumumkan pengiriman 50 tenda ruang kelas darurat melalui dua klaster distribusi.

Dalam perkembangan terbaru, jumlah tenda yang sedang didistribusikan pemerintah mencapai 100 unit. Penambahan tersebut dilakukan di tengah bertambahnya data sekolah terdampak dan kebutuhan ruang belajar yang aman.

Sebanyak 30 tenda pada pengiriman awal diberangkatkan melalui Pelabuhan Labuan Bajo. Bantuan itu ditujukan untuk sekolah terdampak di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.

Sementara itu, 20 tenda lainnya dikirim menuju Pelabuhan Ende untuk membantu sekolah di Ende, Ngada, Sikka, dan Nagekeo.

Balai Guru dan Tenaga Kependidikan NTT serta Balai Penjaminan Mutu Pendidikan NTT ditugaskan menerima, mengelola, dan mendistribusikan bantuan ke wilayah sasaran.

Tim Satuan Pendidikan Aman Bencana juga mengawal proses pengiriman hingga pemasangan tenda di sekolah yang membutuhkan.

Diprioritaskan untuk Sekolah Rusak Berat

Penggunaan tenda kelas darurat diprioritaskan bagi satuan pendidikan yang mengalami kerusakan berat dan belum memiliki ruang alternatif yang aman.

Pemerintah mengarahkan sekolah untuk tidak melaksanakan pembelajaran di dalam bangunan yang retak, rusak, atau belum dinyatakan aman.

Sekolah dapat memindahkan kegiatan belajar ke tenda darurat, ruang terbuka yang aman, rumah, atau tempat pengungsian. Pembelajaran juga dapat dihentikan sementara apabila kondisi lingkungan masih membahayakan murid dan tenaga pendidik.

Kebijakan tersebut diterapkan karena rangkaian gempa susulan masih terjadi di wilayah Flores. Keselamatan warga sekolah ditempatkan sebagai pertimbangan utama sebelum pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan.

Sebanyak 1.378 Satuan Pendidikan Terdampak

Berdasarkan data terbaru Kemendikdasmen, gempa bumi di NTT berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan yang tersebar di tujuh kabupaten.

Dampak tersebut mencakup 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan. Sebanyak 502 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat.

Dari 8.664 ruang kelas yang telah didata, sebanyak 5.521 ruang mengalami kerusakan. Sebanyak 2.229 ruang kelas di antaranya masuk dalam kategori rusak berat atau rusak total.

Kerusakan juga ditemukan pada laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi, dan rumah dinas guru.

Pendataan masih terus dilakukan melalui sistem pemantauan Kemendikdasmen dan pos pendidikan di setiap kabupaten terdampak. Karena proses verifikasi lapangan masih berlangsung, jumlah kerusakan dan kebutuhan bantuan dapat kembali berubah.

Ribuan Murid Belajar dari Rumah

Kerusakan bangunan dan risiko gempa susulan menyebabkan kegiatan belajar sekitar 116.328 murid terganggu.

Sebanyak 923 satuan pendidikan menjalankan pembelajaran dari rumah. Kemudian, 171 satuan pendidikan menerapkan pola pembelajaran alternatif dan 35 sekolah menggunakan kelas darurat.

Hanya sekitar 30 sekolah dalam laporan sementara yang masih dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka.

Kemendikdasmen telah menerbitkan panduan pembelajaran pada masa darurat. Sekolah diberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan waktu, metode, tempat, dan materi pembelajaran dengan kondisi setempat.

Materi belajar diarahkan pada pelajaran esensial, terutama penguatan literasi dan numerasi dasar. Sekolah tidak diwajibkan mengejar seluruh target pembelajaran ketika kondisi darurat masih berlangsung.

Perlengkapan Sekolah dan Buku Disiapkan

Selain 100 tenda ruang kelas darurat, pemerintah menyiapkan ribuan perlengkapan untuk mendukung kegiatan belajar anak-anak.

Bantuan tersebut meliputi 5.000 paket perlengkapan sekolah atau school kit, 1.500 family kit, 3.196 papan tulis, serta 123.522 buku.

Pemerintah juga menyiapkan dukungan konektivitas untuk wilayah yang mengalami gangguan listrik dan jaringan komunikasi.

Bantuan akan disalurkan berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan agar sekolah dengan tingkat kerusakan dan gangguan pembelajaran paling berat dapat ditangani terlebih dahulu.

Pendampingan Psikososial Diberikan

Pemulihan pendidikan pascabencana tidak hanya berfokus pada penyediaan bangunan dan perlengkapan belajar.

Kemendikdasmen menyiapkan pendampingan psikososial bagi murid, guru, dan tenaga kependidikan melalui kerja sama dengan organisasi psikologi serta mitra perguruan tinggi.

Pendampingan diperlukan karena gempa utama dan rangkaian gempa susulan dapat menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan trauma pada warga sekolah.

Kegiatan belajar di tenda darurat diharapkan tidak langsung membebani anak-anak dengan pelajaran formal. Guru juga dapat mengisinya dengan permainan edukatif, aktivitas pemulihan emosi, serta kegiatan yang membantu murid kembali merasa aman.

Tenda Menjadi Solusi Sementara

Penggunaan tenda kelas darurat merupakan langkah sementara sambil menunggu pembersihan, pemeriksaan keamanan, rehabilitasi, dan pembangunan kembali sekolah.

Dalam jangka panjang, pemerintah perlu memastikan sekolah yang mengalami kerusakan berat dibangun kembali dengan memperhatikan standar konstruksi tahan gempa.

Koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat dibutuhkan agar pemasangan tenda tidak terkendala akses transportasi, lahan, listrik, air bersih, serta fasilitas sanitasi.

Dengan tersedianya ruang kelas darurat, anak-anak di wilayah terdampak diharapkan dapat kembali belajar secara bertahap tanpa mengabaikan keselamatan.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna