Keboncinta.com-- Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 menunjukkan perkembangan positif dari sisi jumlah peserta. Tahun ini, sebanyak 230.123 siswa tercatat mendaftar untuk mengikuti ajang kompetisi tersebut.
Jumlah itu meningkat 12,7 persen dibandingkan OMI 2025 yang mencatat 204.222 pendaftar. Dari seluruh peserta yang masuk, sebanyak 229.593 siswa atau 99,8 persen berhasil melewati proses verifikasi.
Jumlah peserta yang lolos verifikasi tersebut juga lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 202.117 siswa.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), Amien Suyitno, melihat pertumbuhan tersebut sebagai perkembangan positif dalam pembinaan prestasi peserta didik.
Menurutnya, semakin banyak siswa yang mengikuti OMI berarti semakin luas pula peluang untuk menemukan bakat dan potensi anak Indonesia.
“Bertambahnya peserta berarti semakin banyak potensi dan talenta anak bangsa yang berhasil kita identifikasi dan berikan ruang untuk berkembang,” ujar Amien Suyitno di Jakarta, Sabtu, 5 September 2026.
Ia menegaskan bahwa OMI tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai kompetisi untuk menentukan pemenang. Ajang tersebut diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pembinaan talenta yang berlangsung secara berkelanjutan.
Kompetisi menjadi salah satu pintu awal untuk mengidentifikasi peserta didik yang memiliki potensi. Setelah ditemukan, kemampuan tersebut perlu mendapatkan pembinaan yang tepat agar dapat berkembang menjadi prestasi.
Baca Juga: Guru Madrasah di Daerah 3T Diperkuat lewat Program KREASI hingga 2028
Salah satu perkembangan yang cukup mencolok dalam OMI 2026 adalah meningkatnya jumlah peserta dari sekolah umum.
Tahun ini, sebanyak 13.271 siswa SD, SMP, dan SMA dari sekolah umum tercatat ikut berkompetisi. Angka tersebut meningkat dari 9.612 peserta pada OMI 2025.
Dengan demikian, terdapat tambahan 3.659 peserta atau meningkat 38,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Nyayu Khodijah, menilai peningkatan tersebut memperlihatkan bahwa OMI semakin terbuka bagi peserta didik dengan latar belakang satuan pendidikan yang beragam.
OMI tidak lagi hanya menjadi wadah kompetisi bagi siswa madrasah. Siswa sekolah umum juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menunjukkan prestasinya melalui ajang tersebut.
Menurut Nyayu, semakin beragam peserta yang terlibat akan memperbesar peluang menemukan talenta-talenta potensial dari berbagai daerah dan lingkungan pendidikan.
Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, 209 Jadwal di Soekarno-Hatta Dibatalkan
Jangkauan OMI 2026 juga terlihat dari asal peserta yang mencakup 34 provinsi di Indonesia. Secara keseluruhan, peserta berasal dari lebih dari 33 ribu lembaga pendidikan.
Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah peserta terbesar, yakni 41.685 siswa. Selanjutnya terdapat Jawa Barat dengan 32.446 peserta dan Jawa Tengah sebanyak 30.518 peserta.
Jika tiga provinsi tersebut digabungkan, jumlahnya mencapai 104.649 peserta atau sekitar 45,5 persen dari total peserta OMI 2026.
Meski demikian, tingginya partisipasi tidak hanya berasal dari Pulau Jawa. Beberapa provinsi di luar Jawa juga mencatat jumlah peserta cukup besar.
Sulawesi Selatan tercatat memiliki 12.850 peserta, disusul Sumatera Utara dengan 12.348 peserta dan Riau sebanyak 8.113 peserta.
Data tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap kompetisi dan pembinaan prestasi semakin berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
Jika dilihat berdasarkan jenjang pendidikan, peserta OMI 2026 juga tersebar cukup merata.
Sebanyak 69.351 siswa berasal dari jenjang MI/SD. Kemudian terdapat 75.987 peserta MTs/SMP, sedangkan kelompok MA/SMA mencapai 72.776 peserta.
Persebaran tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap pembinaan prestasi telah tumbuh sejak pendidikan dasar dan terus berlanjut hingga jenjang pendidikan menengah.
Nyayu Khodijah menilai kondisi tersebut dapat menjadi modal penting untuk membangun sistem pengembangan talenta secara berjenjang.
Dengan peserta yang berasal dari berbagai kelompok usia pendidikan, proses pembinaan dapat dilakukan sejak dini dan diteruskan secara berkesinambungan hingga tingkat menengah.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau, Jam Belajar Sekolah Bisa Disesuaikan demi Keselamatan
Kenaikan jumlah peserta OMI 2026 dinilai perlu diikuti dengan penguatan kualitas pembinaan. Bagi Kemenag, pertambahan peserta bukan sekadar peningkatan angka partisipasi, tetapi juga berarti semakin banyak potensi siswa yang perlu dikembangkan.
Amien Suyitno menekankan pentingnya memastikan peserta yang memiliki kemampuan menonjol mendapatkan pembinaan lanjutan setelah mengikuti kompetisi.
Karena itu, tantangan OMI ke depan bukan hanya meningkatkan kualitas penyelenggaraan lomba, tetapi juga menghubungkan hasil kompetisi dengan proses pengembangan talenta dalam jangka panjang.
Kemenag berharap OMI dapat terus berkembang sebagai instrumen untuk menemukan dan membina siswa berprestasi, baik dari madrasah maupun sekolah umum.
Pembinaan tersebut diharapkan mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kemampuan yang dapat dikembangkan hingga level nasional maupun internasional.
Selain bidang kompetisi sains, OMI 2026 juga menyediakan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan penelitian melalui OMI Bidang Riset.
Sebanyak 9.130 siswa tercatat mendaftar dalam bidang tersebut. Dari jumlah itu, 8.100 peserta telah menyelesaikan proses pengajuan, sementara 1.030 peserta masih berstatus draft.
Kasubdit Kesiswaan Solla Taufiq mengatakan jumlah tersebut menunjukkan tingginya ketertarikan siswa madrasah terhadap kegiatan penelitian dan pengembangan gagasan ilmiah.
“Angka ini menunjukkan tingginya minat siswa madrasah untuk mengembangkan kemampuan riset dan menuangkan gagasan ilmiah melalui ajang kompetisi tingkat nasional,” ujarnya.
Berdasarkan jenjang pendidikan, pendaftar bidang riset dari Madrasah Aliyah (MA) mencapai 4.862 siswa, sedangkan peserta dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) berjumlah 4.268 siswa.
Adapun berdasarkan tema penelitian, Integrasi Keislaman dan Keilmuan (Ekoteologi) menjadi tema dengan peminat terbanyak, yakni 3.553 pendaftar.
Berikutnya terdapat tema Sustainable Development Goals (SDGs) dengan 3.384 pendaftar. Sementara tema Transformasi Digital untuk Pembangunan Nasional dipilih oleh 2.193 peserta.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau, Jam Belajar Sekolah Bisa Disesuaikan demi Keselamatan
Pertumbuhan jumlah peserta, meluasnya keterlibatan sekolah umum, serta cakupan peserta dari seluruh provinsi menunjukkan perkembangan OMI sebagai wadah pembinaan prestasi.
Dengan lebih dari 230 ribu peserta dari berbagai jenjang dan latar belakang pendidikan, OMI 2026 memiliki basis yang semakin besar untuk mengidentifikasi siswa dengan kemampuan unggul.
Kemenag berharap potensi tersebut tidak berhenti setelah kompetisi selesai. Peserta yang menunjukkan kemampuan khusus perlu memperoleh pembinaan lanjutan agar prestasi mereka dapat terus berkembang.
Dengan demikian, OMI diharapkan bukan hanya menjadi arena untuk mencari pemenang, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem talenta pendidikan Indonesia yang mampu melahirkan generasi kompeten, berkarakter, dan berprestasi.***