Teknologi
M. Fadhli Dzil Ikram

Peneliti Singapura Ciptakan Baju Layar Sentuh, Bisa Tampilkan Foto dan Video

Peneliti Singapura Ciptakan Baju Layar Sentuh, Bisa Tampilkan Foto dan Video

03 November 2026 | 05:15

Keboncinta.com – Perkembangan teknologi wearable atau perangkat yang dapat dikenakan terus menghadirkan inovasi baru. Jika sebelumnya teknologi pintar hanya ditemukan pada jam tangan, gelang kesehatan, dan kacamata pintar, kini para ilmuwan mulai mengembangkan pakaian yang mampu menjalankan fungsi seperti smartphone.

Salah satu terobosan terbaru datang dari tim peneliti National University of Singapore (NUS) College of Design and Engineering. Mereka berhasil menciptakan layar sentuh yang terintegrasi langsung ke dalam kain pakaian.

Teknologi ini memungkinkan pengguna berinteraksi dengan perangkat digital melalui bagian lengan baju tanpa harus terus-menerus mengeluarkan ponsel dari saku.

Mengutip Popular Science, Minggu (1/11/2026), inovasi tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan pakaian pintar yang berpotensi menggabungkan fungsi komunikasi, hiburan, dan pemantauan kesehatan.

Perjalanan Panjang Pengembangan Pakaian Pintar

Upaya mengintegrasikan teknologi smartphone ke dalam pakaian sebenarnya sudah berlangsung selama hampir 15 tahun.

Salah satu proyek yang cukup dikenal adalah kolaborasi Levi's dan Google pada 2017 melalui produk bernama Jacquard.

Produk tersebut berupa jaket denim yang dilengkapi sensor sentuh pada bagian manset. Pengguna dapat melakukan sejumlah perintah sederhana, seperti mengontrol musik, menerima panggilan, dan melihat notifikasi tanpa perlu menyentuh layar ponsel.

Namun, teknologi Jacquard memiliki keterbatasan karena sistem input yang digunakan masih cukup sederhana. Fungsinya belum mampu menggantikan pengalaman menggunakan layar smartphone secara langsung.

Google akhirnya menghentikan proyek tersebut pada 2023.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu tantangan bagi pengembangan pakaian pintar. Agar benar-benar dapat menggantikan sebagian fungsi ponsel, pakaian tidak cukup hanya dilengkapi sensor, tetapi juga membutuhkan layar yang dapat menampilkan informasi dan menerima sentuhan.

Baca Juga: Bukan Hanya Jago Teknologi, Ini Kemampuan yang Dibutuhkan Generasi Z agar Dilirik Perusahaan 

Menggunakan 54 Serat Elektronik sebagai Piksel Digital

Terobosan dari tim NUS diwujudkan melalui pengembangan serat digital fleksibel yang terdiri dari 54 serat elektronik.

Serat tersebut bekerja menyerupai piksel digital yang dapat membentuk tampilan visual pada permukaan kain.

Para peneliti kemudian menenun serat elektronik tersebut ke bagian lengan pakaian. Hasilnya adalah area layar berukuran sekitar 6,6 x 4,3 inci yang ditempatkan pada bagian lengan bawah.

Menariknya, layar tersebut tidak hanya berfungsi untuk menampilkan informasi. Pengguna juga dapat melakukan interaksi melalui sentuhan secara langsung.

Dalam pengujian, pakaian pintar yang terhubung ke smartphone melalui Bluetooth mampu menjalankan beberapa fungsi, antara lain:

  • Menelusuri dan melihat foto.
  • Memutar video dengan kecepatan 30 frame per second (FPS).
  • Menjalankan aplikasi kalkulator.
  • Memeriksa notifikasi melalui sentuhan.
  • Memberikan perintah suara melalui koneksi Bluetooth.

Kemampuan tersebut memperlihatkan bahwa kain tidak lagi sekadar menjadi bahan pakaian, tetapi dapat berfungsi sebagai media interaksi digital.

Proses Pembuatan Serat Digital yang Rumit

Di balik teknologi tersebut, terdapat proses produksi yang cukup kompleks. Tim peneliti harus mengembangkan metode khusus untuk menghubungkan berbagai komponen elektronik berukuran sangat kecil.

Salah satu tantangan utamanya adalah menciptakan titik sambungan pada kawat mikro yang memiliki lapisan isolasi.

Untuk mengatasinya, peneliti memanfaatkan sinar laser guna mengarahkan cairan solder ke titik sambungan yang telah ditentukan. Teknik ini memungkinkan logam cair menempel secara presisi tanpa merusak bagian serat lainnya.

Hasil pengembangan tersebut berupa benang berlapis dengan ketebalan sekitar satu milimeter.

Di dalamnya terintegrasi lebih dari 5.000 cip dan 20.000 komponen listrik. Teknologi layar ini juga mendukung kedalaman warna 8-bit.

Meskipun belum menghasilkan kualitas visual setara smartphone modern, kemampuan tersebut sudah cukup untuk menampilkan gambar dan menjalankan sejumlah fungsi digital sederhana.

Performa Masih Terbatas, tetapi Tetap Fleksibel

Meski menjadi inovasi menarik, baju layar sentuh ini belum memiliki performa yang setara dengan smartphone masa kini.

Dalam pengujian, pemutaran video masih mengalami sedikit gangguan, terutama ketika audio dan gambar harus berjalan secara bersamaan.

Selain itu, informasi mengenai sistem pengisian daya dan ketahanan baterai masih menjadi aspek yang perlu dikembangkan lebih lanjut.

Namun, ada keunggulan dari sisi kenyamanan. Pakaian pintar tersebut diklaim memiliki tingkat sirkulasi udara yang sebanding dengan bahan denim atau katun tebal.

Artinya, keberadaan komponen elektronik tidak serta-merta membuat pakaian menjadi terlalu kaku atau sulit dikenakan.

Layar Kain Tetap Berfungsi Setelah Dicuci 50 Kali

Salah satu hal paling menarik dari penelitian ini adalah pengujian ketahanan terhadap air dan proses pencucian.

Para peneliti memasukkan pakaian tersebut ke mesin cuci hingga 50 siklus pencucian. Hasilnya, layar dan sensor sentuh tetap dapat berfungsi dengan baik tanpa mengalami kerusakan berarti.

Pengujian ini penting karena pakaian pintar harus mampu menghadapi aktivitas sehari-hari, termasuk terkena keringat, debu, dan proses pencucian secara berkala.

Ketahanan tersebut menjadi modal penting agar teknologi layar kain dapat dikembangkan menjadi produk wearable yang lebih praktis.

Baca Juga: 6 Tren Kebiasaan Makan Sehat yang Semakin Diminati, dari Pangan Lokal hingga Teknologi Gizi 

Berpotensi Dikembangkan untuk Pemantauan Kesehatan

Ke depannya, teknologi pakaian layar sentuh berpotensi dikembangkan untuk berbagai kebutuhan. Salah satunya adalah pemantauan kesehatan secara langsung melalui integrasi sensor dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Pengguna nantinya berpotensi memperoleh informasi kesehatan melalui pakaian yang dikenakan tanpa harus selalu membuka smartphone.

Selain itu, teknologi ini dapat menjadi alternatif interaksi digital yang membantu mengurangi ketergantungan terhadap layar ponsel.

Meski demikian, masih diperlukan pengembangan lebih lanjut, terutama terkait efisiensi energi, kualitas tampilan, kenyamanan, dan proses produksi.

Pakaian pintar buatan NUS menunjukkan bahwa masa depan teknologi wearable tidak harus berbentuk jam tangan atau perangkat tambahan. Bukan tidak mungkin, suatu saat pakaian sehari-hari juga dapat berfungsi sebagai layar digital yang praktis.

Tags:
Baju Pintar Teknologi Wearable Layar Sentuh

Komentar Pengguna