Keboncinta.com-- Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membawa perubahan ke berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Teknologi yang mampu membantu menghasilkan teks, gambar, maupun berbagai materi pembelajaran tersebut kini mulai mendapat perhatian lebih besar dalam mendukung proses pendidikan.
Kementerian Agama (Kemenag) melihat perkembangan tersebut sebagai peluang untuk memperkuat transformasi pendidikan agama dan keagamaan. Salah satu langkah yang sedang didorong adalah pemanfaatan AI generatif bagi siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga aparatur di lingkungan Kemenag.
Pembahasan mengenai pemanfaatan teknologi tersebut dilakukan bersama Canva Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas terhadap teknologi sekaligus mendorong kemampuan warga pendidikan dalam memanfaatkannya secara tepat.
Lantas, seperti apa rencana Kemenag dalam memanfaatkan AI untuk pendidikan agama dan keagamaan?
Baca Juga: Sering Merasa Kerja Makin Berat? Bisa Jadi 5 Kebiasaan Ini Diam-Diam Jadi Penyebabnya
Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM), Muhammad Ali Ramdhani, menilai perubahan teknologi membuat dunia pendidikan perlu terus beradaptasi.
Menurutnya, perkembangan AI generatif memiliki keterkaitan dengan kebutuhan pendidikan agama dan keagamaan. Teknologi tersebut dapat menjadi salah satu bagian dari upaya menghadirkan proses pembelajaran yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.
Ia menyampaikan bahwa arahan Menteri Agama mendorong lingkungan Kemenag untuk bersikap adaptif terhadap berbagai perubahan, khususnya perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Dengan demikian, AI tidak dipandang hanya sebagai teknologi baru, tetapi juga sebagai salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung transformasi pendidikan.
Kemenag juga melihat pentingnya membangun kerja sama dalam mengembangkan pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan keagamaan.
Ali Ramdhani mendorong agar berbagai direktorat yang menangani pendidikan keagamaan dapat bekerja secara kolaboratif. Pendekatan tersebut dinilai dapat memperluas manfaat teknologi sekaligus mempertemukan berbagai pengalaman dalam mengembangkan pembelajaran.
Kolaborasi lintas direktorat juga dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan antara pemerintah, satuan pendidikan, guru, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Pengalaman yang diperoleh dari berbagai pihak nantinya dapat menjadi praktik baik yang dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lingkungan pendidikan.
Baca Juga: Rapor Pendidikan 2026 Makin Dekat, Kepala Sekolah dan Operator Wajib Pastikan Data Sudah Valid
Sekretaris BMBPSDM, Wawan Djunaedi, menjelaskan bahwa kerja sama dalam pemanfaatan teknologi sebelumnya telah diterapkan pada sektor pendidikan umum.
Melalui pengalaman tersebut, Kemenag ingin mendorong pola kerja sama serupa agar akses terhadap teknologi dapat dirasakan secara lebih merata oleh peserta didik di pendidikan umum maupun pendidikan keagamaan.
Kerja sama dengan Canva Indonesia menjadi salah satu upaya yang dibahas untuk mendukung tujuan tersebut.
Dengan akses yang lebih luas, peserta didik dan pendidik di lingkungan pendidikan keagamaan diharapkan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengenal sekaligus memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pembelajaran.
Pemanfaatan AI yang direncanakan Kemenag tidak terbatas pada kegiatan belajar mengajar.
Teknologi tersebut juga dinilai memiliki potensi untuk membantu aparatur di lingkungan Kementerian Agama dalam menjalankan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dan pelayanan.
Artinya, penerapan AI di lingkungan Kemenag berpotensi mencakup ekosistem yang lebih luas, mulai dari peserta didik, guru, tenaga pendidikan, hingga aparatur pemerintahan.
Pemanfaatan secara lebih luas tersebut tentu membutuhkan kemampuan dan pemahaman yang memadai agar teknologi digunakan sesuai kebutuhan dan memberikan manfaat secara optimal.
Baca Juga: Kerja Terus Tanpa Jeda? Ini Cara Menjaga Kesehatan Mental agar Tidak Mudah Kewalahan
Dorongan pemanfaatan AI generatif menunjukkan bahwa perkembangan teknologi mulai ditempatkan sebagai bagian dari agenda transformasi pendidikan keagamaan.
Bagi guru dan siswa, kehadiran AI dapat membuka peluang baru dalam mengembangkan materi, mencari referensi, serta mendukung aktivitas pembelajaran. Sementara bagi aparatur, teknologi tersebut berpotensi membantu berbagai pekerjaan sesuai fungsi dan kebutuhan organisasi.
Namun, pemanfaatan teknologi tetap membutuhkan kolaborasi dan pengembangan kapasitas. Kemenag tidak hanya perlu menyediakan akses, tetapi juga memastikan warga pendidikan memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi secara tepat.
Kementerian Agama mulai mendorong pemanfaatan AI generatif untuk mendukung transformasi pendidikan agama dan keagamaan. Pembahasan bersama Canva Indonesia menjadi salah satu langkah yang diarahkan untuk memperluas akses teknologi bagi siswa, guru, dan tenaga pendidikan di lingkungan Kemenag.
Kerja sama lintas direktorat juga dinilai penting agar pengalaman dan praktik baik dalam penggunaan teknologi dapat dibagikan secara lebih luas.
Tidak hanya untuk pembelajaran, AI juga berpotensi dimanfaatkan oleh aparatur Kemenag dalam mendukung pekerjaan mereka. Jika dikembangkan secara kolaboratif dan tepat sasaran, pemanfaatan AI dapat menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan pendidikan agama dan keagamaan yang semakin adaptif terhadap perubahan zaman.***