Berita
Hilmi An Naufal

Pemkot Tangerang Perkuat Sekolah Gratis dan Program Kesetaraan Cegah Anak Putus Sekolah

Pemkot Tangerang Perkuat Sekolah Gratis dan Program Kesetaraan Cegah Anak Putus Sekolah

28 Agustus 2026 | 17:41

Keboncinta— Pemerintah Kota Tangerang memperkuat sejumlah program pendidikan untuk mencegah anak berhenti sekolah atau tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Intervensi disiapkan melalui pendidikan formal, pendidikan kesetaraan, bantuan pembiayaan, serta pendekatan langsung kepada keluarga.

Salah satu perhatian utama diarahkan pada masa transisi dari sekolah dasar menuju sekolah menengah pertama. Anak yang telah lulus SD tetapi tidak melanjutkan ke SMP dinilai membutuhkan pendampingan sebelum benar-benar keluar dari jalur pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Wahyudi Iskandar, menyampaikan bahwa pemerintah tidak hanya membuka akses menuju sekolah. Pemerintah daerah juga berupaya memastikan anak memiliki pilihan pendidikan yang sesuai ketika menghadapi kendala ekonomi, sosial, keluarga, atau persoalan lainnya.

Program sekolah gratis dan Tangerang Cerdas menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan belajar. Bantuan tersebut diharapkan dapat mengurangi beban keluarga agar keterbatasan biaya tidak menjadi penyebab utama anak meninggalkan pendidikan.

Namun, tidak semua anak dapat mengikuti jalur sekolah formal. Kondisi usia, pekerjaan, lingkungan keluarga, atau pengalaman tertinggal dalam pembelajaran dapat membuat sebagian anak membutuhkan pendekatan berbeda.

Untuk menjangkau kelompok tersebut, pemerintah mengoptimalkan pendidikan kesetaraan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Program Paket A, Paket B, dan Paket C disiapkan sebagai alternatif yang setara dengan jenjang SD, SMP, dan SMA.

Keberadaan PKBM memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melanjutkan pendidikan melalui pola belajar yang lebih fleksibel. Jalur kesetaraan juga dapat menjadi jalan kembali bagi anak yang sebelumnya sempat berhenti sekolah.

Pemkot Tangerang turut menyiapkan kunjungan langsung ke rumah bersama perangkat wilayah. Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui kondisi anak, mengidentifikasi penyebab tidak bersekolah, dan memberikan pemahaman kepada keluarga mengenai pentingnya keberlanjutan pendidikan.

Kunjungan rumah menjadi penting karena persoalan setiap anak tidak selalu sama. Ada yang terkendala biaya, harus membantu orang tua, mengalami kesulitan belajar, kehilangan motivasi, atau tidak memperoleh informasi mengenai pilihan sekolah yang tersedia.

Dengan mengetahui masalah secara langsung, pemerintah dan sekolah dapat menentukan bentuk intervensi yang lebih tepat. Sebagian anak mungkin membutuhkan bantuan biaya, sedangkan yang lain memerlukan pendampingan psikologis, pilihan pendidikan kesetaraan, atau dukungan untuk kembali beradaptasi.

Berbagai upaya tersebut dikembangkan melalui ekosistem Gampang Sekolah. Program itu mencakup penguatan akses, mutu, serta tata kelola pendidikan yang disertai pemantauan dan evaluasi secara berkala.

Pencegahan anak putus sekolah membutuhkan kolaborasi lintas pihak. Sekolah, keluarga, pemerintah kelurahan, pengelola PKBM, dan masyarakat harus saling berbagi informasi apabila menemukan anak usia sekolah yang tidak lagi mengikuti pendidikan.

Keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah anak yang berhasil didaftarkan. Pemerintah juga perlu memastikan mereka tetap belajar, naik jenjang, dan menyelesaikan pendidikan tanpa kembali mengalami hambatan yang sama.

Dengan pilihan pendidikan yang lebih beragam dan pendampingan yang sesuai, setiap anak diharapkan memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan dan mengembangkan potensi tanpa dibatasi kondisi ekonomi maupun latar belakang keluarga.

Tags:
Pendaftaran UKPPG 2025 Ujian Pengetahuan PPG

Komentar Pengguna