Berita
Hilmi An Naufal

Papua Kekurangan Guru Pendidikan Khusus, Uncen Didorong Buka Prodi Baru pada 2027

Papua Kekurangan Guru Pendidikan Khusus, Uncen Didorong Buka Prodi Baru pada 2027

31 Agustus 2026 | 07:40

KEBONCINTA.COM — Dinas Pendidikan Provinsi Papua mendorong Universitas Cenderawasih membuka Program Studi Pendidikan Khusus mulai 2027. Langkah tersebut diharapkan dapat menjawab keterbatasan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi menangani anak berkebutuhan khusus di Papua.

Kepala Bidang Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Papua, Laurens Wantik, mengatakan komunikasi dengan Universitas Cenderawasih telah dilakukan. Program studi tersebut direncanakan berada di bawah bidang Bimbingan dan Konseling.

Rencana pembukaan program studi masih menghadapi tantangan, terutama ketersediaan dosen. Pemerintah daerah mengusulkan agar guru-guru berpengalaman yang telah menempuh pendidikan magister dapat dipertimbangkan menjadi tenaga pengajar.

Para guru tersebut dinilai memiliki pengalaman langsung dalam menangani siswa berkebutuhan khusus. Namun, mekanisme penempatan guru sebagai tenaga pengajar perguruan tinggi masih memerlukan pembahasan dan kesepakatan lebih lanjut.

Kebutuhan membuka program studi baru semakin mendesak karena tidak semua guru di sekolah luar biasa memiliki latar belakang Pendidikan Khusus. Menurut Dinas Pendidikan Papua, jumlah guru SLB yang benar-benar berasal dari bidang tersebut belum mencapai 50 persen.

Rasio pendampingan di sekolah khusus juga berbeda dengan sekolah umum. Dalam pendidikan khusus, delapan siswa dapat membutuhkan dua guru pendamping. Kondisi itu membuat ketersediaan tenaga yang memiliki keahlian khusus menjadi bagian penting dalam meningkatkan mutu pelayanan pendidikan.

Selama ini, Papua masih bergantung pada lulusan perguruan tinggi dari luar daerah, seperti Bandung, Makassar, Manado, Yogyakarta, dan Semarang. Ketergantungan tersebut dapat menjadi kendala karena tidak semua lulusan bersedia bekerja di wilayah Papua.

Apabila Program Studi Pendidikan Khusus dapat dibuka di Universitas Cenderawasih, putra-putri Papua akan memperoleh akses pendidikan yang lebih dekat. Mahasiswa juga dapat mempelajari kebutuhan anak berkebutuhan khusus dengan mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, geografis, dan fasilitas pendidikan di daerahnya.

Pembukaan program studi tidak cukup hanya dengan menyediakan kelas dan menerima mahasiswa. Kampus perlu mempersiapkan kurikulum, dosen yang memenuhi kualifikasi, fasilitas praktik, laboratorium pembelajaran, serta kerja sama dengan sekolah luar biasa dan sekolah inklusif.

Mahasiswa harus mendapatkan kesempatan melakukan praktik lapangan secara terarah. Pengalaman tersebut dibutuhkan agar calon guru mampu mengenali kebutuhan setiap siswa, menyusun strategi pembelajaran individual, berkomunikasi dengan keluarga, dan bekerja sama dengan tenaga profesional lainnya.

Program studi ini juga berpotensi memperkuat pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah umum. Guru Pendidikan Khusus dapat mendampingi sekolah dalam memberikan layanan yang adil kepada siswa tanpa membedakan kondisi fisik, intelektual, sensorik, maupun kebutuhan belajarnya.

Rencana pembukaan pada 2027 masih memerlukan persiapan dan persetujuan sesuai ketentuan pendidikan tinggi. Namun, inisiatif tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas akses pendidikan yang lebih setara bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Papua.

Redaksi Keboncinta.com
Diperbarui: 31 Agustus 2026

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna