KebonCinta.com – Papan Interaktif Digital (PID) mulai digunakan dalam berbagai kegiatan belajar di sekolah. Dalam siaran pers 9 Oktober 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyoroti penggunaan perangkat ini oleh guru dan siswa di SMPN 9 Metro, Lampung. Namun, layar sentuh besar tidak otomatis membuat pembelajaran lebih efektif. Guru perlu merancang aktivitas yang melibatkan murid, bukan hanya memindahkan presentasi ke layar.
Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel (IFP) adalah layar besar yang memungkinkan guru menampilkan materi, menulis, membuka media, dan berinteraksi melalui sentuhan. Fitur tepatnya bergantung pada perangkat, aplikasi, dan koneksi yang tersedia.
Berbeda dari televisi biasa, IFP dapat digunakan untuk kegiatan partisipatif, seperti mengurutkan gambar atau mengerjakan soal bersama. Perangkat tetap merupakan alat bantu; tujuan pembelajaran dan bimbingan guru harus menjadi pusat kegiatan.
Dalam publikasi resmi 9 Oktober 2026, Kemendikdasmen mengangkat pengalaman Badrun, guru Pendidikan Agama Islam di SMPN 9 Metro. Ia menggunakan PID pada tahap awal, inti, dan asesmen, termasuk memadukannya dengan media seperti Canva, YouTube, Wordwall, dan Wayground.
Kementerian juga melaporkan pemanfaatan IFP oleh sejumlah murid yang merasa materi menjadi lebih mudah dipahami ketika dilengkapi visual dan interaksi. Pengalaman tersebut merupakan contoh praktik sekolah, bukan bukti bahwa semua kelas mendapatkan hasil serupa atau semua sekolah sudah memiliki perangkat.
Baca Juga: Lebih dari 70 Ribu Guru SD-SMP Akses Materi Pembelajaran Mendalam, Coding dan AI di Ruang GTK
Guru dapat memperlihatkan peta, bagian tumbuhan, struktur kalimat, atau ilustrasi sejarah dalam ukuran besar. Ajak siswa menunjukkan komponen yang sedang dipelajari dan menjelaskan alasannya. Dalam IPA, misalnya, murid dapat mengidentifikasi bagian bunga, bukan hanya melihat gambar secara pasif.
Pilih gambar yang akurat, jelas, sesuai usia, dan memiliki izin penggunaan yang tepat.
Video singkat dapat membantu menjelaskan proses yang sulit dibayangkan, seperti siklus air atau gerak benda. Sebelum memutar, berikan satu pertanyaan pengamatan. Jeda tayangan pada bagian penting, lalu minta murid membandingkan temuannya.
Jangan menghabiskan seluruh jam pelajaran untuk menonton. Pastikan materi dapat diakses tanpa iklan atau tautan yang tidak sesuai jika memungkinkan.
Gunakan fitur papan tulis digital untuk menyusun ide, membuat peta konsep, atau membahas jawaban. Misalnya, beberapa murid menuliskan langkah pemecahan soal Matematika; kelas kemudian mendiskusikan bagian yang benar dan perlu diperbaiki.
Berikan kesempatan bergiliran dan jangan mempermalukan siswa ketika jawabannya keliru.
Jika aplikasi dan perangkat mendukung, guru bisa menampilkan simulasi tata surya, pecahan, atau eksperimen virtual. Murid diminta memprediksi hasil terlebih dahulu, kemudian membandingkannya dengan simulasi.
Simulasi tidak selalu menggantikan praktik langsung. Untuk keterampilan yang memerlukan pengalaman nyata, gunakan keduanya secara saling melengkapi.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir