Wakasek sarpras membantu menyediakan data hasil pemeriksaan fisik untuk mendukung kesesuaian data dalam sistem pendataan sekolah.
12. Menyusun Evaluasi dan Laporan Sarpras
Wakasek membantu menyusun laporan kondisi barang, kerusakan, pemeliharaan, kebutuhan yang belum terpenuhi, serta rekomendasi tindak lanjut.
Agar lebih terorganisasi, kegiatan sarpras dapat dikelompokkan berdasarkan periode.
| Periode | Contoh Pekerjaan |
|---|---|
| Harian | Menerima laporan kerusakan, memeriksa kebutuhan mendesak, dan mengoordinasikan pemakaian fasilitas |
| Mingguan | Meninjau kondisi fasilitas prioritas dan menindaklanjuti laporan yang belum selesai |
| Bulanan | Memeriksa rekap kerusakan, pelaksanaan pemeliharaan, dan kebutuhan perlengkapan |
| Semesteran | Memeriksa inventaris, kondisi ruang, dan hasil penggunaan fasilitas |
| Tahunan | Menyusun program kerja, mengevaluasi aset, mengusulkan kebutuhan, dan menyiapkan laporan tahunan |
Tabel tersebut merupakan rekomendasi pembagian pekerjaan, bukan ketentuan frekuensi pemeriksaan nasional.
Fasilitas yang mempunyai risiko keselamatan harus diperiksa dan ditangani segera tanpa menunggu jadwal rutin.
Administrasi sarpras dapat dikelompokkan menjadi tujuh bagian.
A. Dokumen Penugasan dan Perencanaan
Meliputi SK penugasan wakasek, uraian tugas, program kerja, hasil analisis kebutuhan, serta rencana pemeliharaan.
B. Dokumen Inventaris
Meliputi daftar inventaris, kode barang, lokasi, tahun perolehan, kondisi, dan catatan perpindahan barang.
C. Dokumen Pemeriksaan Fasilitas
Meliputi checklist kondisi ruang, pemeriksaan toilet, laboratorium, instalasi pendukung, dan catatan risiko keselamatan.
D. Dokumen Pemeliharaan
Meliputi jadwal perawatan, laporan kerusakan, catatan perbaikan, dan hasil pemeriksaan setelah diperbaiki.
E. Dokumen Pengadaan
Meliputi daftar kebutuhan, spesifikasi, dokumen belanja, bukti penerimaan, dan administrasi keuangan yang dikelola pihak berwenang.
F. Dokumen Penggunaan dan Peminjaman
Meliputi jadwal penggunaan fasilitas, daftar peminjaman, pengembalian, serta catatan kondisi barang.
G. Dokumen Monitoring dan Evaluasi
Meliputi laporan realisasi program, rekap kondisi, kebutuhan yang belum terpenuhi, serta rekomendasi perbaikan.
Pengelompokan ini merupakan contoh administrasi internal, bukan daftar berkas yang seluruhnya wajib dibuat secara terpisah.
Inventaris adalah kegiatan pencatatan barang yang dimiliki atau dikelola sekolah.
Data inventaris sebaiknya mencakup nama barang, kode, jumlah, lokasi, tahun perolehan, sumber perolehan, dan kondisi.
BUKU INVENTARIS SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH
Nama Sekolah: ..........................................
Tahun Pemeriksaan: ..........................................
| Kode | Nama Barang | Jumlah | Lokasi | Kondisi |
|---|---|---|---|---|
| INV-001 | Meja siswa | 30 | Kelas VII-A | Baik |
| INV-002 | Kursi siswa | 30 | Kelas VII-A | 28 baik, 2 rusak |
| INV-003 | Proyektor | 1 | Laboratorium | Baik |
| INV-004 | Lemari | 2 | Ruang Guru | 1 baik, 1 perlu perbaikan |
Seluruh data merupakan contoh ilustratif.
Untuk penggunaan sebenarnya, kode dan klasifikasi barang harus menyesuaikan sistem inventaris resmi yang berlaku.
Dalam praktiknya, sekolah dapat mengelompokkan kondisi menjadi baik, rusak ringan, rusak berat, dan perlu pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, barang yang berpotensi membahayakan tidak boleh tetap digunakan hanya karena kerusakannya terlihat kecil.
Program kerja bidang sarpras perlu didasarkan pada hasil pemeriksaan kebutuhan.
Berikut sepuluh contoh kegiatan yang dapat menjadi referensi SMP.
| No. | Program | Indikator Keberhasilan | Waktu |
|---|---|---|---|
| 1 | Inventarisasi barang | Data dan lokasi barang terverifikasi | Awal tahun dan berkala |
| 2 | Pemeriksaan ruang kelas | Kondisi ruang diperiksa dan temuan dicatat | Berkala |
| 3 | Pemeliharaan meja dan kursi | Kerusakan memperoleh tindak lanjut | Sesuai kebutuhan |
| 4 | Perawatan perangkat digital | Perangkat diperiksa sesuai petunjuk penggunaan | Berkala |
| 5 | Pemeriksaan sanitasi | Fasilitas yang tidak berfungsi teridentifikasi dan ditindaklanjuti | Berkala |
| 6 | Pengaturan peminjaman fasilitas | Penggunaan dan pengembalian tercatat | Setiap peminjaman |
| 7 | Perencanaan kebutuhan barang | Prioritas disusun berdasarkan kondisi dan kebutuhan | Tahunan |
| 8 | Koordinasi pengadaan | Kebutuhan diproses melalui mekanisme yang sah | Sesuai rencana |
| 9 | Verifikasi data sarpras | Ketidaksesuaian data fisik dan administrasi ditindaklanjuti | Semesteran |
| 10 | Monitoring dan evaluasi | Tersedia laporan kondisi dan rekomendasi perbaikan | Semesteran/tahunan |
Program tersebut merupakan contoh.
Sekolah dapat menambahkan sasaran, penanggung jawab, anggaran, sumber pembiayaan, dan bukti pelaksanaan.
Nama SOP: Pemeriksaan Rutin Kondisi Fasilitas Sekolah.
Tujuan: Mengidentifikasi kerusakan, kebutuhan perawatan, dan risiko keselamatan sebelum mengganggu pembelajaran.
Langkah Pelaksanaan:
Pemeriksaan visual tidak menggantikan pemeriksaan teknis oleh tenaga ahli.
Sebagai contoh, instalasi listrik yang bermasalah harus diperiksa oleh petugas kompeten, bukan dibongkar sendiri oleh siswa atau guru tanpa keahlian yang sesuai.
LEMBAR PEMERIKSAAN RUANG KELAS
Nama Sekolah: ..........................................
Ruang: ..........................................
Tanggal: ..........................................
Petugas: ..........................................
| No. | Komponen | Baik | Perlu Perbaikan | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pintu dan kunci | ☐ | ☐ | ........ |
| 2 | Jendela | ☐ | ☐ | ........ |
| 3 | Meja siswa | ☐ | ☐ | ........ |
| 4 | Kursi siswa | ☐ | ☐ | ........ |
| 5 | Papan tulis | ☐ | ☐ | ........ |
| 6 | Lampu dan pencahayaan | ☐ | ☐ | ........ |
| 7 | Ventilasi | ☐ | ☐ | ........ |
| 8 | Lantai | ☐ | ☐ | ........ |
| 9 | Atap dan plafon | ☐ | ☐ | ........ |
| 10 | Stopkontak dan instalasi yang terlihat | ☐ | ☐ | ........ |
| 11 | Kebersihan | ☐ | ☐ | ........ |
| 12 | Keselamatan dan aksesibilitas | ☐ | ☐ | ........ |
Jika ditemukan potensi bahaya, petugas perlu menambahkan catatan tindakan pengamanan dan pihak yang harus dihubungi.
Kerusakan fasilitas sekolah harus ditangani melalui prosedur yang jelas.
Tujuan: Memastikan setiap laporan kerusakan diterima, diperiksa, diprioritaskan, dan memperoleh tindak lanjut.
Langkah Pelaksanaan:
FORMULIR LAPORAN KERUSAKAN SARPRAS
Nomor Laporan: ..........................................
Tanggal: ..........................................
Nama Pelapor: ..........................................
Lokasi Barang: ..........................................
Nama Barang/Fasilitas: ..........................................
Kode Inventaris jika Ada: ..........................................
Uraian Kerusakan:
..........................................
Dampak terhadap Penggunaan:
..........................................
Potensi Risiko Keselamatan:
..........................................
Tindakan Pengamanan Awal:
..........................................
Usulan Tindak Lanjut:
..........................................
Petugas Pemeriksa: ..........................................
Status Penanganan: ..........................................
Tanggal Pemeriksaan Ulang: ..........................................
Formulir ini merupakan contoh alat bantu internal.
Tidak semua kerusakan mempunyai urgensi yang sama.
Sekolah dapat menggunakan pengelompokan berikut.
| Prioritas | Kondisi | Contoh |
|---|---|---|
| Mendesak | Berpotensi membahayakan keselamatan | Kabel listrik terbuka, plafon hampir jatuh |
| Tinggi | Menghambat layanan pembelajaran atau sanitasi penting | Toilet tidak berfungsi, kerusakan fasilitas belajar utama |
| Sedang | Mengganggu kenyamanan tetapi masih tersedia alternatif aman | Sebagian meja perlu perbaikan |
| Terencana | Perawatan preventif atau peningkatan fasilitas | Pengecatan, penataan ulang penyimpanan |
Klasifikasi ini merupakan contoh penentuan prioritas internal.
Risiko aktual harus dinilai berdasarkan kondisi di lapangan dan pemeriksaan oleh pihak yang mempunyai kompetensi.
Pengadaan barang perlu dilakukan berdasarkan kebutuhan yang telah diidentifikasi.
Wakasek sarpras dapat mengoordinasikan permintaan barang, tetapi tidak boleh secara otomatis mengambil alih kewenangan pelaksanaan belanja.
Tujuan: Memastikan kebutuhan sarpras diproses secara terencana, transparan, dan sesuai ketentuan.
Langkah Pelaksanaan:
FORMULIR USULAN KEBUTUHAN SARPRAS
Nama Sekolah: ..........................................
Unit Pengusul: ..........................................
Tanggal: ..........................................
| No. | Nama Barang | Jumlah | Kondisi Saat Ini | Alasan Kebutuhan | Prioritas |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Kursi siswa | 10 | Sebagian rusak | Mendukung kebutuhan kelas | Tinggi |
| 2 | Proyektor | 1 | Belum tersedia | Pembelajaran multimedia | Sedang |
| 3 | Lemari penyimpanan | 2 | Kapasitas kurang | Penyimpanan bahan ajar | Sedang |
Contoh tersebut belum merupakan persetujuan pembelian.
Pemeriksaan anggaran, pemilihan mekanisme belanja, transaksi, dan pembayaran harus mengikuti kewenangan resmi.
Fasilitas sekolah sering digunakan bersama oleh guru, siswa, maupun unit kegiatan.
Karena itu, diperlukan mekanisme penggunaan yang tertib.
Tujuan: Memastikan barang dapat dipinjam, digunakan, dan dikembalikan dengan kondisi yang dapat diperiksa.
Langkah Pelaksanaan:
| Tanggal | Barang | Peminjam | Tujuan | Jadwal Kembali | Status |
|---|---|---|---|---|---|
| ........ | Proyektor | ........ | Pembelajaran | ........ | Dipinjam |
| ........ | Speaker | ........ | Kegiatan sekolah | ........ | Kembali |
| ........ | Alat olahraga | ........ | Ekstrakurikuler | ........ | Kembali |
Untuk barang tertentu, sekolah dapat menggunakan formulir atau sistem digital yang lebih rinci.
Namun, administrasi sebaiknya tetap sederhana dan sebanding dengan risiko serta nilai barang.
Selain laporan kerusakan, wakasek dapat menggunakan jurnal pemeliharaan.
JURNAL PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA
| Tanggal | Fasilitas | Kegiatan | Hasil | Tindak Lanjut |
|---|---|---|---|---|
| 5 Oktober | Proyektor | Pemeriksaan fungsi | Berfungsi | Digunakan kembali |
| 8 Oktober | Kursi kelas | Pemeriksaan sambungan | Dua kursi rusak | Usulan perbaikan |
| 12 Oktober | Toilet | Pemeriksaan sanitasi | Satu keran bocor | Koordinasi perbaikan |
| 15 Oktober | Papan tulis digital | Pemeriksaan perangkat | Berfungsi | Perawatan rutin |
Tanggal dan hasil merupakan ilustrasi.
Jurnal sebenarnya harus diisi berdasarkan pekerjaan yang telah dilaksanakan.
Sekolah dapat menggunakan spreadsheet untuk membantu pencatatan.
Salah satu contoh sistem sederhana adalah membuat satu file yang berisi beberapa lembar kerja.
Nama File: ADMINISTRASI_SARPRAS_SEKOLAH_2026
| Nama Sheet | Isi |
|---|---|
| 01_Inventaris | Data barang, jumlah, kode, dan lokasi |
| 02_Kondisi_Barang | Hasil pemeriksaan kondisi |
| 03_Kerusakan | Laporan dan status penanganan |
| 04_Pemeliharaan | Jadwal serta realisasi perawatan |
| 05_Usulan_Barang | Daftar kebutuhan dan prioritas |
| 06_Peminjaman | Penggunaan dan pengembalian |
| 07_Monitoring | Evaluasi serta tindak lanjut |
Format tersebut hanya contoh.
Sekolah dapat memanfaatkan sistem resmi yang telah tersedia tanpa membuat pencatatan ganda yang tidak diperlukan.
ARSIP SARPRAS SEKOLAH
Dokumen pengadaan dan pembayaran yang memuat informasi keuangan perlu diatur aksesnya sesuai kewenangan.
Sekolah sebaiknya menggunakan akun lembaga dan tidak menggantungkan seluruh arsip penting pada akun pribadi satu petugas.
Baca Juga: Cara Menata Arsip Digital Sekolah di Google Drive agar Dokumen Mudah Ditemukan
Barang yang mengalami kerusakan berat perlu diperiksa sebelum diputuskan untuk diperbaiki, diganti, atau diusulkan penghapusannya.
Langkah awal adalah memastikan barang tidak membahayakan pengguna.
Selanjutnya, petugas memeriksa kemungkinan perbaikan berdasarkan kondisi teknis, biaya, dan manfaat.
Jika barang tidak lagi layak digunakan, wakasek sarpras dapat menyusun laporan serta usulan penanganan.
Namun, barang tersebut tidak boleh langsung dibuang, dijual, atau dialihkan kepemilikannya tanpa mengikuti prosedur.
Untuk aset sekolah negeri, proses penghapusan mengikuti ketentuan pengelolaan barang milik pemerintah yang berlaku.
Untuk sekolah swasta, proses tersebut perlu mengikuti ketentuan yayasan atau penyelenggara pendidikan dan aturan hukum yang relevan.
Wakasek sarpras membantu menyiapkan informasi kondisi serta dokumentasi, sedangkan keputusan formal mengikuti kewenangan yang sah.
Penentuan prioritas sebaiknya tidak hanya berdasarkan siapa yang lebih dahulu mengajukan permintaan.
Sekolah perlu mempertimbangkan beberapa faktor.
Pertama, keselamatan. Fasilitas yang berpotensi membahayakan harus memperoleh perhatian utama.
Kedua, kebutuhan pembelajaran. Barang yang sangat diperlukan untuk pelaksanaan pembelajaran mendapat prioritas sesuai keadaan.
Ketiga, ketersediaan fasilitas alternatif. Sekolah perlu memeriksa apakah barang yang sudah tersedia dapat digunakan bersama.
Keempat, kondisi barang lama. Perbaikan dapat dipertimbangkan jika lebih efektif dan aman daripada penggantian.
Kelima, kemampuan anggaran. Setiap kebutuhan harus disesuaikan dengan sumber pendanaan serta ketentuan penggunaannya.
Keenam, manfaat jangka panjang. Barang yang dibeli sebaiknya mempunyai fungsi yang jelas dan dapat dipelihara.
Sebagai contoh, sekolah mempunyai proyektor yang masih dapat diperbaiki dengan aman.
Sebelum membeli perangkat baru, wakasek sarpras dapat mengusulkan pemeriksaan teknis dan perbandingan biaya yang relevan.
Namun, jika perangkat telah mengalami kerusakan serius dan tidak aman digunakan, pengadaan pengganti dapat menjadi salah satu pilihan yang diajukan.
Pengelolaan data sarpras dalam Dapodik perlu mendapat perhatian karena informasi fasilitas sekolah dapat menjadi dasar analisis kebutuhan dan perencanaan bantuan pendidikan.
Dalam pembaruan Dapodik versi 2027, pengajuan perubahan data sarpras menggunakan mekanisme melalui Manajemen Satuan Pendidikan dan tahapan verifikasi yang berlaku.
Karena itu, wakasek sarpras perlu bekerja sama dengan operator sekolah untuk memastikan informasi yang diajukan sesuai kondisi nyata.
Data yang perlu diperiksa antara lain jumlah ruang, fungsi ruang, kondisi bangunan, fasilitas sanitasi, dan perubahan akibat perbaikan atau pembangunan.
Wakasek sarpras dapat membantu dengan menyediakan laporan pemeriksaan dan dokumen pendukung.
Namun, proses penginputan atau pengajuan dalam sistem harus mengikuti petunjuk resmi yang berlaku.
Sekolah tidak boleh mengubah data kondisi bangunan atau jumlah fasilitas agar terlihat memenuhi persyaratan bantuan.
Baca Juga: Dapodik 2027 Resmi Ubah Mekanisme Pengajuan Sarpras, Sekolah Wajib Pahami Aturan Baru
Agar pekerjaan tidak tumpang tindih, sekolah perlu memperjelas pembagian tugas.
| Pihak | Contoh Tanggung Jawab |
|---|---|
| Kepala Sekolah | Memimpin perencanaan, pengendalian, dan pengawasan pengelolaan sarpras |
| Wakasek Sarpras | Mengoordinasikan kebutuhan, pemeriksaan, inventaris, dan pemeliharaan |
| Bendahara/Pengelola Keuangan | Menjalankan administrasi keuangan sesuai penugasan dan kewenangan |
| Operator Sekolah | Membantu pendataan pada sistem resmi sesuai hak akses |
| Petugas Inventaris/Aset | Mencatat dan memeriksa barang sesuai penugasan |
| Guru/Wali Kelas | Melaporkan kebutuhan atau kerusakan fasilitas pembelajaran |
| Petugas Pemeliharaan | Melaksanakan perawatan atau perbaikan sesuai kompetensi dan penugasan |
| Yayasan/Dinas/Pengelola Aset | Menjalankan kewenangan terkait kepemilikan dan pengelolaan aset sesuai aturan |
Pembagian tersebut merupakan contoh.
Penetapan tugas harus disesuaikan dengan struktur organisasi dan keputusan resmi sekolah.
Wakasek sarpras dapat menggunakan laporan sederhana untuk memeriksa perkembangan program.
LEMBAR MONITORING DAN EVALUASI SARPRAS
Nama Sekolah: ..........................................
Semester: ..........................................
Tahun Pelajaran: ..........................................
Wakasek Sarpras: ..........................................
| Program | Target | Realisasi | Kendala | Tindak Lanjut |
|---|---|---|---|---|
| Inventarisasi | Seluruh ruang sasaran diperiksa | Sebagian selesai | Jadwal pemeriksaan | Menuntaskan ruang tersisa |
| Pemeliharaan kursi | Kerusakan ditindaklanjuti | Beberapa diperbaiki | Kebutuhan komponen | Koordinasi perbaikan |
| Pemeriksaan sanitasi | Fasilitas berfungsi aman | Ada keran rusak | Perbaikan belum selesai | Koordinasi petugas |
| Perawatan perangkat digital | Pemeriksaan sesuai jadwal | Terlaksana | Tidak ada | Pemantauan berkala |
Seluruh hasil merupakan ilustrasi.
Monitoring perlu didasarkan pada data sebenarnya dan tidak boleh diisi seolah-olah suatu kegiatan telah dilaksanakan apabila belum dilakukan.
Sebagai ilustrasi, sebuah SMP melaksanakan pemeriksaan fasilitas pada akhir semester.
Dari hasil pemeriksaan ditemukan:
Wakasek sarpras kemudian mengelompokkan kebutuhan berdasarkan dampak dan urgensinya.
Kebocoran toilet diperiksa dan ditindaklanjuti agar fasilitas sanitasi berfungsi dengan baik.
Kursi yang tidak aman dipisahkan dari penggunaan sampai diperbaiki atau diganti melalui prosedur yang sah.
Proyektor diperiksa oleh petugas yang kompeten.
Sementara itu, data inventaris diperbarui setelah dilakukan pemeriksaan lokasi barang.
Hasil tersebut dilaporkan kepada kepala sekolah sebagai bahan evaluasi dan perencanaan program.
Contoh ini menunjukkan bahwa kegiatan sarpras tidak selalu harus menghasilkan pembelian barang baru.
Perbaikan, pemeliharaan, penataan penggunaan, serta peningkatan ketertiban data juga merupakan bagian penting pengelolaan.
Terdapat beberapa kesalahan yang dapat mengurangi efektivitas pengelolaan fasilitas sekolah.
Pertama, tidak mempunyai data inventaris yang akurat. Sekolah akan kesulitan mengetahui keberadaan dan kondisi barang.
Kedua, membeli barang tanpa analisis kebutuhan. Pengadaan seharusnya mendukung prioritas pendidikan.
Ketiga, mengabaikan pemeliharaan rutin. Kerusakan kecil yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi persoalan lebih besar.
Keempat, membiarkan fasilitas berbahaya tetap digunakan. Keselamatan warga sekolah harus menjadi prioritas.
Kelima, tidak membedakan kewenangan wakasek dan pengelola keuangan. Pelaksanaan belanja harus mengikuti mekanisme resmi.
Keenam, menghapus barang dari daftar tanpa prosedur. Perubahan status aset perlu mempunyai dasar dan persetujuan yang sah.
Ketujuh, tidak mencatat perpindahan barang. Inventaris dapat menjadi tidak sesuai dengan lokasi sebenarnya.
Kedelapan, menggunakan data berbeda antara arsip fisik dan sistem pendataan. Ketidaksesuaian harus diperiksa dan diperbaiki.
Kesembilan, tidak mengatur peminjaman fasilitas. Barang dapat sulit dilacak atau tidak tersedia ketika diperlukan.
Kesepuluh, membuat dokumen hanya menjelang pemeriksaan. Administrasi sarpras sebaiknya dikelola sebagai pekerjaan rutin.
Kesebelas, tidak melindungi akses dokumen penting. Arsip aset dan keuangan perlu dikelola berdasarkan kewenangan.
Kedua belas, menilai keberhasilan hanya berdasarkan jumlah pengadaan. Fasilitas yang sudah dimiliki perlu dimanfaatkan dan dirawat secara optimal.
Berikut daftar pemeriksaan yang dapat digunakan sebagai alat bantu evaluasi internal.
Checklist tersebut merupakan contoh alat bantu pengelolaan, bukan instrumen wajib nasional yang harus digunakan secara seragam.
Pengelolaan sarana dan prasarana merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung kegiatan pembelajaran.
Wakasek sarpras mempunyai peran membantu kepala sekolah memastikan fasilitas tersedia sesuai kebutuhan, tercatat dengan baik, dimanfaatkan secara efektif, serta dipelihara secara berkelanjutan.
Pekerjaan tersebut membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari guru, wali kelas, operator, petugas inventaris, pengelola keuangan, hingga penyelenggara pendidikan.
Pengadaan barang juga harus dilakukan berdasarkan kebutuhan dan mengikuti ketentuan yang berlaku.
Namun, keberhasilan pengelolaan sarpras tidak semestinya diukur hanya dari banyaknya barang yang dibeli atau besarnya anggaran yang digunakan.
Fasilitas yang sudah dimiliki sekolah perlu dimanfaatkan secara optimal, dirawat, dan diperiksa secara berkala.
Melalui inventaris yang akurat, SOP pemeriksaan, penanganan kerusakan, serta monitoring yang terarah, sekolah dapat mengurangi risiko fasilitas tidak berfungsi dan mendukung kelancaran pembelajaran.
Dokumen administrasi tetap diperlukan sebagai dasar pengelolaan dan pertanggungjawaban, tetapi bentuknya sebaiknya efisien dan tidak menambah pekerjaan yang tidak diperlukan.
Pada akhirnya, wakasek sarpras yang menjalankan tugas dengan baik bukan hanya membantu sekolah menjaga barang dan bangunan, melainkan juga memastikan setiap fasilitas benar-benar memberikan manfaat bagi guru, peserta didik, dan seluruh warga sekolah.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir