KebonCinta.com – Bimbingan dan Konseling (BK) merupakan bagian penting dari layanan pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik mengembangkan potensi, memahami diri sendiri, membangun hubungan sosial yang sehat, menghadapi kesulitan belajar, serta merencanakan masa depan.
Namun, dalam praktiknya, layanan BK terkadang masih dipahami sebagai tempat menangani siswa yang melanggar tata tertib. Akibatnya, guru BK lebih sering dikaitkan dengan pemanggilan siswa, pencatatan pelanggaran, atau pemberian nasihat setelah terjadi masalah.
Padahal, ruang lingkup BK jauh lebih luas.
Layanan BK juga mencakup upaya pencegahan, pengembangan keterampilan, pendampingan pengambilan keputusan, serta penciptaan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan peserta didik.
Sebagai contoh, sebuah SMP mempunyai 300 siswa yang tersebar dalam beberapa rombongan belajar. Hasil pemetaan awal menunjukkan sebagian siswa membutuhkan dukungan dalam mengatur waktu belajar, membangun komunikasi dengan teman, mengembangkan kepercayaan diri, dan memahami pilihan pendidikan lanjutan.
Apabila guru BK hanya menunggu siswa datang dengan masalah, berbagai kebutuhan tersebut mungkin tidak mendapatkan pelayanan secara terencana.
Sebaliknya, melalui asesmen kebutuhan, program tahunan, jadwal layanan, dan evaluasi, sekolah dapat memberikan dukungan yang lebih sistematis.
Pada tahun ajaran 2026/2027, penyelenggaraan BK perlu memperhatikan Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah serta Panduan Implementasi Bimbingan dan Konseling untuk Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah yang diterbitkan pemerintah pada 2022.
Kedua dokumen tersebut menjadi rujukan dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi layanan BK sesuai karakteristik peserta didik.
Administrasi BK merupakan rangkaian kegiatan pencatatan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan layanan bimbingan serta konseling.
Tujuannya adalah memastikan layanan diselenggarakan berdasarkan kebutuhan siswa, memiliki sasaran yang jelas, dan dapat dievaluasi secara bertanggung jawab.
Administrasi BK dapat mencakup dokumen program, asesmen, jadwal, rencana layanan, jurnal pelaksanaan, serta laporan hasil evaluasi.
Namun, tidak seluruh dokumen dapat diperlakukan sebagai arsip biasa.
Catatan konseling individual dapat memuat informasi sensitif mengenai kehidupan pribadi, hubungan keluarga, pengalaman emosional, maupun persoalan yang disampaikan siswa secara rahasia.
Oleh karena itu, pengelolaan administrasi BK harus membedakan dokumen program yang dapat dibagikan kepada pihak terkait dengan catatan individual yang membutuhkan perlindungan khusus.
Peraturan ini mengatur penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling pada pendidikan dasar dan menengah.
BK diberikan untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik secara optimal, termasuk aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier.
Pasal 10 mengatur rasio satu konselor atau guru BK melayani 150 konseli atau peserta didik pada jenjang SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK.
Rasio tersebut merupakan ketentuan penyelenggaraan layanan, bukan batas maksimal siswa yang boleh meminta bantuan atau alasan menolak layanan kepada siswa lainnya.
Panduan resmi Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan menjelaskan prinsip, strategi, serta contoh perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi BK.
Panduan ini membahas layanan dasar, peminatan dan perencanaan individual, layanan responsif, serta dukungan sistem.
Peraturan tentang Standar Pengelolaan menjadi rujukan dalam menghubungkan program BK dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan pendidikan di sekolah.
Catatan layanan BK yang memuat informasi pribadi siswa harus dikelola secara aman.
Informasi tentang kondisi kesehatan, pengalaman pribadi, atau hal sensitif lainnya memerlukan perlindungan yang sesuai dengan ketentuan hukum.
Sekolah harus membatasi akses berdasarkan kebutuhan dan kewenangan.
Pelayanan BK mencakup empat bidang perkembangan utama.
Bidang Pribadi
Membantu siswa memahami potensi diri, mengenali emosi, membangun kepercayaan diri, dan mengembangkan kemampuan mengambil keputusan.
Bidang Sosial
Mendukung keterampilan komunikasi, kerja sama, empati, penyelesaian konflik, serta hubungan yang sehat dengan orang lain.
Bidang Belajar
Membantu siswa mengembangkan kebiasaan belajar, mengatur waktu, memahami hambatan belajar, dan membangun strategi pembelajaran.
Bidang Karier
Mendukung pengenalan minat, potensi, pilihan pendidikan lanjutan, serta perencanaan masa depan sesuai tahap perkembangan siswa.
Keempat bidang tersebut dapat saling berkaitan.
Misalnya, siswa yang mengalami kesulitan belajar mungkin juga membutuhkan dukungan dalam mengelola emosi atau berkomunikasi dengan guru.
Karena itu, layanan BK perlu melihat kebutuhan peserta didik secara menyeluruh.
Selain empat bidang layanan, guru BK perlu memahami empat komponen penyelenggaraan program.
| Komponen | Tujuan utama | Contoh kegiatan |
|---|---|---|
| Layanan dasar | Mengembangkan kompetensi dan keterampilan seluruh siswa | Bimbingan klasikal tentang strategi belajar |
| Peminatan dan perencanaan individual | Membantu perencanaan perkembangan diri | Pendampingan pilihan pendidikan lanjutan |
| Layanan responsif | Merespons kebutuhan yang memerlukan bantuan | Konseling individual sesuai kebutuhan |
| Dukungan sistem | Mendukung mutu penyelenggaraan BK | Kolaborasi guru, orang tua, dan pengembangan kompetensi |
Keempat komponen tersebut tidak boleh disamakan dengan empat bidang perkembangan.
Sebagai contoh, layanan dasar dapat membahas bidang pribadi, sosial, belajar, maupun karier.
Penyusunan program BK sebaiknya dimulai dengan pemetaan kebutuhan peserta didik.
Guru BK dapat menggunakan angket, observasi, wawancara, diskusi dengan guru, serta informasi pendidikan yang relevan dan diperoleh secara sah.
Asesmen bertujuan memahami kebutuhan, bukan memberi label negatif atau diagnosis kepada siswa.
ANGKET PEMETAAN KEBUTUHAN LAYANAN BK
Nama Sekolah: ....................................
Kelas: ....................................
Periode: ....................................
Petunjuk: Berikan tanggapan sesuai pengalaman belajar dan kebutuhan pendampingan. Angket ini bukan ujian dan tidak digunakan untuk menghukum siswa.
Pilihan jawaban: Sangat Membutuhkan, Membutuhkan, Belum Membutuhkan.
| No. | Pernyataan | Bidang |
|---|---|---|
| 1 | Saya ingin belajar mengatur waktu dengan lebih baik | Belajar |
| 2 | Saya ingin lebih percaya diri menyampaikan pendapat | Pribadi |
| 3 | Saya ingin memahami cara menyelesaikan konflik dengan teman | Sosial |
| 4 | Saya ingin mengetahui pilihan pendidikan setelah lulus | Karier |
| 5 | Saya membutuhkan strategi menghadapi tekanan tugas sekolah | Pribadi dan belajar |
| 6 | Saya ingin meningkatkan keterampilan bekerja sama | Sosial |
Penggunaan identitas siswa pada angket perlu disesuaikan dengan tujuan dan tingkat kerahasiaan yang diperlukan.
Untuk pemetaan program umum, angket anonim dapat dipertimbangkan apabila tidak diperlukan tindak lanjut individual.
Jika angket memuat pertanyaan sensitif, guru harus memastikan metode, tujuan, penyimpanan, dan prosedur tindak lanjut sesuai kompetensi serta perlindungan siswa.
Setelah angket dikumpulkan, guru BK dapat menghitung jumlah siswa yang memilih setiap kebutuhan.
Sebagai contoh, 100 siswa mengikuti pemetaan kebutuhan.
Hasilnya sebagai berikut.
REKAP HASIL ASESMEN BK (SIMULASI)
| Kebutuhan | Jumlah siswa | Persentase |
|---|---|---|
| Manajemen waktu belajar | 65 | 65% |
| Kepercayaan diri | 50 | 50% |
| Komunikasi pertemanan | 45 | 45% |
| Perencanaan pendidikan lanjutan | 60 | 60% |
| Strategi menghadapi tekanan belajar | 40 | 40% |
Setiap siswa dapat memilih lebih dari satu kebutuhan. Karena itu, jumlah persentase pada tabel tidak harus sama dengan 100 persen.
Data tersebut merupakan simulasi.
Dari hasil tersebut, guru BK dapat mempertimbangkan manajemen waktu belajar dan perencanaan pendidikan lanjutan sebagai tema layanan dasar prioritas.
Namun, kebutuhan yang dialami lebih sedikit siswa tidak boleh otomatis diabaikan, terutama jika berkaitan dengan keselamatan atau kebutuhan responsif yang mendesak.
Prioritas ditetapkan berdasarkan hasil asesmen, tahap perkembangan siswa, kebutuhan sekolah, dan urgensi pelayanan.
Pengelola dapat membedakan kebutuhan program untuk seluruh siswa dengan kebutuhan yang memerlukan pendampingan individual.
Sebagai contoh, banyak siswa mengalami kesulitan mengelola waktu belajar.
Guru BK dapat merancang bimbingan klasikal mengenai strategi membuat jadwal belajar dan menentukan prioritas.
Sementara itu, siswa yang meminta pendampingan individual dapat memperoleh layanan sesuai kebutuhan dan kewenangan guru BK.
Sekolah tidak sebaiknya menunggu hasil angket tahunan apabila muncul persoalan keselamatan yang memerlukan penanganan segera.
Program tahunan merupakan rencana umum penyelenggaraan layanan selama satu tahun ajaran.
PROGRAM TAHUNAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Nama Sekolah: SMP Harapan Bangsa (simulasi)
Tahun Ajaran: 2026/2027
Guru BK: ....................................
Sasaran: Peserta didik kelas VII, VIII, dan IX.
| Periode | Fokus program | Komponen |
|---|---|---|
| Juli–Agustus 2026 | Pemetaan kebutuhan dan adaptasi sekolah | Layanan dasar, dukungan sistem |
| September–Oktober 2026 | Kebiasaan belajar dan pengelolaan waktu | Layanan dasar |
| November–Desember 2026 | Komunikasi dan hubungan sosial | Layanan dasar, responsif sesuai kebutuhan |
| Januari–Februari 2027 | Penguatan potensi dan perencanaan diri | Perencanaan individual |
| Maret–April 2027 | Pilihan pendidikan lanjutan | Peminatan dan perencanaan individual |
| Mei–Juni 2027 | Evaluasi, tindak lanjut, dan laporan | Seluruh komponen sesuai kebutuhan |
Jadwal tersebut merupakan contoh internal.
Layanan responsif tetap tersedia ketika dibutuhkan dan tidak hanya diberikan pada bulan tertentu.
Program semester merupakan penjabaran program tahunan menjadi kegiatan yang lebih operasional.
Dokumen dapat memuat nama layanan, tujuan, sasaran, bidang, komponen, metode, waktu, serta indikator evaluasi.
PROGRAM SEMESTER BK
Nama Sekolah: ....................................
Semester: Ganjil 2026/2027
Kegiatan 1
Tema: Mengenal Lingkungan Belajar Baru
Sasaran: Kelas VII
Bidang: Pribadi dan sosial
Komponen: Layanan dasar
Metode: Bimbingan klasikal dan diskusi
Indikator: Siswa dapat mengidentifikasi sumber bantuan yang tersedia di sekolah.
Kegiatan 2
Tema: Manajemen Waktu Belajar
Sasaran: Kelas VII dan VIII
Bidang: Belajar
Komponen: Layanan dasar
Indikator: Siswa mampu menyusun contoh rencana belajar yang realistis.
Kegiatan 3
Tema: Komunikasi dan Pertemanan Sehat
Sasaran: Kelas VIII
Bidang: Sosial
Komponen: Layanan dasar
Indikator: Siswa dapat menjelaskan cara berkomunikasi secara saling menghormati.
Kegiatan 4
Tema: Mengenali Potensi dan Minat
Sasaran: Kelas IX
Bidang: Pribadi dan karier
Komponen: Peminatan dan perencanaan individual
Indikator: Siswa mampu mengidentifikasi beberapa pilihan pendidikan lanjutan yang relevan.
Kegiatan dapat disesuaikan dengan hasil asesmen kebutuhan dan kalender sekolah.
Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) membantu guru BK menyiapkan kegiatan secara sistematis.
RPL berbeda dari RPP atau modul ajar mata pelajaran, meskipun keduanya mempunyai unsur perencanaan yang dapat saling menyerupai.
RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN BK
Nama Sekolah: SMP Harapan Bangsa (simulasi)
Tahun Ajaran: 2026/2027
Kelas: VII
Tema: Manajemen Waktu Belajar
Bidang: Belajar
Komponen: Layanan dasar
Strategi: Bimbingan klasikal
Alokasi Waktu: 1 pertemuan sesuai jadwal sekolah.
Tujuan Layanan
Peserta didik mampu mengidentifikasi kegiatan harian yang perlu diprioritaskan serta menyusun rencana belajar sederhana.
Materi
Pengertian prioritas, pembagian waktu, kebiasaan belajar, dan waktu istirahat.
Langkah Pembukaan
Guru BK mengajak siswa mengidentifikasi kegiatan harian yang sering dilakukan.
Kegiatan Inti
Siswa mendiskusikan contoh jadwal, membedakan kegiatan penting dan mendesak, kemudian menyusun rencana belajar yang realistis.
Penutup
Siswa melakukan refleksi tentang perubahan kecil yang ingin dicoba.
Evaluasi Proses
Memeriksa partisipasi dan keterlibatan siswa sesuai kegiatan.
Evaluasi Hasil
Menilai kemampuan siswa menyusun rencana sederhana berdasarkan kriteria kegiatan, bukan berdasarkan informasi pribadi yang tidak relevan.
Tindak Lanjut
Memberikan dukungan tambahan bagi siswa yang membutuhkan pendampingan.
Format tersebut merupakan contoh operasional. Pelaksanaan perlu disesuaikan dengan karakteristik siswa.
Jadwal diperlukan agar layanan terkoordinasi dengan kegiatan pembelajaran.
Namun, guru BK perlu menyediakan mekanisme layanan responsif ketika terdapat kebutuhan yang mendesak.
Contoh jadwal operasional:
| Hari | Kegiatan utama |
|---|---|
| Senin | Bimbingan klasikal sesuai jadwal |
| Selasa | Konsultasi dan layanan individual terjadwal |
| Rabu | Layanan kelompok sesuai kebutuhan |
| Kamis | Kolaborasi dengan wali kelas dan guru |
| Jumat | Evaluasi program dan administrasi |
Jadwal tersebut hanya ilustrasi dan bukan pembagian hari yang diwajibkan nasional.
Isi layanan individual tidak boleh ditampilkan pada jadwal publik dengan mencantumkan persoalan pribadi siswa.
Jurnal layanan digunakan untuk mencatat kegiatan yang benar-benar dilaksanakan.
JURNAL KEGIATAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Nama Sekolah: ....................................
Guru BK: ....................................
Periode: ....................................
| Tanggal | Jenis Layanan | Sasaran | Tema Umum | Status |
|---|---|---|---|---|
| 03/08/2026 | Bimbingan klasikal | VII-A | Adaptasi sekolah | Terlaksana |
| 10/08/2026 | Bimbingan klasikal | VII-B | Kebiasaan belajar | Terlaksana |
| 12/08/2026 | Konsultasi | Terbatas | Tidak dicantumkan secara terbuka | Terlaksana |
Jurnal umum cukup mencatat informasi administratif yang diperlukan.
Detail masalah, pernyataan siswa, dan catatan sesi konseling tidak boleh dimasukkan ke jurnal bersama yang dapat diakses banyak pihak.
Baca Juga: Panduan Menyusun RKS, RKJM, dan RKT Sekolah, Lengkap dengan Contoh Format dan Evaluasi Program
Layanan konseling individual membutuhkan pencatatan administratif dan dokumentasi profesional yang sesuai.
Dokumen tersebut harus dikelola dengan sangat hati-hati karena dapat memuat informasi sensitif mengenai siswa.
REGISTER LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL
Nomor Layanan: ....................................
Kode Konseli: ....................................
Tanggal Layanan: ....................................
Guru BK/Konselor: ....................................
Jenis Layanan: Konseling Individual
Status: Terlaksana / Dijadwalkan Ulang / Memerlukan Tindak Lanjut
Tanggal Tindak Lanjut jika Ada: ....................................
Lokasi Penyimpanan Catatan Profesional: ....................................
Akses: Terbatas bagi pihak berwenang.
Register tersebut tidak memuat kronologi pribadi atau isi pembicaraan konseling.
Catatan sesi profesional disimpan secara terpisah dengan akses terbatas.
Guru BK perlu menerangkan kerahasiaan layanan dan batas-batasnya kepada siswa, termasuk keadaan ketika pengungkapan informasi tertentu diperlukan demi perlindungan keselamatan atau kewajiban hukum.
Kerahasiaan bukan berarti menutup informasi mengenai ancaman serius terhadap keselamatan anak dari mekanisme perlindungan yang semestinya.
Layanan responsif diberikan untuk membantu kebutuhan yang memerlukan penanganan lebih cepat.
Contohnya siswa yang meminta bantuan menghadapi konflik pertemanan, tekanan belajar, atau persoalan penyesuaian diri.
Langkah awal dapat meliputi penerimaan permintaan bantuan, pemeriksaan kebutuhan, penentuan layanan yang sesuai, dan tindak lanjut.
Apabila terdapat indikasi risiko serius, kekerasan, atau masalah yang membutuhkan layanan di luar kompetensi guru BK, sekolah perlu menjalankan prosedur perlindungan dan rujukan kepada profesional atau instansi yang berwenang.
Guru BK tidak sebaiknya memberikan diagnosis medis atau psikologis apabila tidak memiliki kewenangan profesional untuk melakukannya.
Demikian pula, siswa tidak boleh dipaksa menceritakan pengalaman pribadi di hadapan teman sekelas.
Baca Juga: PISA 2025 Ungkap 24 Persen Siswa Indonesia Alami Perundungan, Lebih Tinggi dari Rata-Rata OECD
Keberhasilan program BK membutuhkan kerja sama antara guru BK, kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran, orang tua, dan mitra profesional sesuai kebutuhan.
Namun, kolaborasi tidak berarti seluruh informasi pribadi siswa harus dibagikan.
Dalam koordinasi kegiatan, guru BK dapat menyampaikan kebutuhan dukungan yang relevan tanpa mengungkap detail sesi konseling yang tidak diperlukan.
FORMULIR KOORDINASI LAYANAN BK
Nomor Koordinasi: ....................................
Tanggal: ....................................
Pihak yang Berkoordinasi: ....................................
Tujuan: ....................................
Topik Umum: ....................................
Dukungan yang Dibutuhkan: ....................................
Tindak Lanjut: ....................................
Penanggung Jawab: ....................................
Batas Penyelesaian: ....................................
Informasi Rahasia: Disimpan terpisah jika diperlukan dan dibagikan hanya sesuai dasar yang sah.
Evaluasi program perlu membedakan hasil pelaksanaan kegiatan dengan perubahan atau manfaat yang dialami siswa.
Misalnya, guru BK merencanakan 20 sesi bimbingan klasikal selama satu semester.
Sebanyak 18 sesi terlaksana, sedangkan dua sesi dijadwalkan ulang.
Persentase keterlaksanaan:
18 ÷ 20 × 100% = 90%.
Angka tersebut menunjukkan keterlaksanaan layanan yang direncanakan, tetapi tidak otomatis berarti 90 persen masalah siswa telah terselesaikan.
Untuk mengevaluasi kualitas layanan, guru BK dapat menggunakan refleksi peserta, penilaian ketercapaian tujuan, observasi yang relevan, serta evaluasi tindak lanjut.
Penilaian harus berfokus pada perkembangan dan manfaat, bukan hanya jumlah siswa yang pernah mengikuti layanan.
Laporan bulanan dapat membantu guru BK memantau kegiatan dan menyampaikan informasi program kepada kepala sekolah.
LAPORAN PELAKSANAAN LAYANAN BK
Nama Sekolah: SMP Harapan Bangsa (simulasi)
Periode: Oktober 2026
Guru BK: ....................................
| Jenis kegiatan | Direncanakan | Terlaksana |
|---|---|---|
| Bimbingan klasikal | 8 | 7 |
| Bimbingan kelompok | 3 | 3 |
| Kegiatan perencanaan individual | 4 | 4 |
| Kolaborasi dan dukungan sistem | 3 | 2 |
| Total | 18 | 16 |
Persentase keterlaksanaan kegiatan terjadwal:
16 ÷ 18 × 100% = 88,89%.
Layanan responsif yang muncul sesuai kebutuhan selama periode tersebut dapat dicatat dalam rekap tersendiri dengan tetap melindungi kerahasiaan konseli.
Hasil Evaluasi: Sebagian besar kegiatan terjadwal terlaksana. Dua kegiatan membutuhkan penjadwalan ulang.
Rekomendasi: Meningkatkan koordinasi jadwal dengan guru dan wali kelas serta meninjau kebutuhan layanan berikutnya.
Data tersebut merupakan simulasi.
Laporan kepada kepala sekolah dapat menyampaikan capaian program, kebutuhan dukungan, kendala, dan rekomendasi tanpa membuka detail pribadi konseli yang tidak diperlukan.
Laporan tahunan memberikan gambaran keseluruhan pelaksanaan program BK.
Dokumen dapat mencakup hasil asesmen kebutuhan, program yang terlaksana, evaluasi layanan, kolaborasi, serta rekomendasi tahun berikutnya.
CONTOH FORMAT LAPORAN TAHUNAN BK
Nama Sekolah: ....................................
Tahun Ajaran: ....................................
Guru BK: ....................................
A. Pendahuluan
Menjelaskan tujuan serta ruang lingkup pelaksanaan layanan.
B. Dasar Program
Memuat pedoman resmi, hasil asesmen, dan perencanaan sekolah.
C. Profil Kebutuhan Siswa
Memuat hasil pemetaan secara agregat.
D. Pelaksanaan Layanan
Memuat rekap layanan dasar, perencanaan individual, responsif, dan dukungan sistem.
E. Evaluasi
Memuat hasil penilaian proses, hasil, dan tindak lanjut program.
F. Kendala
Menjelaskan keterbatasan sarana, penjadwalan, kapasitas layanan, atau kebutuhan koordinasi.
G. Rekomendasi
Memuat prioritas perbaikan program.
H. Pengesahan
Guru BK: ....................................
Koordinator BK jika Ada: ....................................
Kepala Sekolah: ....................................
Catatan konseling individual tidak dilampirkan secara terbuka dalam laporan tahunan.
Untuk membangun alur yang konsisten, sekolah dapat menggunakan prosedur berikut.
Tahap 1 – Pemetaan Kebutuhan
Guru BK mengumpulkan informasi melalui instrumen yang sesuai dan metode yang sah.
Tahap 2 – Analisis
Data dikelompokkan untuk menentukan kebutuhan layanan umum dan individual.
Tahap 3 – Penyusunan Program
Guru BK menyusun program tahunan serta program semester.
Tahap 4 – Penyiapan Layanan
RPL dan kebutuhan fasilitas disiapkan.
Tahap 5 – Pelaksanaan
Layanan dilakukan sesuai kompetensi dan kebutuhan peserta didik.
Tahap 6 – Pencatatan
Jurnal umum dan dokumentasi profesional dicatat secara terpisah sesuai tingkat kerahasiaan.
Tahap 7 – Kolaborasi
Koordinasi dengan pihak lain dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kewenangan.
Tahap 8 – Tindak Lanjut
Siswa memperoleh dukungan lanjutan atau rujukan apabila diperlukan.
Tahap 9 – Evaluasi
Guru BK memeriksa keterlaksanaan dan manfaat layanan.
Tahap 10 – Pelaporan
Laporan program disampaikan secara proporsional dengan perlindungan data siswa.
Tahap 11 – Pengarsipan
Dokumen disimpan secara aman dan aksesnya dibatasi.
Tahap 12 – Perbaikan
Hasil evaluasi digunakan untuk menyusun program berikutnya.
BERITA ACARA EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
Nomor: ....................................
Nama Sekolah: ....................................
Tahun Ajaran: ....................................
Periode Evaluasi: ....................................
Tanggal: ....................................
A. Dokumen yang Diperiksa
B.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir